Uwais Al Qarny di Tepi Sungai Musi

Ini kisah tentang surga. Surga yang bisa digapai dengan jemari. Tapi, mengapa kita sibuk mengejar yang jauh?’
.
Hari ke enam.
.
Berbeda dengan malam-malam sebelumnya, tadi malam pada pukul 21. 00 saya mengalah pada kantuk. Tidur lebih awal ternyata membuat saya terjaga juga lebih awal. Membuka ponsel—jam dinding di rumah sedang bermasalh, mungkin karena barang murah—dan mendapati jam digital menampilkan pukul 01.49 WITA.
.
Setelah beberapa kegiatan ringan, saya duduk di depan laptop. Membuka file berisi film-film yang saya unduh beberapa bulan sebelumnya. Saya memilih sebuah film yang pernah membuat saya menangis karenanya. Kata orang, tangis lelaki itu air mata buaya, benar, ya? Mengapa lelaki disamakan dengan buaya, sih? (emoji protes) Yang mengatakan hal ini kudu diajak berpikir bahwa yang melahirkan para lelaki itu adalah wanita, bukan induk buaya. (lupakan!)
Saya menyorotkan kursor ke file itu. Langsung ada tampilan begini, ‘Ini kisah tentang surga. Surga yang bisa digapai dengan jemari. Tapi, mengapa kita sibuk mengejar yang jauh?’
.
Saya selalu suka dengan film yang diberikan narasi-narasi bagus sebagai pengantar. Sangat terasa bagi saya bahwa kita—para penonton—diajak untuk berpikir, tidak sekadar menikmati tontonan dan menghayati ‘rasa’nya.
Saya duduk diam. Tak ada yang dilakukan selain diam. Kisah itu mengalir, bersama keharuan demi keharuan yang menampar-nampar dinding hati saya. Keharuan yang melahirkan kerinduan. Ya, sudah lima belas tahun, sejak saya meninggalkan rumah untuk menuntut ilmu, bekerja, dan kemudian menikah. Terhitung dengan jari setelahnya kebersamaan saya dengan Bapak dan Ibu di rumah.
.
Tiba-tiba saya mendengar suara salawat di masjid kompleks, sadar saya telah kehilangan waktu menulis yang sudah saya niatkan setelah terjaga tadi. Saya harus salat subuh dan ritual lainnya, melakukan aktivitas pagi sebagaimana biasa, dan bersiap-siap ke sekolah. Mungkin saya tidak lagi memiliki waktu yang cukup untuk menggoreskan kata-kata sebelum Pkl 10.00 WITA nanti.
Baiklah, saya tetap berbagi keharuan ini. keharuan sisa semalam yang masih melekati dinding hati saya setelah menonton film tentang seorang anak tepi sungai Musi bernama Ramadhan.
.
Suatu hari di tahun 2004, ketika guru ngajinya berkata pada murid-muridnya, “Sebelum kita mulai mengaji, agar suasananya lebih khusyuk, kita dengarkan ceramah dari seseorang yang istimewa. Ramadhan, maju kau.”
Maka Ramadhan memenuhi permintaan gurunya. Di depan teman-temannya, setelah sebelumnya merasa keren dengan sebutan ustaz dari sang guru, dengan suara bergetar dia memulai ceritanya. Cerita tentang seorang anak yang berbakti kepada ibunya, Uwais Al Qarny.
.
“Uwais Al Qarny mengatur nafasnya yang terengah-engah. Ibunya ada di punggungnya.
.
‘Turunkan aku,’ kata ibunya untuk ke sekian kalinya. Uwais menggeleng. Ia telah membulatkan tekad, ‘Sedikit lagi. Sedikit lagi tawaf ini akan kuselesaikan.’
Apakah kalian tahu siapa Uwais Al-Qarny? Uwais adalah seseorang yang sangat dicintai Rasul. Mengapa? Karena ia sangat mencintai ibunya. Ia gendong ibunya sampai kulitnya melepuh dan mengelupas. Sesampainya di Mekah, Uwais Al-Qarny bertemu dengan Abdullah Bin Umar. Abdullah Bin Umar adalah sahabat Rasul. Uwais Al-Qarny bertanya, ‘Wahai Abdullah yang mulia, aku gendong ibuku (berjalan) ratusan kilometer agar beliau bisa berhaji, apakah akan terhapus dosa-dosaku? Apakah akan terbalas seluruh jasa ibuku.’ Dan kalian tahu apa jawaban Abdullah Bin Umar? Abdullah menangis saat beliau menjawab, ‘Wahai sahabatku Uwais, jangankan dosamu, dosaku saja masih berderet-deret. Bahkan jika kau gendong ibumu mengitari Ka’bah dank au gendong lagi beliau pulang ke Yaman, tak setetes pun darah beliau ketika melahirkanmu akan bisa kau balas. Tidak setetes pun.’
.
Ramadhan adalah anak lelaki dengan sifat-sifat alaminya. Bila diejek temannya, dia akan mengajak pengganggunya itu untuk berkelahi. Hingga Abuya memutuskan bahwa Ramadhan lebih baik belajar di pesantren.
(Bersambung)

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply