TO : DEAR GARUDA

TO : DEAR GARUDA

Final call? No, not final call. Itu adalah message terakhir yang aku terima sehingga akhirnya aku memutuskan, “Dian, tolong carikan saya tiket”. Empat jam dibutuhkan waktu untuk sampai kepada statement itu, di tengah kondisi sulitnya mendapatkan.tiket pesawat ke Banjarmasin.

Pesan pertama datang dari rekan satu bagianku, melalui Telegram, yang tak sempat kubaca karena aku sedang rapat. Itu tengah hari lewat sedikit. Penejalasan dari rekanku itu, setelah aku kembali ke kantor, membuat aku bertanya, mengapa harus mendadak. Pukul setengah tiga, sekarang.

Info kedua dari rekan kerja di Bagian HR, membuat aku bertanya “Siapa harus memberi komando pada siapa”. Aku bukan bagian dari tim monitoring tersebut.

Hampir pukul tiga sore, sekarang. Aku tak tergerak memesan tiket. Tambah lagi rasanya hari itu waktu berjalan cepat. Jadwal pelatihan yang dirancang bersama rekan kerja satu divisi, masih belum fixed. Presentasi anggota timku, sebagai bahan ajar di pelatihan itu, belum seluruhnya kuperiksa. Banjarmasin? Aku belum pernah ke sana. Ada sedikit curiousity, tetapi malasku lebih banyak, gara gara “Namaku tak ada di SK Tim. Tambah lagi siapa yang sebenarnya memberikan instruksi?”

Info terakhir dari atasanku langsung, barulah membuatku tak bisa menawar. Sekarang hampir pukul lima sore.

“Bu, sudah sold out”, Dian memberitahuku. Itu hasil pencariannya, pada beberapa situs pencarian tiket.

“Coba langsung ke masing-masing site”, kataku menghibur diriku (dan kurasa dirinya juga, atas kekhawatirannya, aku belum juga dapat tiket).

“Nah ini ada Bu. Lewat Jakarta”.

Aku tak bisa memilih sekarang, lewat Bandung atau Jakarta. Jakarta? Lima jam, atau enam, atau …? Aku pasrah.

“Eh, sudah hilang Bu”. Dian tiba-tiba mengingatkanku yang sedang mengacak-ngacak surat di mejaku. Ya, search engine tiket itu bisa saja datanya hilang dalam hitungan detik. Terlambat meng-klik sekian detik maka habislah tiket. Kesimpulan sampai dengan adzan.maghrib: baru satu tiket pulang yang didapat Dian. Batas waktu pembayaran adalah sampai pukul 19.30. Kalau tidak ada tiket pergi, tiket pulang itu tak ada gunanya.

Aku sholat maghrib dengan menghiba sepenuhnya kepada Allah. Masalah di Banjarmasin memanglah masalah sesuai fungsiku. Anggota timku sudah ditunjuk mengatasi itu. Namun, pengawas tim, tidak bisa berangkat. Akhirnya aku yang ditunjuk, dadakan. “Ya Allah, jika kepergian ini baik untukku, maka mudahkan aku mendapat tiket itu”.

Mas Aan adalah salah satu pegawai di Divisi Keuangan yang sering jadi tumpuan kami jika mencari tiket. Dia pengusaha travel. Ke ruangannya lah aku menuju. Ini pilihan terakhir. Dengan “power” yang dia punya, akhirnya aku mendapatkan tiket Garuda. Apa boleh buat kelasnya kelas bisnis, kelas untuk Direktur perusahaanku. Aku hanya bisa terpana membaca rupiah di e-ticket.

Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta. Gedung itu kelihatan cling sejak pertama aku menginjakkan kaki di lantainya. Jelas lantai itu mengilat. Memasuki pintu utama, aku tidak berdesakan atau bahkan bersenggolan dengan calon penumpang lain. Pintu itu lebar. Aku melewati x-ray pertama dengan santai. Selanjutnya segala sesuatu terasa lapang.

Kutapaki lantai “wall to wall carpeted”. Aku mengitarkan pandang. Langit-langit ruangan, tinggi, di atas kepalaku. Di sisi langit-langit ada dinding kaca yang membiarkan masuk cahaya. Ruangan itu seperti tak berdinding. Akhirnya aku menemukan kucari, papan penunjuk arah counter check in. Terletak di atasku. Aku menengadah memandangnya. Terasa aku semakin mungil di ruang luas itu.

Check in selesai tanpa banyak ba bi bu. Aku tidak membawa bagasi. Begitulah kebiasaanku dalam perjalanan dinas yang umumnya dua sampai tiga hari. Aku selalu membawa tas pakaian berbahan ringan, bukan koper kecil ukuran kabin. Menurutku itu masih sanggup kutenteng. Begitu mendarat, aku senang sekali bisa kabur menemui penjemputku di exit gate.

Masih dua jam lagi. Perutku sekarang mulai memberikan sinyal. Tampaknya tak banyak pilihan bagiku yang pencinta “hijau”. Akhirnya aku memesan nasi goreng. Carbohydrate again !

Aku masih sempat membuka si lippy sebentar sampai akhirnya panggilan boarding terdengar. Cukup jauh aku berjalan ke boarding gate dari area foodcourt. Aku memanfaatkan.beberapa coveyor. Rasanya aku menjadi bionic woman, melesat cepat menyelisihi orang orang yang berjalan santai di kiriku. Lumayan berkeringat, aku akhirnya melewati boarding gate.

Di luar gedung sudah menunggu sebuah minibus. Hanya aku dan seorang penumpang lain ada di bis itu.

“Selamat siang Bapak dan Ibu”, supir menyapa kami.

Ternyata si burung besi beraksen biru, berdiri di lain sisi gedung. Atau malah di lain gedung? Begitu sampai di kaki pesawat, kami belum diijinkan naik ke pesawat. Kami sempat menunggu sekitar sepuluh menit di mobil.

Aku akhirnya duduk di dalam si burung biru. Kelas bisnis, the firts time in my life. Aku perhatikan run way di sebelah kiriku. Tercenung. Inilah rejekiku hari ini.

Kursi yang kududuki sesungguhnya kebesaran untuk badanku. Namun tentu itu pas untuk wisatawan internasional. Untuk kenyamananku, ada bantal kursi tersedia. Tanganku bersandar di tangan kursi yang lebar. Itu adalah rumah dari beberapa fasilitas. Aku tak begitu memperhatikan apa saja. Yang paling kupaham adalah layar di depan wajahku, yang terpasang di punggung kursi di depanku.

Run way masih tampak di kiriku. Pesawat masih `taxing`.

“Ibu ingin minum apa?” seseorang membuyarkan lamunanku. Seorang laki laki berusia matang berdasi, berjas, membungkuk ke arahku. Wajah itu tanpa senyum namun aku tetap merasakan keramahannya.

“Boleh teh tawar panas?” Aku kembali melihat ke runway. Wellcome drink itu datang membuyarkan perhatianku. Cangkir keramik putih dengan tatakan juga berwarna putih, ringan; aku menangkap kesan mewah sekaligus elegan. Minuman favoritku di setiap awal pagi di kantor itu, kuhabiskan dalam satu menit.

Pesawat akhirnya mengudara. Aku selalu berusaha melewati detik detik melawan gravitasi bumi dengan penuh kesadaran bahwa “sesuatu risiko bisa terjadi, namun Sesuatu juga yang menetapkan itu tidak terjadi”. Pesawat itu ada dalam genggaman Sang Khalik.

Momen “lampu merah” itu selesai sudah. Aku mulai melemaskan punggungku, menjulurkan kaki, dengan duduk agak melorot di kursi kebesaran (ukurannya) itu. Tanganku bersedekap di dada di balik hijabku yang menutup dada.

“Ibu ingin selimut?” sebuah muka mendekat ke arahku. Seorang pramugari menawarkan kehangatan.
“Tidak”, kataku membalas senyumnya.

Aku tak membawa buku untuk dibaca. Musik? Aku tak tertarik pada layar di depan hidungku. Lelah yang sekarang kurasa setelah perjalanan hampir 8 jam sejak keluar rumah, membuat aku ingin menyendiri. Keluar dari hiruk pikuk entah apa.

“Ibu perlu bacaan?” suara ramah memecah kesunyian dalam diriku. Pemilik suara membawa beberapa koran dan majalah. Kurasa ini yang kuinginkan; kembali kepada “masa lalu” : kertas, bukan layar berpendar yang melelahkan mata. Aku mengambil satu koran nasional.

Tak banyak yang kuperhatikan pada kertas lebar yang kubentangkan itu. Tampaknya bukan tulisan, apa lagi berukuran kecil yang kubutuhkan sekarang. Kepalaku tak menerima. Aku letakkan koran itu di kantung yang melekat pada punggung kursi, di depanku.

“Bu silakan”, pramugari sekarang mempersiapkan meja kemudian meletakkan baki berisi makanan di atasnya. Hhmm, mungkin ini bisa memberi warna pada perasaan lelahku. Aku tidak lapar namun sajian itu tampaknya, “sesuatu”.

Ada menu utama berupa nasi berwarna hijau dengan lauk. Ada sayur juga. Lantas ada penutup.

“Ibu ingin minum apa?”

Kali ini aku meminta air putih hangat.

Aku buka kotak transparan di bawah hidungku. Harum tertentu membangkitkan keingintahuanku. Kusendok si hijau ke mulutku. Itu nasi goreng atau sejenis nasi yang diolah seperti nasi kuning atau nasi kebuli. Bedanya, kali ini, dia berwarna hijau. Kuangkat lauk berwarna orange tua ke mulutku. Rasanya mirip daging masak asam padeh di rumahku di Padang, namun bumbunya “going no where”. Kata seorang temanku, kalau memasak, bumbunya harus “berani”. Nah, dalam masakan ini, “keberanian” itu tak terjadi.

Aku memandangi nanar si orange tua. Tampaknya dia menjadi “catatan” tersendiri dalam perjalananku kali ini. Sejak masuk terminal hingga duduk di kursi ukuran besar ini, aku merasakan banyak sentuhan, mulai dari detail artistik di ruang tunggu yang luas, sapaan hangat di sana sini, tawaran ini dan itu di kelas khusus ini. Namun semuanya menjadi bernoktah karena masakan yang satu ini.

Aku berusaha menghabiskannya. Entah karena lapar, entah karena “kasihan” padanya. Setidaknya dia rejekiku saat ini. Tidak sepatutnya kucampakkan dia. Kuhibur diri bahwa dia “not bad”.

Pikiranku berputar kepada sebuah berita bisnis tentang airline yang kupakai kali ini. Rugi yang spektakuler membuat aku bertanya tentang segala fasilitas yang kuterima. Apakah semua ini dibutuhkan penumpang? O ya, perjalananku kali ini hanya satu setengah jam.

Siapa yang ingin disainginya di dalam negeri dengan segala pernak pernik ini? Sementara budget airline merajai runway. Untuk penerbangan luar negeri? Terdapat Singapore Airlines,dengan ikon kualitas dan Air Asia dengan label “murah”. Aku ingat sebuah istilah untuk situasi ini “stuck in the middle”. Entahlah.

—-

Tulisan ini akhirnya kuselesaikan setelah tiga bulan lebih terkatung katung. Dia menjadi sangat bermakna ketika Jumat minggu lalu aku rapat dengan Tim Garuda Indonesia, membahas kargo Pos dan Garuda, sebuah joint product. Betapa flag carrier ini berusaha keras mengisi space kargonya terutama untuk penerbangan ke Indonesia Timur. Target tim kargo Garuda tersebut, bagiku sama spektakulernya dengan kerugian saat ini. Salut untuk Pak Rene dan timnya yang mengemban amanah tersebut.

Bandung, 10 11 2017
Lisa Tinaria

Rate this article!
TO : DEAR GARUDA,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply