Uwais Al Qarny di Tepi Sungai Musi Part 2

 

Pesan Abuya, “Ilmu itu dekat sama orang yang berani, Mad. Kau anak yang berani, kan? Nanti kau duduk paling depan. Kau harus berani bertanya dan menjawab.”
.
Saya teringat pada suatu hari saya diberi kesempatan untuk mengisi hikmah isra mi’raj di sekolah, ketika kemudian kepala sekolah saya mengatakan bahwa saya berbakat untuk masuk pesantren. Kala itu ibu saya tak memberikan respon, sebab baginya saya harus mengikuti jejak ke mana kakak saya bersekolah.
.
Saya ingin masuk pesantren ketika itu, tetapi di dalam hati saya tak ada keberanian untuk memalingkan jalur yang telah direncanakan ibu saya. Tadi malam, hati saya menangis mendengar nasihat Ustaz Attar kepada Ramadhan.
.
“Ingat ridha Allah ada pada ridha orang tua, kalau engkau sudah dapat ridha yang keluar dari lisannya maka seolah-olah langit itu terbuka, Nak. Arsy bergoncang dan para malaikat mengaminkan doamu.”
.
Ramadhan yang merasa gundah dengan pilihan yang ingin diraihnya mungkin sama dengan yang saya rasakan ketika setelah melepas toga dan jubah almamater, saya minta izin kepada Ibu untuk masuk pesantren. Ibu saya masih menaruh harapan untuk saya menempuh jalur yang dirangkainya untuk perjalanan hidup saya, tetapi saya memilih jalur takdir saya. Saya masuk pesantren bertepatan dengan kejadian tsunami di Jogja dan sekitarnya pada tahun 2006 silam.
.
Saya tersayat oleh perkataan Ustaz Attar selanjutnya, “Seumur hidupku Allah tidak pernah luput memberikan rezeki kepadaku. Hingga suatu saat beberapa tahun yang lalu Allah menghadirkan ujuan bagiku berupa gagal ginjal. Tetapi subhanallah, Allah hadirkan seseorang yang mau mendonorkan ginjalnya kepadaku. Abuya bisa bertahan hidup dengan satu ginjal. Tetapi sekarang penyakit lain mendatangiku. Tubuhku mengkhianatku, Nak. Kau tahu kenapa? Karena aku mengkhianati tubuhku. Aku menzalimi tubuhku. Kumakan yang kumau. Apa yang enak di lidah kumakan. Sampai akhirnya tubuhku protes dan membalas balik diriku. Itulah sunnatullah, Nak. Apa yang kita lakukan akan berbalik kepada diri kita sendiri. camkan itu, Nak, sebelum kau berbuat kejahatan kepada siapapun, terlebih lagi kepada ayah dan ibumu.”
.
Saya merasa berdosa pada orang tua saya. Betapa saya memilih untuk hidup saya ketika mereka kemudian menyadari bahwa saya telah dewasa. Saya kini khawatir, ketika itu di hati Ibu tergores segaris sembilu karena keputusan saya.
“Kau tahu siapa pemegang kunci surga? Orang tua. Orang tua yang seperti apa? Orang tua yang mendekatkan kita kepada Allah. Ayahmu ibumu adalah orang-orang yang sangat berjasa kepadamu. Seorang ibu berani mati demi sepuluh orang anaknya, tetapi sepuluh orang anak belum tentu berani mati demi seorang ibunya. Seorang ayah bselalu siap untuk berjuang membahagiakan sepuluh orang anaknya, tetapi sepuluh orang anak belum tentu bisa berjuang membahagiakan seorang ayahnya.”
.
Saya ingin pulang. Saya tidak bisa menunggu hingga semester ini berakhir dan liburan panjang tiba. Saya ingin mencium kedua telapak tangan ibu saya. Tangan yang dulu telah banyak memberikan sentuhan kasih sayang kepada saya hingga saat ini. Saya ingat cerita seorang ustaz pada suatu pengajian yang saya hadiri. Beliau menceritakan tentang apa yang dialaminya. Bertemu seorang ibu yang membawa sekardus rokok ke kantor polisi. Beliau bertanya, “Untuk apa, Bu?” Ibu tua itu menjawab dengan dialeknya, “Saya mau menjenguk anak saya di sel. Saya dengar kita harus ngasih sesuatu untuk yang jaga bila mau bertemu dengannya.” Bahkan seorang ibu tetaplah menyayangi anaknya ketika orang-orang mengecap anak itu sebagai sampah masyarakat.
.
Sungguh, menelusuri film ini, membuat perasaan saya terus tergugah hingga akhir cerita. Pantas menjadi sebuah renungan bagi saya dan Anda yang tinggal jauh dari orang tua apa yang dikatakan Nayla, “Bagaimana rasanya mencintai seorang ibu seperti cinta Uwais Al Qarny kepada ibunya? Aku rindu sekali dengan ibuku. Bahkan kalau bisa aku meminta untuk satu menit saja ibuku dihidupkan, aku ingin menciumnya, memeluknya, atau hanya mengatakan kepadanya bahwa aku mencintainya.”
.
Sekian
.
Kendari, 20 Januari 2018

Tags:
author

Author: