Tautan Ukhuwah Beraroma Surga

Surga..tempat abadi dengan limpahan kenikmatan yang tiada tandingannya dan tidak dapat dijumpai di dunia. Allah telah menjelaskan dalam Alquran siapa saja yang akan menjadi penghuni surga. Lalu apa hubungannya dengan ukhuwah?
Secara etimologis, ukhuwah berarti persaudaraan, dalam Islam dikenal istilah ukhuwah Islamiyah yang bermakna persaudaraan Islam. Adapun secara istilah ukhuwah Islamiyah adalah kekuatan iman dan spiritual yang dikaruniakan Allah kepada hambaNya yang beriman dan bertakwa yang menumbuhkan perasaan kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, dan rasa saling percaya terhadap saudara seakidah.
Sejenak mengenang perjalanan hijrah Rasulullah SAW, suatu hari ketika Abu Bakar ash Shiddiq mendampingi Rasulullah SAW dalam hijrahnya menghindari kejaran kaum Quraisy dan bersembunyi dalam gua Tsur. Ketika beberapa orang Quraisy mengetahui tempat persembunyian mereka, Abu Bakar mulai resah. Bulir air mata Abu Bakar jatuh ke pipi Rasulullah SAW yang sedang berbaring di pangkuan Abu Bakar. Rasulullah terbangun dan berkata, “Janganlah bersedih, Abu Bakar. Allah bersama kita.” Sebuah perkataan lembut dari Rasulullah SAW yang mampu menguatkan hati Abu Bakar.
Begitulah indahnya ukhuwah karena iman, saling menguatkan, saling menasehati ketika yang lain khilaf, saling menjaga agar selalu dalam kebaikan, dan saling berbagi. Belajar untuk saling berlemah lembut, mencintai, mengasihi, menghormati, mengokohkan, memaafkan, dan saling mempercayai. Begitulah indahnya ukhuwah, ketika ruh-ruh diakrabkan oleh iman bagaikan cahaya di atas cahaya, sebuah anugerah tiada tara dari Allah bagi para mukmin dengan menautkan hati mereka dalam iman.
Menurut ustadz Salim A.Fillah, ukhuwah adalah ruh-ruh yang diakrabkan oleh iman.
Ukhuwah Islamiyah bersifat abadi dan universal karena berdasarkan akidah dan syariat Islam. Dalam Islam, diajarkan bahwa sesama muslim hendaknya saling mendoakan, bagi yang telah meninggal maka kewajiban muslim yang masih hidup untuk mendoakannya, sesuai dengan terjemahan ayat berikut ini:
“Maka ketahuilah, bahwa tidak ada Tuhan (yang patut disembah) selain Allah, dan mohonlah ampunan atas dosamu dan atas (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat usaha dan tempat tinggalmu.” (QS. Muhammad : 19)
Ukhuwah Islamiyah memiliki sejumlah tahapan, seorang muslim tidak dapat menggapainya tanpa melaluinya. Tiap tahapan ini memiliki rambu-rambu dan etika-etikanya, yang akan berujung pada ukhuwah Islamiah yang kokoh.
1. Ta’aruf (saling mengenal)
“Hai sekalian manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kalian dari laki-laki dan perempuan dan Kami jadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah yang paling taqwa di antara kalian. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat:13)
Hal ini mengharuskan seorang muslim mengenal saudaranya. Bahkan harus mengetahui hal-hal yang disukai dan hal-hal yang tidak disukainya hingga dapat membantunya jika ia berbuat baik, memohonkan ampun untuknya jika ia berdosa, mendoakan untuknya dengan kebaikan jika tidak berada di tempat dan mencintainya jika ia bertaubat.
2. Ta’aluf (saling bersatu)
Bermakna bersatunya seorang muslim dengan muslim lainnya.
“Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara.” (QS. Ali Imran: 103)
Rasulullah SAW bersabda :
“Ruh-ruh itu ibarat tentara-tentara yang terkoordinasi; yang saling mengenal niscaya bersatu, sedangkan yang tidak saling mengenal niscaya berpisah.” (HR. Muslim)
Maka salah satu kewajiban ukhuwah hendaknya seorang muslim melakukan hal-hal yang bisa menyatukan dirinya dengan saudaranya.
3. Tafahum (saling memahami)
Diawali dengan kesepahaman dalam prinsip-prinsip pokok ajaran Islam, lalu dalam masalah-masalah cabang yang juga perlu dipahami secara bersama. Seorang muslim yang berusaha mencapai tingkat tafahum dituntut agar mampu mengendalikan diri, menguasai perasaan dan emosi serta mengarahkan tingkah lakunya dan pergaulan ke arah kemanusiaan yang bermartabat, bersopan santun dan bertenggang rasa, tidak melukai perasaan atau menyakiti hati orang lain tanpa alasan.
Akhlak yang baik dapat mengubah lawan yang dibenci menjadi kawan yang disenangi. Itu lebih baik daripada menambah musuh. Tidaklah sama kebaikan dan kejahatan.
“..Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkan-lah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya. (QS. Ali Imran:159)
4. Riayah (perhatian)
“Tidaklah beriman seseorang dari kalian sehingga ia mencintai untuk saudaranya sesuatu yang ia cintai untuk dirinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Salah satu bentuk perhatian adalah hendaknya seorang muslim menutupi aib saudaranya.
“Tidaklah seorang hamba menutupi aib hamba yang lain kecuali Allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (HR. Muslim)
Bentuk perhatian lainnya adalah berusaha untuk menghilangkan kecemasan saudaranya apabila sedang tertimpa kecemasan, meringankan kesulitan yang dihadapinya dan membantunya dalam memenuhi kebutuhannya serta memenuhi hak-hak saudaranya.
Hak seorang muslim atas muslim lainnya ada enam. Ditanyakan, apakah keenam hak itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda:
“Jika engkau berjumpa dengannya maka ucapkanlah salam, jika ia mengundang maka penuhilah undangannya, jika ia meminta nasihat kepadamu maka nasihatilah, jika ia bersin lalu memuji Allah maka ucapkanlah: yarhamukallah, jika ia sakit maka kunjungilah, dan jika ia meninggal maka antarkanlah jenazahnya”. (HR. Muslim)
5. Taawun (saling membantu)
Allah SWT telah memerintahkan hamba-hambaNya yang beriman untuk bantu-membantu dalam melaksanakan kebaikan dan dalam meninggalkan kemungkaran.
Indikasi-indikasi taawun yang dilaksanakan oleh orang-orang yang berukhuwah dalam Islam diantaranya:
– Taawun dalam memerintahkan yang ma’ruf, mengamalkan kebaikan, dan melaksanakan ketaatan sesuai dengan petunjuk Islam. Sebaik-baik sahabat adalah yang mengingatkanmu apabila lupa dan membantumu apabila ingat.
– Taawun dalam meninggalkan kemungkaran, hal yang diharamkan dan bahkan hal yang makruh
– Taawun dalam upaya mengubah manusia dari satu keadaan kepada keadaan lain yang lebih diridhai Allah SWT.
6. Tanashur (saling menolong)
Masih sejenis dengan ta’awun, tetapi memiliki pengertian yang lebih dalam dan lebih menggambarkan makna cinta dan loyalitas. Tanashur diantara dua orang yang berukhuwah dalam Islam memiliki banyak makna, di antaranya:
– Seseorang tidak menjerumuskan saudaranya kepada sesuatu yang buruk atau dibenci
– Mencegah saudaranya dan menolongnya dari setan yang membisikkan kejahatan kepadanya dan dari pikiran-pikiran yang buruk yang terlintas pada dirinya untuk menunda pelaksanaan amal kebaikan
– Menolong menghadapi setiap orang yang menghalanginya dari jalan kebenaran
– Menolongnya, baik saat menzhalimi (dengan cara mencegahnya dari perbuatan zhalim) maupun saat dizhalimi (dengan berusaha menghindarkannya dari kezhaliman yang menimpanya)
Tidak akan terjadi tanashur diantara orang-orang yang bersaudara dalam Islam kecuali masing-masing bersedia memberikan pengorbanan untuk saudaranya, baik pengorbanan waktu, tenaga, maupun harta.
7. Itsar (mendahulukan kepentingan saudaranya daripada kepentingan dirinya sendiri)*
Suatu episode lain dari sekian puluh kejadian-kejadian kisah Rasulullah SAW dan para sahabat, adalah Abdurrahman bin Auf yang Muhajirin dan Saad bin Rabi yang Anshar. Selayaknya kaum Muhajirin yang meninggalkan kampung halaman tanpa banyak perbekalan, Ibnu Auf mulanya jelas terbilang miskin. Sebaliknya Saad bin Rabi adalah aghniya, hartawan dengan kekayaan melimpah. Keduanya dipersaudarakan oleh Rasulullah saw.
Terjadilah dialog dengan muatan ruh ukhuwah Islamiyah sejati antara keduanya.
“Berkata Saad, “Akhi, aku adalah penduduk Madinah yang kaya. Pilih separuh hartaku dan ambillah! Dan aku punya dua istri, pilih yang menarik hatimu, biar nanti kucerai salah satunya hingga engkau bisa memperistrikannya.”
Dengan penuh kasih Abdurrahman bin Auf menjawab, “Semoga Allah merahmatimu, harta dan istri-istrimu. Sekarang, tolong tunjukkan di mana letak pasar, biar aku bisa berdagang.”
Penggalan kisah diatas merupakan kisah sejati yang menggambarkan ruh itsar kepada kita.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply