Sudahkah Kita Menjadi Orang Tua Yang Baik Menurut Anak?

Menjadi orangtua yang baik tidaklah mudah. Menjadi orangtua tidak hanya sekedar memberi makan, menyekolahkan dan memenuhi kebutuhan materilnya saja. Orangtua yang baik tidak bisa hanya memasrahkan ibu dan bapak guru untuk mendidik anak kita. Pendidikan di sekolah hanyalah pendidikan formal dan tidak melibatkan pendidikan moral anak. Pendidikan yang sesungguhnya itu dimulai dari rumah dan berakar dari rumah.

Bila kita disuruh menuliskan seperti apa anak kita dimata kita sebagai orangtua? Dengan mudah kita bisa menuliskan segudang kesalahan anak sbb:

  • Malas belajar
  • Tukang jajan
  • Gak mau nurut
  • Suka ngambek
  • Tukang main game
  • Nakal
  • Susah diatur
  • Suka bertengkar
  • Susah makan
  • Tidak mau membantu orangtua
  • Manja
  • Tidak Mandiri
  • Banyak alasan dan suka membantah

Wah pintar sekali, kita hanya membutuhkan beberapa menit saja untuk menuliskan sejumlah keburukan anak dimata kita. Kita terlupa kalau untuk terjadinya keseimbangan kita perlu membalik sejumlah pertanyaan diatas terhadap kita. Kita juga perlu mengetahui seberapa baik/buruk kita dari sudut pandang seorang anak.

Untuk mengetahuinya kita juga membuat daftar tentang “ Seperti apakah orang tua dimata anak”. Minta anak untuk menuliskannya dan jangan sekali-kali begitu membaca kita langsung menyangkalnya “ Ih..itu kan menurut kamu, kayaknya mamah gak kayak gitu deh..!.” . Kita sedang menggali pendapat jujur dari anak tentang kita.

Jadi bukan tentang salah atau benarnya tetapi kita juga perlu mengetahui sudut pandang orang lain tentang perilaku kita selama ini.

Sesudah kedua daftar ( kita dan anak ) selesai dibuat, kita bersama membacanya. Jika ternyata banyak sekali komentar negatif anak terhadap kita. Itulah kacamata mereka tentang kita. Berlapang dadalah bawwa banyak sekali kekurangan kita dimata mereka.

Apa yang harus kita lakukan agar kita dan anak sama-sama berubah menjadi pribadi yang lebih baik?

 

  1. Berlapang dadalah dengan meminta maaf terhadap anak atas semua kesalahan kita

Tidak mudah untuk meminta maaf atas kesalahan, apalagi itu kita lakukan terhadap anak. Biasanya orangtua menyimpan egonya bahwa dia selalu benar. Dalam hal ini kita harus berani dan mengakui kesalahan kita. Karena orang yang paling berani adalah orang yang mau mengakui kesalahan dan mau memperbaikinya.

 

  1. Membuat Komitmen dengan anak untuk sama-sama saling berubah

Bicarakanlah ini secara akrab anak. Coba dengarkan pendapat anak dan jangan dulu disanggah. Minta anak untuk sama-sama saling mengingatkan apabila masing-masing membuat kesalahan. Anak yang sering diminta pendapatnya akan tumbuh menjadi anak yang percaya diri daan merasa dihargai.

  1. Mencoba menahan amarah apabila anak membuat kesalahan

Terkadang bicara dalam keadaan sangat marah akan membuat anda lepas kontrol dalam perkataan dan akhirnya teriakanlah yang keluar dari mulut anda. Jika hal ini terjadi, cobalah anda menarik napas dalam-dalam dan ingat bahwa kita sedang memperbaiki karakter buruk masing-masing. Ingat, bahwa tekad merubah diri haruslah kuat agar semua pihak bahagia.

  1. Cobalah untuk menghentikan perbuatan yang dibenci anak

Meskipun semua yang kita lakukan itu bermaksud baik, terkadang kita melakukannya dengan cara yang salah. Bentakan, teriakan, tuduhan itu biasanya sangat dibenci anak. Ajaklah anak bicara dengan baik dan lemah lembut. Hati mereka akan luluh dan andapun tidak terpaksa menjadi “monster” yang menakutkan bagi anak.

  1. Bangun komunikasi yang baik

Komunikasi! Ya, hanya ini jembatan yang akan mempertemukan kesalahpahaman anda dan anak. Komunikasi yang akrab dan pelukan penuh cinta, itulah yang sangat didambakan anak.

Apabila kita ingin mengubah perilaku anak, kita harus mengubah perilaku kita dulu. Karena disadari atau tidak, kitalah yang membentuk perilaku buruk anak. Semoga dengan selalu belajar dan berintrospeksi, kita bisa menjadi orangtua idaman bagi anak kita.

 

Salam,

Tita Dewi Utara

KMO 07

Sarapan Kata ke 24

 

 

author

Author: