SUPERMAN

SUPERMAN

“Lisa, nanti kita akan bikin kemunitas menulis di Perusahaan kita. Nah, untuk Kantor Pusat, Lisa mau kan jadi mentornya?” Ini pesan dari Vita. Organisasinya yang mengurus segala sesuatu tentang lomba menulis untuk kalangan internal, sampai akhirnya muncul namaku sebagai salah satu pemenang. Salah satu konsekwensi aku jadi pemenang adalah pertanyaan di atas.

“Siaaaaap” langsung kujawab pertanyaan itu. Tampaknya inilah dunia yang kucari: menjadi penulis dan menjadi mentor di komunitas menulis.

Aku mulai membayangkan akan ada pertemuan online dan mungkin copy darat di mana aku akan mengajar, memotivasi, mengoreksi tulisan. Senangnya.

Waktunya kapan? Kupatut – patut diriku. Pertemuan tatap muka tiada lain tiada bukan, hanya bisa kulakukan di luar hari kerja alias weekend. Lantas pertemuan online-nya kapan? Tampaknya aku belum punya gambaran.

“Lisa, saya itu nyetir delapan jam sehari”. Aku bertemu Kang Benny di acara workshop kepenulisan yang diselenggarakan Gramedia, minggu lalu. Pembagian waktu menjadi salah satu bahasan kami ketika membincangkan persistensi menulis. Kang Benny, menjelaskan sekilas kegiatan hariannya. Kesimpulannya beliau punya waktu menjalankan peran sebagai mentor di group menulis yang aku jadi anggotanya, setelah lewat tengah malam.

Aku langsung membayangkan tawaran Vita tentang “jabatan” sebagai pembina komunitas menulis di kantor. Aku mulai mengukur diri. Jam 8 tet aku sdh harus duduk di belakang mejaku. Aku tipikal pekerja yang fokus di kantor pada jam kerja untuk meminimalisir bekerja di hari Sabtu (walau kadang itu harus terjadi juga). Berarti selama jam kerja aku tidak bisa berfungsi sebagai mentor menulis. Biasanya aku bekerja hingga adzan magrib. Setelah sholat maghrib, baru aku pulang.

Sesampai di rumah aku mempersiapkan makan malam, makan, ngobrol sebentar, mandi, mencuci, sholat, tilawah, dan, dan akhirnya ? Oh, sudah lewat jam sembilan malam. Inilah saatnya aku bisa menulis atau membaca berita di sosmed. Nonton TV? Sudah lama aku tak punya TV. Tujuannya adalah agar aku efektif dalam mengatur waktu.

Melewati jam 10, mataku mulai lima watt. Kadang aku bisa bertahan sampai jam sebelas dengan konsekwensi aku ngantuk berat setelah shubuh. Pagi hari aku sudah bersiap ke kantor, termasuk mempersiapkan sarapan dan kadang bekal makan siang. Lalu, kapan aku bisa jadi mentor menulis?
Cita citaku sebagai penulis sudah kutulis di langit. Rasanya malu kalau aku menghapusnya. Konsekwensinya sudah pula kuhitung, termasuk alokasi waktu harian dan mingguanku. Namun, ketika membandingkan diriku dengan Kang Benny, aku agak sangsi dengan kemampuanku. Tampaknya Kang Benny mirip Superman dalam hal ini.

Bandung, 08 10 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
SUPERMAN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply