Tak Kenal Maka Ta’aruf

Ketika datang seseorang kepadamu dan meminta untuk Ta’aruf apakah yang akan kalian lakukan? Dan jawaban apa yang akan kalian berikan kepadanya? Kita sering mendengar kata –kata yang sering kali orang katakana “ Tak kenal Maka tak sayang” namun ada juga yang mengatakan “Tak Kenal Maka Ta’aruf ” kalimat ini sering kali kita jumpai dan sudah menjadi ciri khas setiap kali kita memulai suatu pertemuan, seperti memulai perkuliahan dan pertemuan- pertemuan yang lain.  Terkadang ketika kita mencintai atau menyukai seseorang mereka selalu dan ingin segera mengungkapkan isi hatinya, karena mereka berpikir dan khawatir  orang yang mereka cintai akan diambil orang. Bahkan saya sering mendengar ada ungkapan “ Takut Di Tikung” dan ungkapan yang lain sebagainya. Padahal kita tidak harus merasa takut dan khawatir kalau orang yang kita cintai diambil orang, karena jodoh takkan kemana jika dia memang jodoh kita maka sesulit apapun kita dan rintangan apapun yang terjadi pasti pada akhirnya akan bersatu. Pada pada zaman sekarang diera globalisasi ini para remaja inginnya instan dan jarang diantara mereka para remaja yang mengikuti perintah dan anjuran agama islam.

Dalam agama islam ketika kita merasa cocok dan condong terhadap lawan jenis dan kita merasa mantap dan siap maka ajaklah dia untuk berta’aruf, temui orang tuanya dan mintalah restu mereka. Semua itu lebih baik daripada ketika kita mencintai dan menyukai seseorang alangkah baiknya ajaklah ia untuk ta’arufan daripada mengajaknya untuk pacaran.

Dalam proses ta’aruf dianjurkan untuk merahasiakannya. Dalam sebuah hadits mengatakan “ Rahasiakan pinangan, umumkanlah pernikahan” (HR. Ath Thabrani). Berbeda dengan pernikahan yang dianjurkan untuk disebarluaskan, pinangan atau lamaran pernikahan justru dianjurkan untuk dirahasiakan. Bila pinangan perlu dirahasiakan, tentu proses ta’aruf yang mendahului pinangan tersebut juga perlu dirahasiakan. Dalam sebuah hadits lain mengatakan  “Janganlah salah seorang dari kalian berdua-duaan dengan wanita, karena setan akan menjadi ketiganya” (HR. Ahmad dan Tirmidzi).

Tidak ada proses ta’aruf yang dijalani berduaan saja antara pihak yang berta’aruf, perlu pelibatan pihak ketiga untuk mendampingi proses sehingga menutup celah setan menjadi yang ketiganya. Pihak ketiga ini bukan berarti seorang saja, tapi bisa juga saudara atau beberapa orang terdekat yang anda percayai untuk mendampingi selama proses ta’aruf anda jalani. Dengan demikian tidak ada jalan berduaan, makan berduaan, boncengan motor berduaan, naik mobil berduaan, dan kegiatan berduaan lainnya dalam aktivitas ta’aruf. Harus ada orang ketiga untuk mencegah ‘khilaf’ yang bisa saja terjadi karena aktivitas berduaan tersebut.

Demikian juga dalam komunikasi jarak jauh lewat telepon, SMS, atau fasilitas chat menggunakan Facebook, Whatsapp, atau BBM. Meskipun tidak berdekatan secara fisik namun perlu diingat bahwa aktivitas zina ada macam-macam  tidak hanya zina fisik tetapi ada juga zina hati dalam bentuk angan-angan, khayalan, dan ungkapan mesra yang belum saatnya diberikan. Bila hati susah dijaga, libatkan juga orang ketiga dalam komunikasi jarak jauh ini untuk menghindari zina hati. Banyak kita temui para akhwat atau pihak yang berta’aruf mereka memberi beberapa pertanyaan dan ungkapan yang sekedar mereka lontarkan kepada pihak ikhwan untuk menguji dan melihat keseriusannya dan untuk mengetahui seberapa besar niat baik nya itu. Walaupun pada dasarnya akhwat tersebut tidak seperti apa yang ia katakana. Seperti ungkapan- ungkapan “saya tidak bisa masak, saya orangnya jelek” dan lain sebagainya. Mungkin kita sering mendengar kisah teman –teman kita ketika ada seseorang yang ingin mengajak ta’aruf dan setiap orang mempunyai kriteria ungkapan yang berbeda- beda karena beda kepala berbeda pendapat dan pemikiran.

Bersambung,,,,,,

Rate this article!
Tak Kenal Maka Ta’aruf,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: