Tips Menanamkan Kejujuran Pada Anak

Kemarin, Komisi Pemberantasan Korupsi kembali melakukan operasi tangkap tangan. Menurut berita yang turun di media-media ada beberapa orang yang tertangkap. Berita ini sungguh membuat hati sedih.

Peran orangtua, sejatinya membantu membentuk generasi berakhlakul karimah. Namun dalam prosesnya diperlukan kesabaran, usaha, kerja keras dan doa.

Menurut Kamus Bahasa Indonesia, jujur berarti lurus hati, tidak berbohong, tidak curang, tulus ikhlas. Sedangkan kejujuran berarti sifat jujur, ketulusan hati, kelurusan (hati).

Kejujuran adalah investasi berharga. Dalam Islam, salah satu kewajiban orangtua adalah memberikan pendidikan akhlak dengan nilai kejujuran di dalamnya.

Mendidik anak, tentu harus sejalan dengan tauladan. Jadi, sebaiknya orangtua tidak pernah membohongi anak walaupun sekedar mengiming-imingi agar anak berhenti menangis.

Karena orangtua adalah tauladan pertama, apalagi yang harus dilakukan supaya anak terbiasa dengan sifat jujur?

1. Menjawab pertanyaan anak dengan jujur.
Seringkali anak mengajukan pertanyaan yang luar biasa kritis. Dalam hal ini, jika orangtua sedang dalam kondisi yang jauh dari santai, seringkali orangtua asal menjawab supaya anak cepat selesai bertanya.

Namun, sebaiknya jika orangtua tidak mengetahui jawaban dari pertanyaan anak, jawab saja dengan jujur dan kemudian mencari tahu jawabannya bersama.

Selain itu, orangtua dapat menjawab pertanyaan anak dengan kalimat atau bahasa yang sesuai dengan usia anak.

2. Jangan sungkan untuk meminta maaf pada anak.
Orangtua juga manusia yang bisa melakukan kesalahan. Ketika orangtua salah pada anak dan tidak segan meminta maaf, ini akan menjadi contoh bagi anak agar dapat menjadi pribadi yang berani meminta maaf jika melakukan kesalahan.

Anak juga dapat menghargai kejujuran melalui tauladan ini.

3. Menanamkan aqidah kejujuran melalui kisah dalam Al Quran.
Al Quran adalah kitab suci umat Islam yang luar biasa. Di dalamnya banyak kisah mengenai akhlak kejujuran. Bacakan untuk anak sebagai kisah sebelum tidur. Diskusikan kisahnya sehingga anak memahami esensi dari kejujuran tersebut.

4. Menghargai kejujuran anak.
Setelah semua hal diatas dilakukan dan anak mencoba bersikap jujur, maka hargailah.

Menghargai sikap jujur anak bukan berarti membenarkan hal yang salah. Menghargai yang disertai bantuan pada anak agar tidak melakukan hal yang tidak baik, akan membentuk pribadi anak untuk membedakan hal yang baik dan buruk.

5. Memberikan hukuman yang sesuai.
Seorang anak pulang ke rumah dengan pakaian luar biasa kotor. Dia berkata jujur pada Ibundanya bahwa dia habis main lumpur. Kemudian Ibundanya pun marah. Padahal anak sudah berkata jujur. Jika ini terjadi, anak akan berpikir lain kali lebih baik berbohong saja. Karena sudah mencoba jujur namun masih dimarahi.

Solusinya adalah mendengarkan penjelasan anak terlebih dulu. Kemudian, boleh jatuhkan hukuman dengan pertimbangan dan anak sudah mengenal hal baik dan buruk.

Contoh untuk kasus diatas, hukuman pada anak bisa berupa mencuci sendiri bajunya yang penuh lumpur.
Mendidik dan membesarkan anak memang tidak semudah membalikkan telapak tangan kita.

Namun, semua jerih payah tersebut akan terbayar tunai ketika melihat anak kita memiliki akhlak yang baik dan berkembang menjadi pribadi yang jujur.

Semoga benih kejujuran yang ditanam ini, dapat menjadi fondasi iman anak yang kuat. Allahumma Aamiin.

(Ayas Ayuningtias)
#SahurKata #KMO26

Sumber referensi :
– kbbi.web.id
– ummi online

Referensi artikel mengenai kisah kejujuran dalam Al Quran: http://www.sarapankata.com/kisah-dalam-al-quran-mengenai-kejujuran

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply