THERAPEUTIC WRITING VS DAKWAH

THERAPEUTIC WRITING VS DAKWAH

Untuk apa aku menulis? Pertanyaan ini menemukan jawaban yang setegas-tegasnya minggu ini, setelah aku mengikuti Kelas Menulis Online (KMO). Jawaban itu sejujurnya sudah kutahu sekitar delapan bulan terakhir. Tetapi sekarang itu kutuliskan. Tidak lagi mengawang di belantara sel-sel abu-abuku.

Dulu, aku berniat menulis, ya, karena memang ingin menulis. Tampaknya aku punya bakat. Aku pernah menjadi juara 3 lomba mengarang yang diadakan harian milik Golkar “Suara Karya”. Aku juga pernah mendapat apresiasi untuk tulisanku di lembaga dakwah kampus. Bagaimana aku suka menulis, dapat aku gambarkan pada tulisanku berjudul TINTA MERAH. Tulisan ini sudah kumuat di fb. Dalam kehidupan keseharianku di kantor, aku suka menulis surat teguran, dan beberapa kali membuat analisis tentang beberapa masalah.

Empat tahun terjadi perubahan tentang cara pandangku terhadap kegiatan menulis. Ya, aku bertekad untuk menuliskan semua kesedihanku karena ditinggal Uum, adikku sayang (Allahummagh fir lahu warhamhu wa`afihi wa`fu anhu). Aku tahu dari beberapa artikel yang kubaca bahwa menulis adalah salah satu cara untuk mengendalikan stress. Namun, setelah kucoba merangkai kata, mengisahkan pengalamanku merawat Uum, hatiku justru semakin berdarah-darah. Psikolog yang merawatku memberikan alternatif terapi lain yaitu menggambar, berkebun.

Alhamdulillah masa-masa berat – empat tahun lalu – lewat sudah. Sekarang aku sedang merampungkan tulisanku tentang Uum yang meninggal karena kanker kolon. Inilah jenis tulisanku yang disebut therapeutic writing. Biasanya isinya sepenuhnya tentang perasaanku. Tulisanku BONCENGAN TERAKHIR, mewakili tulisan kelompok ini.

Apakah menulis hanya untuk urusan hati, alias curhat? Sebagaimana orang membuat film, foto, nyanyian, hanya sekedar untuk memperturutkan nafsu (baca: pornografi, kekerasan, dan hal negatif lainnya) ? Semestinya tidak.
Selayaknya seminim apa pun kata-kata, seharusnya kumpulan itu membawa pesan, positif tentunya. Itu juga yang kuniatkan sekarang ketika menulis. Aku ingin, banyak pembaca akan mengambil hikmah dari karyaku itu nanti. Dua tulisanku yang menurutku memuat hikmah adalah KANKER DI ATAS ANGKOT dan SERIBU KESEMPATAN -Probably Not. Kedua tulisan itu juga sudah tayang di fb.

Menulis, kusadari kemudian, tidak hanya merupakan hasil kerja otak kananku. Latar belakangku akhirnya mendefinisikan bahwa seorang Lisa adalah seorang yang analitikal. Aku suka mengamati, memgumpulkan informasi dan data, mencari hubungan sebab akibat lalu membuat kesimpulan. Akhir dari proses ini biasanya sebuah tulisan. Biasanya berisi kritik dan saran, jika di kantor, atau sekedar kritik sosial, jika tulisanku bukan soal pekerjaan. Bidang yang paling banyak menjadi sorotanku adalah dunia pendidikan, etika, atau akhlak. Nah, aku punya tulisan dengan genre ini yaitu COPY PASTE.

Demikianlah yang bisa kusampaikan tentang “mengapa aku menulis”.

Salam, Bandung 27 05 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply