THE LESSON OF THE LOESS PLATEU – edited paragraph

THE LESSONS OF THE LOESS PLATEU

The Lesson of the Loess Plateau adalah judul sebuah film dokumenter karya John D Liu, seorang ecologist sekaligus produser film. Sebagai seorang pecinta lingkungan, John D Liu khusus membuat film dokumenter bertema penyelamatan lingkungan, dengan tujuan menyebarkan informasi tentang pengalaman kesuksesan beberapa proyek besar penyehatan lingkungan. Tentu saja tujuan akhirnya agar film tersebut dapat menginspirasi banyak orang untuk melakukan kebaikan yang sama terhadap lingkungan. Film The Lesson of The Loess Plateau bercerita tentang kesuksesan Pemerintah China tentu saja dengan partisipasi rakyatnya dalam mengubah area tandus yang sangat luas menjadi salah satu sumber pangan. Film ini diawali dengan gambar padang tandus berdebu, lengkap dengan wajah penduduknya yang juga berdebu, dan diakhiri dengan gambar yang didominasi warna hijau, ditingkah penduduk yang sedang memanen apel.

Apa dan di Mana

Loess bukanlah nama asli dataran tinggi yang kita perbincangkan. Adalah Huangtu Plateu atau dataran tinggi Huangtu, nama asli daerah yang mencakup empat provinsi di Cina dan sebagian Mongolia. Secara keseluruhan luasnya menyamai Negara Perancis. Pemberian nama Loess adalah karena jenis tanah yang terdapat pada dataran tinggi Huangtu tersebut.

Loess adalah sedimen yang terbentuk dari debu yang terbawa angin selama ribuan tahun yang kemudian terkumpul mencapai ketebalan dalam hitungan meter. Di China ketebalannya mencapai seratus meter sementara di Midwestern Amerika Serikat, tebalnya puluhan meter. Ciri dari loess adalah berpori, mudah terurai, tidak solid dan berwarna kuning. Kata loess berasal dari bahasa Jerman yang artinya drop atau jatuh cukup mewakili karakteristik tanah ini.

Jenis tanah ini mudah dipahat sehingga masyarakat di Huangtu Plateu membuat rumah dengan cara membuat gua di lereng bukit atau dengan menggali tanah. Iklim di daerah ini disebut sebagai semi-arid climate yaitu iklim yang cukup kering tetapi tidak sekering iklim gurun. Perbedaan suhu di dataran tinggi Huangtu cukup ekstrim sehingga rumah model gua tersebut sangat membantu penduduk untuk mendinginkan diri di musim panas dan melindungi diri dari sengatan dingin di musim dingin. Akses pintu masuk keluar dibuat dengan memanfaatkan kontur tanah. Rumah penduduk Huangtu ini disebut yaodong.

Karena mudahnya tanah di Huangtu ini luruh maka ketika musim hujan, terjadi erosi yang cukup serius di Huangtu yang mengakibatkan sedimen loess hanyut terbawa air hujan jauh sampai ke Sungai Kuning. Dari peristiwa alam inilah kemudian sungai terpanjang kedua di Asia (setelah Sungai Yang Tse) tersebut diberi nama Huang He atau Sungai Kuning atau Yellow River.

Satu lagi ciri dari Loess Plateu adalah tanah yang sangat subur. Kesuburan ini lebih disebabkan oleh mudahnya tanaman menyerap nutrisi dari tanah dan cukupnya udara di dalam tanah. Suburnya tanah ini tidak disebabkan oleh kandungan nutrisi organik sebagaimana tanah di daerah tropis. Karena suburnya daerah ini maka tidaklah heran jika peradaban China sebagian berasal dari daerah ini.

Jika Anda mengetik loess plateu (artinya dataran tinggi Loess) di layar Mbah Google, maka yang muncul pertama adalah gambar atau berita tentang sebuah wilayah di daratan China bagian tengah utara, yang mirip padang pasir. Area padang pasir tersebut membentang luas, mencakup penuh hampir dua propinsi yaitu Shaanxi dan Shanxi, sebagian provinsi Gansu dan Ningxia serta Inner Mongolia. Secara keseluruhan luasnya 640.000 km persegi, hampir sama dengan luas Negara Perancis.

Dataran tinggi Huangtu berada di lembah Sungai Wei, sungai utama di bagian Tengah-Barat China yang melewati provinsi Gansu dan Shaanxi. Sungai Wei sendiri merupakan anak dari Yellow River, sungai terpanjang kedua setelah sungai Yang Tse. Karena kondisi georafis seperti ini maka Loess Plateu ikut menyumbang pada banjir bandang dan sedimentasi pada Yellow River.

Sudah jamak bahwa peradaban manusia dimulai dari daerah disekitar sungai. Sejak berabad lampau, Loess Plateu sudah dihuni oleh etnik Hui. Daerah ini termasuk dalam jalur Jalan Sutra yaitu network perdagangan yang menghubungkan negeri Arab di barat dan dan Asia di timur. Saat ini Loess Plateu dihuni sekitar 50 juta orang.

Lima Belas Tahun

Proyek reforestation di Loess Plateau, patut dicatat dalam sejarah peradaban manusia. Proyek ini mencakup area yang luas, melibatkan banyak orang dan memakan waktu lama. Perubahan yang terjadi juga sangat kentara dan massive. Proyek berlangsung selama 15 tahun. Jadi film dokumenter tersebut menyajikan keadaan di awal proyek dan situasi 15 kemudian. Proyek dimulai tahun 1995 dan selesai tahun 2010. Gambar pada film benar-benar menampilkan situasi before dan after yang menakjubkan. Warna kuning tanah, debu, bebatuan pada awal film berubah menjadi hijaunya lereng dan tertampungnya air di lembah desa.

Ribuan tahun yang lalu, daerah ini adalah daerah pertanian yang subur. Selama ribuan tahun pula terjadi eksploitasi alam untuk keperluan pangan manusia dan ternak. Eksploitasi alam ini meningkat sejak dicanangkannya Revolusi Kebudayaan oleh Pemerintah Komunis Cina pada tahun 1966. Hasilnya, daerah ini menjadi tandus. Loess Plateau dinilai sebagai salah satu daerah paling tandus di dunia sekaligus daerah dengan tingkat erosi paling tinggi. Konsekwensi dari kondisi alam ini adalah kemiskinan yang merata.

Dengan bermodal tekad untuk memperbaiki kondisi ekonomi sekaligus lingkungan alam di dataran tinggi Huangtu, pemerintah China memberanikan diri untuk meminjam dana kepada beberapa lembaga internasional. Secara umum, proyek terbagi atas dua tahapan. Proyek pertama bernilai 252 juta US$, yang ditanggung bersama oleh IDA (International Development Association) sebesar Rp 149 juta US$ dan pemerintah China sebesar 103 juta US$. Proyek kedua menghabiskan dana sebesar 239 juta US$ dengan pembagian tanggung jawab: IDA 50 juta US$, IBRD (International Bank of Reconstruction and Development) 99 juta UD$ dan pemerintah China 90 juta US$. Cost untuk melaksanakan proyek terutama adalah untuk konsultasi, bantuan teknis, training, manajemen ternak, manajemen penanaman kembali, monitoring dan evaluasi.

Nama resmi proyek adalah The Loess Plateau Watershed Rehabilitation Project. Tujuan utama proyek adalah untuk meningkatkan produksi pertanian dan pendapatan masyarakat pada area seluas 15.600 km2 yang merupakan cabang atau anak dari Sungai Kuning. Tujuan berikutnya adalah untuk mengurangi aliran sedimen ke Sungai Kuning, yang technically dilakukan dengan melokalisir proyek pada area tertentu yang mempunyai tingkat erosi yang paling parah. Secara umum, pekerjaan teknis proyek terbagi tiga yaitu: 1) menciptakan tanah pertanian dengan hasil pertanian yang tinggi; 2) mengganti tanaman di lereng-lerang yang mudah erosi dari tanaman pangan ke pohon, semak, dan rumput; 3) mengurangi aliran sedimen dengan membuat dam penahan sedimen.

Kembali ke film dokumenter tersebut di atas. Film menggambarkan bagaimana sebuah proyek reforestation raksasa dilaksanakan. Berbeda dengan praktik di Indonesia atau di Amazon di mana kegiatan utama reboisasi adalah penanaman pohon, proyek di Huangtu Plateau lebih menekankan kepada perubahan kebiasaan masyarakat. Cara yang diterapkan pemerintah Cina dalam proyek ini, cukup menakjubkan, artinya proyek ini melibatkan masyarakat.

Adapun cara yang dipakai, pertama adalah dengan menyuruh penduduk berhenti bercocok tanam di area tertentu. Sebagai gantinya penduduk disuruh untuk menanam pohon di puncak bukit. Proyek ini bukan tanpa tantangan. Terdapat komentar dari seorang penduduk terhadap instruksi tersebut yaitu “We cannot eat trees”, artinya Kami tidak bisa makan pohon.” Tetapi begitulah, proyek tetap berlanjut.

Selanjutnya di lereng bukit, dibuat teras. Tujuannya adalah untuk mengurangi erosi dan mencegah mengalirnya air dengan bebas ketika datangnya hujan. Kemudian di teras tersebut ditanam tanaman pangan. Cara seperti ini dapat menambah supply makanan. Film menampilkan sesuatu yang menarik di mana masyarakat berbondong-bondong naik sepeda atau berjalan kaki pergi ke daerah pebukitan. Mereka membawa cangkul atau sekop. Di lereng bukit yang gersang tersebut mereka memindahkan tanah dari tengah pelataran ke tepinya untuk membuat pematang. Dari kejauhan hasil pekerjaan mereka adalah punggung bukit yang dibuat berundak-undak persis seperti pemandangan sawah yang bertingkat-tingkat di pedesaan di Indonesia. Perbedaannya adalah bahwa tanah berundak di Loess Plateau tersebut berwarna kuning sejauh mata memandang, berbeda dengan hijau royo royo di desa-desa di Indonesia.

Mengapa penduduk bersedia mengolah tanah sedemikian luas? Apakah tanah tersebut milik mereka? Ada suatu hal yang baru yang diterapkan pada proyek ini terkait hak penggunaan tanah. Penduduk bersedia membuat teras di sebidang tanah setelah dipastikan bahwa tanah itu akan menjadi hak mereka nantinya. Jadi terdapat suatu kontrak pemakaian tanah untuk jangka panjang. Pada film ditunjukkan bagaimana sebidang tanah sedang diukur kemudian menjadi hak bagi seseorang atau sebuah keluarga. Pengukuran dilakukan oleh masyarakat sendiri, secara tranparan dan adil. Argumen di balik ide ini adalah bahwa penduduk akan mempunyai rasa tanggung jawab untuk memelihara tanah jika memiliki hak atas tanah tersebut.

Setelah penanaman pohon dan pembuatan teras, pekerjaan berikutnya membuat bendungan di kaki bukit sebagai penampung air hujan. Sebagaimana dijelaskan di atas, Loess Plateau adalah penyumbang utama bagi sedimentasi di Yellow River, karena air yang mengalir bebas membawa loess. Dengan adanya dam ini maka aliran air yang membawa lumpur dapat dikurangi.

Di samping dilarang bercocok tanam di daerah tertentu, penduduk juga dilarang melepas ternak mereka. Pada film tersebut di atas, ditampilkan bagaimana berbahayanya menggembala-kan ternak secara liar di Loess Plateau. Ternyata domba dan kambing ternak utama penduduk di daerah ini- tidak sekedar merumput, tetapi menarik rumput hingga akarnya tercerabut. Hasilnya adalah rumput yang tidak bisa tumbuh lagi. Akhirnya domba-domba tersebut diperintahkan untuk dikandangkan agar mereka tidak memakan tanaman yang baru tumbuh, apalagi mencabutnya. Konsekwensi dari tidak adanya atau kurangnya penghasilan yang diperoleh penduduk dari bertani dan berternak adalah bahwa pemerintah Cina harus memberikan uang kompensasi.

Sayuran dan Apel

Hasil setelah proyek adalah bangkitnya ekonomi di Loess Plateau. Penduduk mulai mendapatkan hasil dari tanah yang mereka rawat sendiri. Tadinya penduduk di Loess Plateau adalah para petani dan peternak yang miskin. Sekarang daerah itu menjadi salah satu penghasil apel di Cina. Pada film ditunjukkan gundukan apel yang sedang dipanen. Warna merah muda apel bercampur sedikit hijau mengingatkan penulis pada apel Cina yang umumnya dijual di supermarket di Indonesia. Film juga menampilkan penduduk yang beriringan mendorong gerobak yang dipenuhi kol, wortel, sawi dan sayuran lainnya ke pasar. Di pasar tersebut terlihat kegiatan jual beli yang sibuk. Karena ekonomi yang membaik, terutamanya melalui peningkatan produktivitas pertanian dan diversifikasi produk pertanian, pendapatan masyarakat per tahun meningkat dari sekitar 70 US$ per tahun menjadi rata-rata 200 US$ per tahun.

Hasil berikutnya selain peningkatan ekonomi adalah sumber daya alam yang terlindungi. Dalam hubungannya dengan alam, masyarakat diedukasi untuk tidak sekedar survive tetapi sustain dalam arti menjaga alam untuk kemanfaatan masyarakat itu sendiri. Semula terdapat ternak yang merumput sesukanya, pemakaian kayu sebagai bahan bakar, dan bertanam di lereng bukit. Dengan adanya proyek, masyarakat diyakinkan untuk menanam rumput dan menanam pohon, yang meningkatkan hasil vegetasi dari 27 persen menjadi 34 persen.

Terkait dengan lingkungan hidup, hasil berikutnya dalah berkurangnya sedimentasi pada sungai yang mengalir ke Sungai Kuning, yaitu sekitar 100 juta ton per tahun. Kontrol terhadap sedimen telah mampu mencegah banjir, yaitu dengan adanya bendungan bendungan kecil yang dapat menyimpan air ketika hujan.

Apa kesimpulan yang bisa diambil dari cerita di atas? Ya, tidak ada yang tidak mungkin, sepanjang ada tekad dan semangat untuk berubah. Banyak sekali masalah yang dihadapi bangsa kita tercinta ini. Namun mari kita perkecil ke masalah lingkungan di keluarga kita sendiri. Bagaimana cara kita mengelola sampah? Berapa persenkah sampah plastik dari total sampah yang kita produksi? Apakah kita peduli dengan penghijauan di lingkungan kita? Seberapa bijakkah kita menggunakan air, terutama air tanah? Tantangan perubahan dari pertanyaan tersebut jauh lebih ringan dari perubahan yang dituntut pada penduduk dataran tinggi Huang Tu. Berani?

Bandung, 2 Juni 2018
Lisa Tinaria

author

Author: 

Leave a Reply