Surat Terbuka Untuk Ibu dan Gadget-nya

Kecanduan Gadget

Ibu, ini aku… Anakmu

Miris banget rasanya hati, lihat anak kecil ngomong sendiri di angkot. Padahal ibunya ada, duduk persis di samping anak kecil itu.

Tapi, beliau terkesan cuek. Sibuk dengan handphonenya. Entah ada hal apa yang membuatnya sesibuk itu, hingga menimbulkan kesan tidak peduli pada anaknya.

Ingin rasanya saya menegur beliau, tapi saya tidak punya hak untuk itu.

Bu, dia anakmu. Dia butuh jawabanmu atas semua pertanyaan yang ada pikirannya.

Bu, dia anakmu. Dia perlu penjelasan untuk semua rasa ingin tahunya.

Bu, bukan tidak boleh menyibukkan diri dengan gadget atau hal lain. Tapi, tolong lihat anakmu. Perhatikan dia, Bu.

Saat ini adalah masa emas untuknya. Begitu besar rasa ingin tahunya. Begitu besar pula harapannya untuk mendapat jawaban darimu.

Bu, jangan biarkan dia kehilangan masa emasnya. Hanya karena keegoisanmu yang menyibukkan diri dengan gadget.

Bu, jangan biarkan anakmu berbicara seorang diri. Sehingga mengesankan dia tidak normal, Bu.

Mungkin bagi sebagian orang itu wajar, karena dia anak kecil. Tapi, bagi orang lainnya yang sangat awam, tingkah anakmu akan memberi penilaian negatif, Bu.

Bu, tolong. Sekali lagi tolong perhatikan anakmu. Buah hatimu yang sangat membutuhkan kehadiranmu, sebagai madrasah pertamanya. Banyak hal yang ia ingin pelajari darimu, Bu.

Begitu tega kah dirimu, Bu. Membiarkan buah hatimu kehilangan masa emasnya?

Saya memang belum menjadi seorang Ibu. Tapi saya paham, tugas seorang Ibu tidaklah mudah.

Mengurus rumah, yang kerap kali berantakan.

Mengurus anak dan suami, yang tidak jarang banyak maunya.

Menyiapkan segala kebutuhan mereka, agar tidak kurang satu apapun.

Dan, masih banyak tugas lainmu, Bu. Kalau dirincikan, tidak akan ada habisnya.

24 jam sehari, 7 hari seminggu, tidak ada kata offday untukmu, Bu.

Mungkin ada rasa lelah, Bu. Sehingga Ibu butuh santai sejenak, agar penat Ibu hilang dan berganti dengan energi baru yang lebih fresh.

Tapi, bukan seperti itu caranya, Bu. Sesuaikan lah kondisinya, Bu. Bukankah kebahagian seorang ibu ada saat melihat anaknya bahagia.

Apakah menurut Ibu, anak Ibu bahagia saat tidak dapat respon dari pertanyaannya?

Jujur saya tidak tahu apa yang sedang Ibu kerjakan dengan gadget yang tergenggam di tangan. Begitu sumringahnya senyum Ibu, saat menatap layar.

Yang saya tahu, Ibu seolah lupa ada buah hati yang begitu manis berceloteh dengan banyak pertanyaan tanpa ada jawaban.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply