Tamu yang Tahu Diri

Menit-menit nenjelang adzan maghrib membuat Bu Joko makin sibuk di dapur. Tya, anak gadisnya yang beranjak remaja juga ikut sibuk, mengisi gelas-gelas kosong dengan sirup berwarna merah merk terkenal untuk buka puasa. Belum juga siap hidangan buka puasa, adzab maghrib berkumandang, bersamaan dengan datangnya sebuah mobil yang berhenti tepat di depan rumah mereka.

“Assalamu’alaikum.”

“Bun…itu siapa?” Iwan setengah berteriak bertanya pada ibunya.

“Gak tau Dek, kasih tau Ayah aja, ada tamu gitu, mungkin temannya yang bawain galon pesenan kita itu.” Bu Joko memerintah anaknya sambil masih pontang panting menata hidangan buka puasa di meja. Dan ternyata benar, tamu yang datang itu pak Nawi, teman suaminya yang mempunyai bisnis air isi ulang.

“Wa’alaikum salam.” Iwan menjawab salam sambil membukakan pintu.

“Bun … ini loh ada pak Nawi sama istrinya.” Pak Joko memanggil istrinya dari ruang tamu.

“Iya Pak sebentar.” Bu Joko buru-buru merapikan baju dan mengenakan jilbabnya untuk menemui tamunya.

“Bun, bikinin minuman ya buat tamu kita.” Pak Joko menghampiri istrinya yang masih merapikan dandanannya di kamar.

“Iya pak, ini juga mau kok.” Dalam hatinya dia agak menggerutu,

“Heehhh … itu orang kebiasaan, selalu datang pas adzan maghrib, bikin repot saja.” keluhnya.

“Lagian aku gak nyiapin makanan banyak, nanti kurang dong.” Sungutnya dalam hati, karena merasa tidak rela acara buka puasa keluarganya diganggu orang lain. Dengan setengah kesal Bu Joko berusaha membuat minuman untuk tamunya yang tak diundang itu. Hampir saja gelas yang dipegangnya jatuh karena terburu-buru dan diwarnai rasa tidak ikhlas.

“Bun, lihat nih, tamunya bawa bekal banyak sekali.” Pak Joko memanggil lagi istrinya yang sedang mengaduk sirup berwarna merah.

“Iya Pak, ini minumnya sudah siap kok.” Bu Joko berusaha ramah.

Dan … alangkah kagetnya saat ia ke ruang tamu membawa minuman, meja tamu sudah penuh dengan segala hidangan buka puasa yang dibawa oleh tamunya itu. Ada bihun goreng beserta sambel kacang, kurma, kolak, pisang import dan buah-buahan lainnya. Ia sendiri belum mengeluarkan suguhan untuk menjamu tamu yang tahu diri itu. Untuk menutupi rasa malu yang menghinggapi dirinya, segera ia keluarkan takjil yang ia buat tadi, walaupun meja sudah penuh bu Joko tetap memaksakan membawa makanannya untuk menjamu tamu mereka itu.

“Sudah Bu, ini saya sudah bawa sendiri, gak usah repot-repot. Kami memang sengaja membawa bekal karena memang sekalian mengantar pesanan air galon ke banyak tempat. Sudah kami prediksikan pasti tidak akan mungkin maghrib di rumah. Kebetulan pas maghrib kami tiba di sini.” Pak Nawi menjelaskan pada bu Joko sembari menawarkan segala makanan yang ia bawa.

Bu Joko tak dapat berkata apa-apa hanya tersenyum dan tentu saja malu teramat sangat pada dirinya sendiri. Dalam hatinya ia segera beristighfar.

“Ya Allah, betapa malunya diriku. Sungguh aku telah menjadi manusia yang serakah. Aku mohon ampun ya Allah.” Bisiknya dalam hati sambil terus berulang-ulang istighar.

Tak lama setelah sholat maghrib, tamu pun pulang dengan memberikan semua bekal yang mereka bawa untuk keluarga Pak Joko, dan sebagian besar bekal tersebut masih utuh tak tersentuh. Semakin malu perasaan nyonya rumah itu, ia hanya menunduk lesu menyadari kesalahannya. Astaghfirullah…

Rate this article!
Tamu yang Tahu Diri,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: