THE LESSONS FROM THE LOESS PLATEU

THE LESSONS FROM THE LOESS PLATEU

Pagi ini aku berkesempatan menonton sebuah film dokumenter. Film itu menggambarkan betapa jika manusia ingin memperbaiki lingkungan – setelah manusia itu sendiri merusaknya – maka itu bisa dilakukan.

Film tersebut menggambarkan sebuah proyek besar reforestration di sebuah dataran tinggi di Cina, yang diberi nama Loess Plateu. Loess sendiri artinya adalah sejenis sedimen yang rapuh, berpori, yang mudah diterbangkan angin sekaligus juga mudah tererosi. Nama asli daerah yang menjadi tempat proyek adalah Huangtu Plateau. Wilayah yang dicakupnya adalah tujuh provinsi, yang setara dengan luas negara Perancis. Ratusan tahun yang lalu, daerah ini adalah daerah pertanian yang subur. Namun karena praktik pertanian yang mengeksploitasi alam, daerah ini menjadi tandus. Loess Plateau dinilai sebagai salah satu daerah paling tandus di dunia.

Proyek reforestration di Loess Plateau, patut dicatat dalam sejarah peradaban manusia. Proyek ini mencakup area yang luas, melibatkan banyak orang dan memakan waktu lama. Perubahan yang terjadi juga sangat kentara dan massive. Tadinya penduduk di Loess Plateau adalah para petani dan peternak yang sangat miskin. Sekarang daerah itu menjadi salah satu penghasil apel di Cina.

Proyek berlangsung selama 15 tahun. Jadi film dokumenter tersebut menyajikan keadaan di awal proyek dan situasi 15 kemudian. Proyek dimulai tahun 1995 dan selesai tahun 2010.

Cara yang diterapkan pemerintah Cina dalam proyek ini, cukup menakjubkan. Artinya proyek ini melibatkan masyarakat tetapi sekaligus juga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Adapun cara yang dipakai, pertama adalah dengan menyuruh penduduk berhenti bercocok tanam di area tertentu. Sebagai gantinya penduduk disuruh untuk menanam pohon di puncak bukit. Terdapat komentar dari seorang penduduk terhadap instruksi tersebut yaitu “We cannot eat trees”, kami tidak bisa makan pohon. Tetapi begitulah, proyek tetap berlanjut. Selanjutnya di lereng bukit, dibuat teras untuk bercocok tanam. Di kaki bukit, dibuat dam sebagai penampung air hujan. Di samping dilarang bercocok tanam di daerah tertentu, penduduk juga dilarang melepas ternak mereka. Ternak- umumnya domba- harus dikandangkan agar mereka tidak memakan pohon yang baru tumbuh. Konsekwensi dari tidak adanya atau kurangnya penghasilan yang diperoleh penduduk dari bertani adalah bahwa pemerintah Cina harus memberikan uang kompensasi.

Hasil setelah proyek adalah bangkitnya ekonomi di Loess Plateau. Penduduk mulai mendapatkan hasil dari tanah yang mereka rawat sendiri. Produksi pertanian di antaranya sayuran dataran tinggi dan apel. Cara pandang terhadap tanah juga sudah berbeda. Mereka tidak lagi berpikir sekedar “survive” tetapi sudah memikirkan bagaimana untuk “sustain”. Demikianlah sebuah kisah sukses penghutanan kembali.

Sumber: www.mercola.com

Bandung, 08 06 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
author

Author: