TAK PERLU BERPUASA DI HARI PERTAMA RAMADHAN

TAK PERLU BERPUASA DI HARI PERTAMA RAMADHAN

Oleh Abdullah Makhrus, S.Pd.

https://www.dropbox.com/s/se91mctt9uy0bpr/aku%20tidak%20puasa1.jpg?dl=0

Hari pertama puasa Ramadhan ini bagi saya terasa rasanya aneh. Kenapa demikian? Karena saya melihat suasana yang sangat bertolak belakang dari hari-hari sebelumnya. Jika biasanya sholat subuh di mushollah di perumahan saya hanya terisi satu shaf saja, dan itupun tidak penuh. Ternyata hari pertama Ramadhan ini tampak shaf pertama hingga shaf terakhir penuh dengan jamaah. Jika biasanya iqomah begitu lambat dilantunkan oleh muadzin, tiba-tiba hari ini cepat sekali. Baru saja selesai adzan dan baru beranjak melangkahkan kami ke mushollah, eh ternyata saya sudah ketinggalan satu rakaat. Aduh….  aneh sekali Ramadhan tahun ini. Astaghfirullah…

 

Sebenarnya hari ini tak perlu puasa gumamku dalam hati. Mengapa? Ya… Andai Allah tak mewajibkan pada setiap muslim untuk berpuasa tentu saya tidak akan berpuasa hari ini. Tapi sebagai seorang hamba, saya diajarkan guru ngaji saya untuk melakukan apa saja yang di perintahkan Allah lewat RasulNya tanpa protes sedikitpun. Just do it!!! Kata guru saya, di balik sebuah perintah ketaatan maka pasti ada kemaslahatan menyertainya.

 

Saya jadi teringat dan merenung suatu saat ketika saya bertadarus membaca kalamullah pada ayat ini

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانتَهُوا

“Dan apa yang diberikan Rasul (Shallallahu ‘alaihi wasallam) kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”(QS. Al-Hasyr : 7)

 

Apa saja yang diajarkan Rasul maka semua mesti kita lakukan (di larang protes). Lalu saya jadi teringat beberapa peristiwa yang dialami oleh Nabi dan Rasul yang mendapat gelar ulul azmi yang memiliki mukjizat yang luar biasa dan diluar nalar manusia normal seperti saya saat ini.

 

Saya merenungkan, kenapa juga nabi musa memukulkan tongkat ke laut padahal dia tau bahwa tongkatnya semula hanya bisa berubah menjadi ular.  Namun karena Allah memerintahkan Nabi Musa untuk memukulkan tongkatnya ke laut, Nabi Musa yang saat itu sedang galau karena dikejar rombongan pasukan firaun melakukan saja yang diperintahkan Allah dan ternyata terjadilah keajaiban hingga laut terbelah dan akhirnya beliau dan umatnya selamat. Bukti ini masih bisa kita baca di ayat berikut
“Dan (ingatlah) ketika Kami membelah laut untukmu (Nabi Musa) sehingga kamu (Nabi Musa dan Bani Israil) dapat Kami selamatkan dan Kami tenggelamkan (Fir’aun dan) pengikut-pengikut Fir’aun, sedang kamu menyaksikan” (QS: Al-Baqarah:50) 

 

Saya juga membayangkan ketika Nabi Ibrahim diperintahkan Allah untuk menyembelih putra kesayangan yang sudah lama ia nantikan kehadirannya. Beliau pasrah saja pada Allah dan menuruti perintahNya tanpa protes sedikitpun. Inipun masih bisa kita baca di ayat ini

 

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya di atas pelipisnya, (nyatalah kesabaran keduanya). Dan Kami memanggilnya: “Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(QS. Ash-Shaaffaat: 100-107)

Subhanallah, Allah ganti semua kesedihan dan kegalauan nabi Ibrahim dengan tebusan yang luar biasa. Ketika ia melakukan semua perintah Allah meski berat ia rasakan.Membaca dua ayat ini rasanya tak pantas saya kemudian ketika mau mengajukan protes pada Allah, mengapa kita mesti puasa? Kan lapar, haus, lelah seharian tanpa tenaga. Tapi rupanya Allah telah menyediakan hadiah istimewa bagi saya dan kawan semua bagi yang mau berpuasa.

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

“Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

Allah ternyata  secara langsung membuat “konferensi pers” bahwa puasa dapat menerbitkan kebahagiaan pada hati orang-orang yang melaksanakannya. Beban berat yang kita rasakan selama  berpuasa dengan menahan segala keinginan syahwat kelak berakhir dengan berjuta kebaikan yang menyenangkan, baik di dunia ketika berbuka nanti(pas maghrib ya… jangan pas adzan dhuhur J ), apalagi di akhirat bisa bertemu langsung dengan Rabbul “alamin. Kesempatan bisa bertemu dengan presiden saja begitu sangat menggembirakan bagi saya, apalagi bertemu Rabb yang menciptakan presiden. Sungguh karunia yang tak akan sebanding dengan kenikmatan apapun di dunia ini.

Jadi, kira-kira saya perlu apa tidak untuk  berpuasa di hari pertama ramadhan ini menurut kawan-kawan? Bantu jawab ya… hehe.. 🙂

#sahurkata, #KMO01, #sarapankata

Tags: