Teman! Berkata baik atau diam

Anak-anak itu meniru apa yang dilakukan orang yang ada di sekitarnya, mengcopy paste semua yang dilakukan orang di sekitarnya. Karenanya harus senantiasa waspada jika disekitar kita anak-anak, takutnya tanpa kita sadari kita bersikap yang kurang baik dan mereka menganggap bahwa apa yang kita lakukan itu benar dan meniru sikap kita tadi entah itu perkataan atau pun perbuatan. Secara tidak langsung ini juga sangat berpengaruh pada pembiasaan sehari-hari kita.
Nada pengingat pesan Whatsapp terdengar beruntun dari hp ku, salah satu orang tua dari muridku rupanya. Isi pesannya:
“Assalamu’alaikum Bu”
“afwan Bu, Ummi mau cerita tentang Abang,
sebenernya Ummi sejak kemarin mau cerita tapi
dak sempet Bu”.
“Begini Bu, Abang sekarang di rumah sering gak
nurut dengan Ummi. Kalau dimintai tolong banyak
alasan, terus suka ngomong dengan kata-kata yang
tidak bagus apalagi kalau ribut dengan adiknya.
Keluarlah semua hewan di kebun binatang”.
“Sudah sangat sering Ummi tegur tapi masih saja,
kalau di tegur dan
diingatkan dia sadar, gak keluar tuh kata-kata aneh tapi tidak lama
paling 5 menit saja, setelahnya berulang lagi Bu”.
“Ummi pusing mau di apakan lagi, diingatkan dengan lembut sudah, di
tegesi sudah”.
Aku tersenyum dan kembali mengingat si Abang beberapa hari ini, sepertinya tidak ada yang aneh dengan dia, semua baik-baik saja.
“Wa’alaikumsalam Ummi”
“ Kalau di sekolah si Abang baik-baik saja, dengan teman-teman juga
Baik”.
“Kalau begitu cerita dari Ummi nanti saya coba bicara dengan Abang”.
“Makasih ya Ummi infonya ”.
Ketika buka kelas kita akan bercerita pagi ini, anak-anak sudah sangat hafal rutinitas ini dan akan menunggu apa yang akan di ceritakan. Berhubung pagi ini dapat kabar dari Ummi nya Abang, tema cerita kita pagi itu “Berkata baik atau Diam”. Anak-anak itu paling senang kalau diceritakan, mereka sangat suka mendengar cerita. Jadi, rutinitas cerita ini sangat dinanti oleh mereka. Selesai aku bercerita wajah mereka senyum-senyum saling lirik dan pandang satu sama lain, dan yang paling tersipu itu adalah si Abang. “kenapa kamu senyum-senyum begitu? Hari ini Ibu tidak bercerita yang lucu” Tanyaku padanya. “Nggak Bu, saya cuma senyum aja”jawabnya. “Ayo, gantian tadi Ibu yang cerita sekarang giliran kalian, ada yang mau bercerita?” tawarku pada mereka. Semua menggeleng masih sambil senyum-senyum, “bener nih tidak ada yang mau cerita?”. Diam sesaat lalu “Bu ya, kemarin itu kan abang main di rumah kami… Nah, kami kan main poster, Abang itu kalah terus dia ngmong yang gak bener Bu”. Jelas Izzu plus ekspresinya yang lucu. Aku menyimak dengan seksama, “O… begitu, ngomong yang gak bener gimana maksudnya?” Tanyaku seolah tidak mengerti. “Itu Bu, ngomong yang gak sopan”. Aku menganggukan kepala tanda mengerti maksudnya.
Akhirnya si abang bercerita juga mengenai kebiasaannya suka berbicara yang tidak sopan, setelah aku tanyakan dari mana dapat kosa kata yang ‘luar biasa’ itu, ceritanya panjang ternyata. Si abang mendapatkan semua itu dari teman-teman di tempat tinggal yang dulu. Terungkap sudah ternyata sering dia berbicara tak sopan hanya saja teman-teman yang lain tidak pernah bercerita dan saya kecolongan, cerita berlanjut rupanya abang pun tak tahu maksud dari kata-kata yang tidak baik itu. Ini menandakan dia betul-betul hanya mengcopy paste apa yang dia lihat dan dia dengar tanpa tahu apa sebenarnya itu. Anak-anak itu jujur apa adanya, tak perlu banyak bicara cukup sedikit cerita dan sedikit bertanya, maka kita akan mendapatkan sebuah cerita yang utuh dari mereka.

Rate this article!
author

Author: 

Leave a Reply