Stres dan Mules

Siapa yang ketika stres langsung sakit perut dan berasa mules? Saya salah satunya. Jika saya benar-benar stres, saya mules tak peduli dimana pun itu. Saat kuliah dulu setiap ujian praktek yang menegangkan pasti mules di menit-menit menjelang ujian dimulai. Beda halnya dengan teman saya. Ada yang stres jadi haus. Ada juga yang stres jadi banjir keringat. Efek stresnya beda-beda, tapi kenapa mules menjadi efek saya stres. Kalau haus tinggal minum. Kalau keringat tinggal dilap. Nah, kalau mules harus ke toilet. Duh merepotkan! Saya baru tau pagi ini kalau ternyata efek stres ayah saya dulu juga begitu, mules. Apakah efek stres itu menurun? Saya juga tidak tahu. Mungkin sudah ada penelitiannya. Saya belum mencari jawaban tersebut. Stres memang bisa berdampak pada seluruh organ tubuh kita bukan hanya otak bahkan stres juga bisa berakibat emosi dan suasana hati yang buruk. Stres membuat tubuh kita rentan terhadap penyakit dan emosi negatif. Sebenarnya, manusia memang membutuhkan stres dalam kadar yang sesuai. Jika berlebihan, stres ini baru menimbulkan efek yang merugikan.

Menurut sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Psychosomatic Research, stres dapat meninggalkan efek neurologis yang memicu rasa sakit pada kerongkongan dan menyebabkan perut mulas. Bahkan stres yang telah kronis telah dikaitkan dengan sakit perut yang konstan hingga menyebabkan masalah pencernaan serta sindrom iritasi usus besar. (http://m.detik.com/health/read/2012/11/26/180019/2101883/766/stres-bisa-bikin-perut-mulas-tenangkan-dengan-5-cara-ini)

Dari tautan tersebut, cara menangani stres yang mengakibatkan mules bisa dilakukan dengan relaksasi. Dengan kata lain stres sangat dipengaruhi pikiran. Seseorang menjadi stres karena satu hal sedangkan orang lain tidak stres karenanya. Bisa juga sebaliknya terjadi tergantung dari pikiran orang tersebut.

Relaksasi bisa dipelajari dan dilatih. Salah satunya dengan meditasi. Meditasi membuat kita mencapai kesadaran penuh. Istilah mindfullness telah cukup banyak digunakan dewasa ini. Stres dan mules harusnya bisa saya tangani. Mungkin efeknya bisa saya pilih ketika saya benar-benar dapat mencapai kesadaran penuh saya. Bisa saja efek stres saya tidak lagi mules, tetapi haus, berkeringat atau bahkan tersenyum. Who knows? Saya belum mencobanya. Seperti tulisan saya sebelumnya, mendung sudah tidak lagi berarti mellow. Stres pun harusnya tidak lagi berarti mules. Selamat pagi selamat beraktifitas.

Rate this article!
Stres dan Mules,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: