TAHU TEPO, SPIKUS, DAN MAJELIS MIE

Oleh : Abdullah Makhrus

Lebaran 1438H, Alhamdulillah sudah lewat  dua hari yang lalu. Membicarakan lebaran biasanya  didominasi kisah aneka hidangan kue ataupun makanan yang lezat saat bersilaturahmi bersama keluarga. Namun, ada kisah yang masih terngiang di benak saya di akhir Ramadhan yang lalu. Ya, tepatnya jelang maghrib sebelum berbuka. Tiba-tiba istri ingin berbuka dengan menu yang lain. Namanya Tepo Tahu atau kadang  disebut Tahu Tepo, bukan Tahu Kepo ya…

 

Tahu Tepo adalah makanan tradisional yang terdiri dari bahan dasar tepo, tahu dan aneka bahan tambahan lainnya. Makanan ini sekilas terlihat hampir mirip dengan lontong tahu atau kupat tahu, namun memiliki penyajian dan rasa yang sangat khas. Tahu Tepo yang berasal dari kota Ngawi, Jawa Timur ini merupakan salah satu makanan tradisional yang kini mulai langka dan sulit ditemukan.

 

Salah satu ciri khas dari Tahu Tepo ini adalah penggunaan tepo dan tahu pada bahan dasarnya. Tepo ini merupakan makanan seperti lontong, hanya saja bentuknya beda dan teksturnya lebih lembut. Tahu yang merupakan campuran berikutnya di goreng setengah matang lalu dicampur kacang goreng dan daun seledri.

 

Selain itu kuah Tahu Tepo ini cukup unik dan sederhana, karena hanya menggunakan kecap, air asam jawa dan bumbu halus lainnya. Walaupun terbilang sederhana, kuah Tahu Tepo ini memiliki rasa dan aroma yang khas sehingga dapat menggugah selera kita. Rasanya… Maknyuss…

 

Saya hari ini tidak ingin sekedar membahas Tepo Tahu dari segi komposisi makanan ini saja. Tetapi, saya ingin membahas dari sisi lain yang agak berbeda dan lebih bermakna. Saya ingin membahas dari sisi kenapa makanan ini jadi lebih enak dan lebih mahal dari makanan tahu biasanya.

 

Padahal tahu yang biasanya kita beli di pasar, murah sekali. Tapi dengan sedikit sentuhan inovasi dan modifikasi, makanan yang semula di hargai murah ini bisa berubah menjadi mahal. Inovasi lain dari makanan berbahan tahu ini ada sate tahu, tahu tek atau kerupuk tahu.

 

Begitupula dengan kue lapis. Ada satu inovasi kue lapis di Surabaya yang dikenal dengan nama kue lapis spikus, oleh-oleh khas Surabaya. Kue lapis yang semula dipasarkan offline ini kemudian bermetamorfosis lewat online via facebook dan instagram.

 

Kue lapis spikus dengan akun instagram @spikukukus,  _followernya_ saja sudah mencapai 18.5K. Kue ini kini telah menjadi buruan pecinta kuliner kue di seluruh Indonesia. Mengapa jajanan ini diburu banyak pecinta kuliner?. Jawabannya, tentu karena inovasi yang tiada henti yang dilakukannya. Maka, jangan salahkan saya jika setelah Anda mencicipinya nanti, maka Anda akan ketagihan seterusnyaJ.

 

Lain lagi dengan kuliner yang dikenal dengan sebutan Majelis Mie(dulunya Mie Akhirat). Kuliner berbahan dasar tepung yang satu ini juga tak mau kalah untuk berinovasi guna memikat hati pelanggan setianya. Ini terbukti dari jumlah _folllower_ di akun Instagram @Majelismie ini yang kini telah menembus angka 33,2K. Ini menunjukan pada kita, bahwa inovasi yang dilakukan tidak bisa dikatakan main-main saja.

 

Dengan usaha keras dan sungguh-sungguh, mulai dari kreasi menu yang inovatif, hingga pelayanannya yang ramah dan hemat waktu, menggoda hati siapa saja yang mampir ke outlet ini.  Jualan mie ayam yang umumnya hanya seharga ribuan, kini bisa dijualnya dengan harga dua sampai tiga kali lipat. berkat kerja keras dan inovasi dari menu, hingga inovasi pada logo outlet yang harus ditebus dengan harga puluhan juta rupiah.

 

Ya, inovasi memang terkadang harus ditebus dengan merogoh kocek yang cukup dalam. Dari situlah nilai  dan harga sebuah produk bisa dilipatgandakan. Bahkan, konsumenpun harus rela antri untuk bisa menikmati sajian kuliner-kuliner bergengsi ini.

 

Tanpa inovasi sebuah produk bisa stagnan kalau tidak dikatakan mati suri bahkan diakuisisi oleh kompetitor baru yang bermunculan setiap hari. Hingga ada yang lebih sadis mengatakan, *“Tanpa Inovasi, Mati”*.

 

Masih ingatkah Anda pada kisah Yahoo sudah diakuisisi Verizon?. Ya, sebuah akhir tragis ikon internet yang begitu adidaya. Walaupun mungkin Anda juga masih pakai email akun yahoo sampai sekarang.

 

Yang paling menyedihkan dan menyayat hati, Yahoo hanya diakusisi Verizon dengan nilai 65 Triliun saja. Padahal di tahun 2000, nilai Yahoo sempat tembus sekitar 1300 Triliun.

 

Bahkan sekitar 6 tahun lalu Yahoo sempat ditawar Microsoft 650 Triliun. Namun tidak dilepas dan sekarang dilepas di harga 65 Triliun. Ini namanya apes kawan. Kisah kejatuhan Yahoo, adalah kisah kelam tentang inovator yang dilema dan menganggap sebelah mata kompetitor. Ketika jaya terlena, entah malas atau lupa bernovasi.

 

Begitu banyak analisis yang mempertanyakan, “Kenapa yang dulu melahirkan Facebook bukan Yahoo yang saat itu punya segalanya?”. Banyak analisis yang tertegun kenapa yang melahirkan Instagram bukan Yahoo yang dulu punya flickr yang perkasa.

 

“Ah, Cuma mainan anak kampus doang”, kata Yahoo saat Facebook hadir. Saat Instagram hadir, Yahoo dengan flickr santai saja karena yakin dengan kebesaran dan kejayaan mereka. Ternyata itu penyakit khas inovator. Terlalu yakin dengan produk sendiri. Cuek terhadap lawan baru dan kecil. Itulah misteri inovasi yang selalu penuh misteri.

 

Saat jaya, Yahoo juga pernah ditawari membeli Google di tahun 2002 dengan harga 13 Triliun. Tapi Yahoo menolak dengan alasan kemahalan. Kini tahukah Anda, berapa nilai Google sekarang?

 

Website yang paling sederhana di dunia, yang hanya memuat satu kotak kosong dan tombol google search itu sekarang senilai 8000 Triliun. Itulah takdir Yahoo batal dapat untung 8000 Triliun, malah harus dijual dengan harga hanya 65 Triliun.

 

Nasib yang hampir sama terjadi dengan Yahoo dialami ‘saudaranya’ yang benama BlackBerry, ponsel yang pernah menjadi simbol status di antara eksekutif perusahaan di seluruh dunia. Beberapa tahun berjaya, mereka kemudian “menyerah tanpa syarat” dengan serbuan iPhone dan Android. Hingga akhirnya perusahaan ini melakukan pemutusan hubungan kerja ratusan pegawainya di Kanada dan Amerika Serikat.

BlackBerry dan Yahoo lalu membuat sistem operasi sendiri tahun lalu, tapi sudah terlalu terlambat. Android dan sistem operasi iOS telah jauh melesat di depan. Selalu saja terjadi, dan ini semestinya menjadi pelajaran saat Anda kini menjadi market leader. Ingatlah kecenderungan perusahaan raksasa selalu meremehkan pemain baru dan kecil. Kata Upin-Ipin, “Tak patut”. hehe…

 

Sama halnya dengan kepribadian seseorang. Seseorang yang yang tidak mau berinovasi dan tidak mau mengubah dirinya menjadi pribadi yang terbaik, maka bersiap saja menjadi orang yang biasa saja. Tidak ada kesitimewaan yang melekat pada dirinya.

 

Hanya manusia yang mau berinovasi menjadi manusia yang dalam bahasa Al Quran disebut manusia bertakwa saja yang mendapat keistimewaan di sisi manusia dan di sisi Allah SWT.

 

_“…Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…”_ *(QS. At Thalaq :2-3)*

 

Selamat berinovasi kawan, mari berubah menjadi pribadi yang mempertahankan ketakwaan diri sebagai hasil gemblengan sebulan Ramadhan. Tantangan kita makin berat, karena kita akan menjalani sebelas bulan ke depan tanpa mendapat pengawalan.

 

Saya jadi teringat akan pesan guru saya,  ustadz Hanif Anshori sebelum mengakhiri tulisan ini, “Apakah Anda sudah siap berinovasi?”.

 

#Edisi.Kangen.Ramadhan

Ngawi, 27.6.2017

Rate this article!
Tags:

One Response

  1. author

    lisa tinaria11 months ago

    Like. Thx. Tampaknya Sdr Makhrus seorang pengamat bisnis dan atau praktisi.

    Lisa

    Reply

Leave a Reply