Tulisan Tak Lekang oleh Waktu

Menulis itu mudah, begitulah pesan yang disampaikan oleh Arswendo Atmowiloto dalam sebuah buku. Apabila kita renungkan, memang benar adanya, bahwa menulis memang mudah. Jika dahulu kita menulis di buku harian tentang apapun, maka di era digital ini, kita dimanjakan oleh banyak sekali media yang bisa kita gunakan untuk menulis. Bahkan ada yang hampir setiap menit seseorng bisa menulis sesuatu diakun-akun media sosial mereka. Disadari atau tidak, terlepas dari berguna atau tidaknya apa yang kita tulis, sebenarnya kita memang sangat gemar untuk menulis. Dari kegemaran ini, seharusnya kita bisa memposisikan diri kita untuk menjadi penulis.

Mengapa harus menulis?

Tulisan dari zaman pra sejarah seklipun sebenarnya sudah menjadi bahasa (alat komunikasi) manusia selain secara lisan (berbicara). Lukisan-lukisan di dinding-dinding goa yang dibuat oleh manusia pra sejarah sebenarnya juga merupakan sebuah tulisan (pesan) yang mereka gunakan untuk orang lain yang mungkin akan datang ke tempat tersebut suatu saat atau mungkin juga akan disampaikan kepada anak-cucu mereka yang tidak bisa disampaikan secara lisan. Jika segala sesuatu disampaikan secara lisan, maka dikhawatirkan akan banyak dilupakan, tetapi dengan tulisan aka akan mudah dipelajri dan diingat. Ada beberapa hal yang mendasari mengapa kita harus menulis atau menjadi seorang penulis, antara lain:

Setiap yang Bernyawa Pasti Mati

Mati merupakan takdir yang tidak bisa kita hindari. Sudah menjadi ketetapan Allah, semua yang bernyawa akan mati. Hal ini menjadi alasan utama mengapa seseorang seharusnya menulis. Manusia yang baik tentunya memiliki keinginan untuk memberikan dan mengajarkan nilai-nilai kepada anak cucu mereka. Nilai-nilai yang hendak diajarkan ini terkadang belum sempat disampaikan saat ajal menjemput. Seperti pepatah mengatakan Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan nama. Nama yang dimaksud disini tentunya sesuatu yang sangat berharga bagi orng lain yang ditimbulkan dari perilakunya selam masih hidup. Ketika kita sudah tiada, jasad kita tidak lagi ada di dunia ini, akan tetapi jika kita menulis maka kita seolah masih hidup sampai kapanpun melalui tulisan-tulisan yang kita buat. Hal ini sependapat dengan Pramoedya Ananta bahwa dengan menulis kita akan abadi.

Tulisan Tak Lekang oleh Waktu

Tulisan merupakan bahasa keabadian, tulisan yang kita buat akan selalu ada selama manusia masih ada. Terlebih di era digital ini, semua tulisan yang pernah kita tulis bisa dicari dan ditemukan kembali. Hal ini menguntungkan bagi kita untuk menulis sesuatu yang baik-aik dan berguna, karena bagaimanapun apa yang kita tulis melalui jari jemari kita akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah. tulisan yang kita tulis hendaknya merupakan sesuatu yang berguna, minimal bagi keluarga kita. Sesuatu yang buruk jangan ditulis, karena tulisan tak lekang oleh waktu.

Naluri Alamiah Manusia menjadi Penulis

Kita tentu sangatmaklum dengan seorang bayi yang mulai tumbuh menjadi anak-anak, mereka akan sangat suka sekali memegang sesuatu untuk kemudian digoreskan ke dinding atau kemanapun sesuka hati mereka. Hal ini sebenarnya menunjukkan bahwa sebenarnya kita semenjak dini memiliki naluri untuk menjadi seorang penulis.

Berdasarkan beberapa alasan tersebut diatas, wajar jika kita saat ini harus mulai untuk belajar menjadi seorang penulis yang baik. Penulis yang baik yaitu mereka yang menulis untuk kebaikan (kemashlahatan) hidup orang banyak. Penulis yang baik tidak memiliki keinginan untuk menjadi terkenal atau biar dikenal oleh orang banyak melalui tulisannya. Tetapi mereka yang dengan ikhlas menulis dan tulisan mereka bisa dimanfaatkan orang lain di masanya dan sesudahnya. Ada beberapa hal agar kita bisa menjadi penulis yang baik, antara lain:

Banyak Membaca

Menulis dan membaca merupakan satu korelasi. Orang yang akan menuli harus rajin membaca. Membaca merupakan perintah pertama yang diwahyukan Allah kepada Nabi Muhammad. Nabi Muhammad merupakan seorang yang tidak bisa baca tulis, tetapi waktu itu diperintahan untuk membaca. Lalu apa yang dibaca? Kitab Taurat, Zabur, Injil? ternyata bukan. Wahyu itu memerintahkan agar Nabi Muhammad membaca keadaan disekitarnya, sistem kehidupan, dan perilaku masyarakat waktu itu. Sehingga,membaca bukan hanya melulu pada memandang sebuah buku, artikel, dan lain-lain, tetapi lebih kepada bagaimana kita bisa mengambil suatu ibrah (pelajaran) dari suatu kejadian yang ada dn atau pernah terjadi disekitar kita. Orang yang rajin membaca pati akan memiliki kualitas tulisan yang baik. Maka dari itu, mulailah membaca untuk bisa menjadi penulis!

Istiqomah (Tekun)

Segala kegiatan membutuhkan keistiqomahan. Menulis juga membutuhkan keistiqomahan dri pelakunya. Kita tentu banyak mendengar banyak orang tidak lulus kuliah karena malas untuk menyelesikan skripsinya, atau banyak blog yang menganggur ditinggal pemiliknya karena pemiliknya sudah tidak sempat untuk menulis di blog yang mereka buat sendiri. Istiqomahlah dalam menulis, seberapapun orang yang suka atau mau menerima tulisan kita. Istiqomah merupakan kunci untuk kita mencapai tujuan dari tulisan yang kita buat. Teruslah menulis dn terulah berkarya!

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply