Sudahkah Aku Serius dalam Berdoa ?

Sejatinya doa ada permintaan, permintaan kepada Yang Maha Kuasa untuk memberi. Dalam meminta ada ada tata cara yang perlu diperhatikan. Misalnya saja ketika ingin meminta sesuatu kepada orang lain kita akan berusaha mencari-cari waktu yang tepat untuk menyampaikan niat kita. Mencari cara terbaik untuk menyampaikan sehingga yang bersangkutan bersedia mengabulkan keinginan kita. Memberikan sanjungan kepada yang bersangkutan untuk meluluhkan hatinya. Bahkan terkadang (maaf) kita terkesan merendahkan diri sendiri untuk mendapatkan simpati dari manusia. Kenapa kita melakukan hal tersebut? Karena kita belum menyadari adanya Zat yang Maha baik di atas manusia dan segalanya, mampu memberikan apa yang kita minta berapapun besarnya. Akan tetapi dalam berdoa (meminta kepada Allah) kita terkadang asal-asalan, kesannya kurang serius dan tidak memperhatikan adab dan waktu-waktu mustajab doa dikabulkan. Padahal dalam hal ini harusnya kita lebih serius ketimbang pada saat ingin meminta kepada manusia yang sesungguhnya berada dalam kendali-Nya. Salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa adalah disepertiga malam terakhir, sebagaimana di dalam hadist bukhari dijelaskan bahwa Allah turun ke langit bumi pada sepertiga malam terakhir lalu berfirman “Barangsiapa yang berdoa kepada-Ku, maka akan Aku kabulkan. Barangsiapa yang meminta kepada-Ku, maka akan aku beri. Dan barangsiapa yang memohon ampunan kepada-Ku, maka akan aku ampuni.” Disepertiga malam saat suasana sedang sunyi, sebagian manusia terlelap dalam mimpi cobalah untuk bangun dan menghadap kepada-Nya. Sampaikan apa yang menjadi keinginan kita, mohonkan ampun atas dosa-dosa kita. Sepertiga malam adalah waktu paling romantis untuk bermesraan dengan pencipta dalam keheningan. Tapi tak banyak manusia yang mampu memanfaatkan moment ini dengan baik. Rasa kantuk karena kelelahan mengejar dunia sering kali menjadi alasan untuk mengacuhkan kehadiran-Nya. Dinginnya malam seolah menjadi senjata paling menakutkan untuk melepas selimut dan melangkahkan kaki mengambil air wudhu kemudian bersujud di hadap-Nya. Satu hal juga terkadang menjadi kelalaian kita saat ingin menghadap kepada-Nya yaitu adab. Ketika ingin bertemu manusia yang dianggap terhormat, kita menggunakan pakaian terbaik, memakai wewangian untuk membuat orangnya merasa dihargai. Tapi saat ingin menghadap Allah seringkali berpakaian seadanya bahkan terkesan tidak layak. Menggunakan alat sholat yang tidak dirawat, jarang dicuci sehingga terkadang mengeluarkan bau yang membuat ibadah tidak khusyuk (Nasehat buat diri pribadi yang masih jauh dari sempurna).
Ahh sungguh manusia itu makhluk yang penuh alasan untuk membenarkan sikapnya. Jadi ketika doa kita tak kunjung terkabul cobalah sekali lagi untuk introspkesi diri, sudahkah kita menjadi orang menunjukkan kesungguhan dalam berdoa? Tidakkah kita justru terkesan memaksa Sang Pencipta untuk mengabulkan permintaan kita, sementara kita sendiri mengacuhkan-Nya? (Pertanyaan ini lebih utama saya ajukan untuk diri sendiri yang masih sering lalai).

Rate this article!
Tags:
author

Author: