Wahai Guru, Kau Panutanku!

Berbicara tentang anak murid tidak akan terlepas dari seorang Guru bersamanya, dan bagaimana seorang guru berinteraksi dengan muridnya. Sangat penting peran guru di sekolah walaupun sebenarnya yang menjadi guru itu bukan hanya yang ada di sekolah, semua yang berada di ruang lingkup si anak adalah guru bagi si anak. Guru itu akan menjadi panutan dan akan di ikuti oleh si anak setiap gerak geriknya. Sebenarnya jadi guru itu rasanya asam manis, jadinya seger…

Jadi guru itu harus ekstra semangat, semangat ini harus di pupuk sebelum kita bertemu anak-anak. Dari mulai kita keluar rumah melangkahkan kaki sampai tiba di sekolah, pancangkan semangat. Jangan pernah meremehkan anak-anak, karena mereka semangatnya bisa melampaui semangat kita karenanya butuh ekstra semagat yang di simpan di dalam kantong, kalo kita merasa semangatnya turun, cepat-cepat keluarkan yang di dalam kantong kita (istilah saya untuk selalu menyemangati diri). Pagi ketika datang, aku akan disambut dengan aktifitas rutin mereka piket, kemudian mereka akan meminta izin untuk bermain bola (berhubung anak-anak muridku dominasi laki-laki), dengan berpeluh mereka akan menghampiri dengan membawa Al Qur’an dan mengantri. Setelahnya mereka akan minta izin untuk naik pohon jambu. Wahhhh…bagaimana tidak kita harus selalu ekstra semangat di kantong, itu aktifitas sebelum buka kelas loh.

Jadi guru itu harus ekstra sabar, semangat sudah punya sekarang sabar. Katanya sabar itu tak berbatas, tapi kenapa masih sering terbawa emosi? Guru membawa emosi ketika bersama anak. Ini yang kerap terjadi, anak-anak itu berbagai macam pola dan tingkah lakunya. Ada saja yang akan membuat guru narik napas panjang, ada lagi yang sampai membuat guru mengeluarkan nada suara tinggi (Ini aku sering melakukannya). Tapi harus selalu di sadari bahwa emosi seorang guru harus selalu dikontrol jangan sampai menjadi hal yang sangat tidak baik. Anak-anak muridku sangat paham sekali, kenapa bu gurunya sampai bersuara tinggi (biasanya mereka di atas pohon jambu terus gak turun-turun), dan jika sudah begini mereka akan membawakan bauh jambu terbaik untuk Ibu Gurunya ini.

Jadi guru itu harus mengesampingkan emosi pribadi, emmm…pagi-pagi jalan macet, sopir angkot ugal-ugalan, sampai di sekolah kesiangan (Bagaimanalah suasana hati?) Rasanya, ingin semua orang tau cerita lelah pagi itu. Untuk seorang guru, tak ada istilah curhat dengan anak-anak tentang kesusahan hatinya. Jangan sampai mereka tahu kita sedang susah, berusahalah menenangkan diri, bermuka manis, selalu terlihat penuh kebahagiaan. Anak-anak jangan diberikan beban dengan masalah guru. Ini lah guru harus benar-benar mengsampinkan emosi pribadi ketika dihadapan anak. Jika ini terjadi alhasil sepanjang hari suasana kita dan anak-anak akan selalu bersitegang, anak-anak akan takut, karena guru mengawali dengan wajah masam, jutek, ngomong ketus sambil terlontar ucapan “Bu guru in lagi capek, ngerti gak kamu!!!” (kalau yang ini, alhamdulillah saya tidak pernah, jangan sampai lah).

Jadi guru itu harus rela berkorban, berkorban tenaga,pikiran dan waktu. Jika ingin dibandingkan mungkin penghasilan guru tak sebanding dengan penghasilan karyawan apalagi jika itu guru honor, terlepas dari penghasilan. Seorang guru yang memang sejatinya ingin menjadikan anak bangsa lebih baik tak akan mempersoalkan penghasilan, dia akan rela berkorban tenaga,waktu dan pikiran untuk mengajar. Banyak sekali dijumpai guru-guru seperti ini, salut untuk mereka yang berjuang mengajar sampai ke pelosok negeri demi cita-cita mulia.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply