TINTA MERAH

TINTA MERAH

Ketika pembukuan di kantorku masih pakai kertas dan manual (sekarang pembukuan pakai SAP, menulisnya langsung di awang-awang, dikirim via satelit), pena bertinta merah dipakai untuk mencoret angka yang salah, lalu untuk menuliskan angka yang betul di dekat angka yang dikoreksi. Kalau seseorang sedang marah, memberikan isntruksi yang sifatnya urgent, maka tinta merah itu mewakili sudah suasana hati sang pemakainya. Intinya tinta warna itu sangat powerful untuk menyampaikan pesan “Kamu itu salah!”.

Tinta itu pula yang dipakai oleh guru bahasa Inggrisku di SMP dulu. Aku memandang dengan berkaca-kaca hasil pekerjaanku. Itu berupa karangan setengah halaman buku tulis murahan bersampul coklat. Tulisan bertinta merah bertebaran di hampir setiap baris karyaku. Grammar lah yang salah. Koma salah tempat. Ada pula salah penulisan kata. Salah pemakaian kata. Sekilas lebih banyak tinta merah daripada tinta biru yang kupakai. Hatiku sungguh masygul. Itu adalah kali pertama “masterpiece”ku mengarang dalam bahasa Inggris. Sejujurnya aku tak tahu harus menulis apa. Alhamdulillah modal nekat sudah menghasilkan sekian baris. Seharusnya itu si pak guru menghagai karyaku! Untunglah air mataku tak jatuh.

Setelah agak tenang kubaca ulang karyaku itu, lambat lambat sampai kalimat terakhir. Lalu aku menemukan angka 80 di ujung kanan bawah. Pake tinta merah, tulisan angka itu kecil.

Aku terpana. Karangan yang banyak tinta merah itu diberi nilai tinggi oleh si pak guru. Aku masih melihat diam memandang bukuku. “Dapat berapa kamu?” tiba tiba seorang temanku sudah duduk di sampingku. “Delapan puluh”, kataku lirih sambil menyodorkan bukuku kepadanya. “Aku gak bikin”, katanya dengan raut muka mencibir, cuek. “Habis, susah banget!” katanya kesal.

Perasaanku berganti sudah. Senang, bangga, sekaligus rasa bersalah sudah “memarahi” guru bahasa Inggrisku. Di atas semua perasaan itu adalah rasa syukurku bahwa aku berada di tangan yang tepat. Seorang guru bahasa Inggris yang hebat.

Sejak itu aku mulai mencintai bahasa Inggris. Lebih luas lagi aku tak merasa takut salah ketika menulis, apa pun itu. Betapa satu peristiwa saja bisa mengubah cara berpikirku tentang menulis, terutama dalam bahasa Inggris. Terima kasih guruku.

Bandung, 11 Agustus 2015
Lisa Tinaria

Rate this article!
TINTA MERAH,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: