Tulisan Sebagai Jejak Hidup

Ketika duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, Papaku membelikan kami, anak-anaknya, masing-masing sebuah buku diari. Buku berukuran kurang lebih 12 x 17 cm dengan cover berwarna coklat itu wajib kami isi setiap harinya.

Pada malam hari seusai makan malam pada acara santai obrolan keluarga, papa akan memeriksa satu persatu diari kami. Semua mendapatkan apresiasi, ketika kami menulis, walaupun hanya dengan satu atau dua baris kalimat, dan juga, akan ada teguran jika kami lalai atau lupa mengisi diari itu. Saat itu, manfaat menuliskan pengalaman harian dalam sebuah buku belum dapat aku pahami. Dua belas tahun kemudian, tanpa disengaja aku menemukan buku diari itu. Ketika membaca kembali apa yang pernah aku tulis, ada perasaan indah yang tidak bisa dilukiskan. Betapa polos dan lugunya cerita yang tertulis. Setiap kata menggambarkan keadaan alam pikirku pada saat itu, terasa seperti masa kecil bertutur kembali padaku. Aku sempat tak percaya itu adalah salah satu pengalaman yang pernah kulalui. Aku menemukan kesadaran, yes menulis itu asyik!.

Mengapa menulis?

Dalam konteks sederhana, ketika menemukan kembali buku diari yang pernah kutulis saat masih kecil, aku menemukan berbagai pengalamanku, seakan peristiwa yang kuceritakan di buku diari itu menjadi sebuah film yang diputar kembali. Aku pun berkesempatan untuk mempelajari perkembangan alam rasa dan pikiranku, yang mungkin tak mampu kuingat tanpa bantuan dari tulisan yang pernah kubuat. Aku memahami sejarahku sebagai sebuah pribadi, bagaimana aku memaknai orang-orang terdekatku, lingkunganku, melalui hal-hal keseharian yang aku alami. Aku belajar mengenali diriku sendiri.

Jika pengalaman masa kecil dengan buku diari memberikan pemahaman kepadaku tentang bagaimana mengenali diri sendiri melalui menulis, seiring waktu, lingkungan pendidikan, sosial dan pertemanan yang aku lalui, aku menemukan bahwa menulis adalah sarana yang sangat mumpuni untuk menyebarkan ide dan gagasan, yang kesemuanya adalah bibit bibit dari apa yang kita sebut ilmu pengetahuan. Hebatnya, penyebaran ide dan gagasan ini bersifat ‘abadi’, melintas generasi, hidup dalam setiap zaman.  Ya, zaman dapat berganti, tapi tulisan telah menjadi media untuk kita dapat belajar tentang apapun di setiap sudut di muka bumi ini, generasi ke generasi. Selama masih ada orang-orang yang bersedia mengikhlasikan dirinya berbagi melalui tulisan, maka kita akan selalu memiliki kesempatan untuk mengenal sejauh yang kita inginkan, tentang dunia dan seisinya.

Ibarat makanan, ada makanan yang bergizi, ada pula makanan yang hanya menghasilkan sampah dan penyakit bagi tubuh kita, demikian juga dengan tulisan. Pertanyaan selanjutnya bagi setiap orang yang ingin menjadi penulis adalah, ide dan agasan apa yang ingin dibagi, dikenang dan ‘abadi’ melintasi zaman? Asupan yang bergizi dan bermanfaat bagi jiwa setiap pembaca? Atau sebailknya? Menjadikan tulisan sebagai bagian dari inspirasi yang mencerahkan, memberdayakan, mengokohkan kebaikan dan kebenaran? Atau sebaliknya? Pilihan ada pada kita, yang sudah menyediakan dan mengikhlaskan diri menjadi penulis. Jejak apa yang ingin kita tinggalkan melalui tulisan? Jejak kebaikan atau keburukan? Jejak kebenaran atau kebohongan? Jejak manfaat atau kesia-sia an?

“Menulis itu amanah”. Saya sangat terkesan dengan pendapat seorang sahabat yang menyebut dirinya ‘Langit’ dalam sesi berbagi pendapat dalam sebuah komunitas menulis dimana saya bergabung baru-baru ini. Sebagaimana hidup kita adalah amanah dari Yang Maha Hidup, maka setiap rangaian perbuatan kita selama hidup sesungguhnya adalah aktualisasi dari amanah tersebut. Rasulullah, Nabi Besar kita Muhammad S.A.W mengatakan, sebaik-baiknya umat, adalah yang mampu menebar manfaat bagi orang lain. Mari mengekalkan manfaat kebaikan melalui tulisan tulisan yang kita lahirkan. Melalui tulisan, mari menjadi bagian dari yang membangun peradaban bukan yang menghancurkannya. Mari, semoga. Yuk, menulis!.

Oleh:

Ivy Erli Desca

KMO 08B, Kelompok 8

Rate this article!
Tags:
author

Author: