Tadabburi Al-Qur’an! Berjuta Keberkahan Didapat

TADABBURI AL-QUR’AN! BERJUTA KEBERKAHAN DIDAPAT

 

كِتَابٌ أَنزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِّيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

 

“Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadamu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai fikiran.” (QS. Shad [38] : 29).

 

Dalam Al-Qur’an ini terdapat kebaikan dan ilmu yang sangat banyak. Didalamnya terdapat petunjuk dari kesesatan, obat dari penyakit, cahaya untuk menerangi kegelapan, setiap hukum yang diperlukan manusia dan dalil yang tegas tentang segala yang diinginkan sehingga menjadikannya semulia-mulia kitab yang diturunkan Allah SWT. (Tafsir As-Sa’di).

Suatu hari Nasruddin Hoja, si tokoh jenaka ahli hikmah, kehilangan sebuah kunci. Kunci tersebut hilang di salah satu sudut bagian dalam rumahnya yang tampak sangat gelap karena tak ada cahaya yang menerangi. Segera kemudian Nasruddin keluar dari rumahnya dan berusaha mencari-cari kuncinya yang hilang tersebut.

Tatkala ia sedang sibuk mencari kunci tersebut, kebetulan lewatlah salah seorang tetangga dan bertanya, “wahai Nasruddin, apa yang engkau cari di luar rumahmu?” Nasruddin menjawab singkat dan cemberut, “kunciku.”

“Kalau begitu, biar aku bantu untuk mencarinya”, si tetangga menawarkan bantuan. “Silahkan saja”, kata Nasruddin, sambil terus saja sibuk mencari. Maka si tetangga pun ikut sibuk mencari kunci Nasruddin yang hilang itu.

Setelah cukup lama mencari dan masih juga belum ditemukan, maka sahabat Nasruddin kembali bertanya dengan nada agak khawatir. “Hai Nasruddin, kira-kira dimanakah lokasi hilangnya kuncimu?” Nasruddin dengan ringannya menjawab, “di dalam rumahku. Letaknya sih tidak jauh dari luar sini.”

Sahabat Nasruddin kaget dengan jawaban Nasruddin dan dengan terheran-heran ia bertanya lagi, “kalau hilangnya di dalam rumah, mengapa engkau mencarinya di luar rumah?” “itulah masalahnya,” sambung Nasruddin. “Di dalam rumahku gelap, sedangkan di luar ini terang. Maka kuputuskan untuk mencarinya di tempat yang terang supaya mudah terlihat,” jawab Nasruddin dengan mantapnya tanpa merasa ada yang salah dengan jalan pikirannya.

Begitulah kondisi kita saat ini, banyak dari kita yang seperti Nasruddin yang mencari “kunci” di luar rumahnya, kita lebih mengutamakan logika (akal pikiran) yang kita lihat saja, seolah-olah kondisi terang di luar bisa membantu kita menemukan “kunci” tersebut. Dengan adanya sumber-sumber ilmu pengetahuan dan tekhnologi yang mudah kita akses dan dapatkan, kita sepertinya sudah menemukan “kunci” kehidupan ini.

Kita bekerja keras menciptakan system moral atas dasar nilai-nilai palsu, membuat hukum-hukum konstitusi atas dasar kepentingan, berlomba-lomba membangun peradaban modern atas dasar keserakahan. Yang semuanya lebih mengutamakan penampilan luar daripada isi, yang semuanya demi memuaskan nafsu syahwat jasmani saja.

Tanpa sadar kita terus berputar-putar di seputar itu saja, terus mencari “kunci” itu, bahkan bukan membuat kita semakin dekat, justru semakin menjauhkan kita dari “kunci” yang seharusnya sudah kita temukan dibalik kemuraman atau kegelapan jiwa kita.

Kunci yang kita cari selama ini adalah Al-Qur’an, sudah Allah berikan sebagai petunjuk dari kesesatan, sebagai penerang dalam kegelapan, obat dari segala penyakit, dan merupakan hukum sebagai ketetapan dalam kehidupan yang diperlukan manusia.

Pertanyaannya sekarang, sudah sejauh manakah Al-Qur’an kita jadikan pedoman hidup kita?.

Sudahkah?, setiap permasalahan yang kita hadapi kita jadikan Al-Qur’an sebagai solusinya.

Sudahkah?, setiap kali hati mengalami kegelisahan atau kekhawatiran yang tak kita ketahui sebabnya, kita dapatkan ketenangan hati dari Al-Qur’an.

Dalam kondisi sakit, Al-Qur’an kita jadikan obatnya?.

Membentuk keluarga dengan Al-Qur’an?.

Membuat kebijakan dengan Al-Qur’an?.

Bahkan menentukan pilihan, kita meminta petunjuk dengan Al-Qur’an?

Jika dari sekian banyak pertanyaan diatas, jawabannya belum. Mulailah dari sekarang kita perbaiki pola kebiasaan interaksi terhadap Al-Qur’an. Jadikan Al-Qur’an benar-benar pedoman hidup kita dalam segala aspek.

Semoga kita dapat menggunakan waktu kita dengan sebaik-baiknya untuk memperbanyak mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an, agar kita mendapatkan berjuta-juta kebaikan dan keberkahan yang terkandung dalam Al-Qur’an, dengan tujuan untuk kita amalkan dan kita jadikan sebagai petunjuk atau pelita untuk menerangi jalan kehidupan kita, aamiin.

Wallahu a’lam bish shawab.

 

IZZUL ALAYDRUS

Ketapang, 09 Januari 2017

 

#SarapanKataKMO01

#1000penulismuda

#KMOIndonesia

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply