Spion dan Masa Depan

Spion dan Masa DepanSeperti sudah dijanjikan, kami bertemu di depan sebuah minimarket dekat simpang tiga. Kami berdua menunggu sang sopir yang sedari sore kemarin sudah diminta menjemput di tempat itu. Ketika itu dinihari bersamaan dengan bergeliat bangkitnya sang surya dari peraduannya.
Tarmin tertunduk, diam, tangannya membenam jauh ke dalam saku celana, mengelakkan dingin dan tiupan angin subuh itu.

Kurang lebih 10 menit kami disana, ketika nyala lampu mobil mengalihkan perhatian kami. Mobil itu berhenti di depan kami, sang sopir keluar.

“Maaf membuat lama menunggu, tadi isi bensin dulu Pak” sang sopir membukakan pintu.

“tidak apa-apa pak, sudah ga usah repot-repot” Tarmin memegang pintu mobil yang dibukakan Pak Sopir.

“Doy, kamu duduk di depan atau…” sambung Tarmin.

“Aku di depan aja” jawabku seraya membuka pintu depan mobil.

Mobil pun meluncur, pagi itu kami berangkat menuju ibu kota, ada pertemuan yang harus kami hadiri dengan mitra kerja.

Tibalah kami di jalan tol, gerbang tol dengan loket-loket pembayaran berjejer nampak di depan kami. Mobil-mobil berderet mengantri, menunggu giliran. Pekikan klakson menambah suasana ramai pagi itu. Sudah menjadi tradisi nampaknya, gerbang tol yang satu ini selalu padat. Disinilah titik kemacetan dimulai.

Tiba-tiba kami dikagetkan dengan suara dari samping kiri mobil.

“Brakk!” kaca spion sebelah kiri jatuh.

Kami menepi dan berhenti, kaca spion yang jatuh aku ambil.

“Sudah tidak bisa dipakai” pikirku.

Setelah urusan dengan penabrak spion selesai, kami melanjutkan perjalanan. Tanpa spion kiri.
Sungguh keberadaan sebuah kaca spion itu bernilai, Aku sendiri baru menyadari setelah kejadian tersebut. Betapa pentingnya benda kecil itu, meski kecil namun membantu kita melihat ke belakang.

Jika kita berada di dalam mobil, tidak semua area dapat kita jangkau hanya dengan memalingkan muka. Yang ada leher pak sopir pegel, dan tentu hal ini berbahaya.

“Pak sopir, nanti kalo nemu toko peralatan mobil kita beli spion ya” Tarmin meminta.

“Baik Pak”

“Nyaman ga pak nyetirnya?” tanyaku.

“Kalo dibilang nyaman sih enggak mas”

“Tapi ga apa-apa, kan masih ada kaca spion tengah.”

“Mas tau ga? ada pelajaran penting dari sebuah kaca spion” sambung Pak Sopir.

“Apa tuh?” ku perbaiki cara dudukku, menunggu apa yang akan dikatakan Pak Sopir selanjutnya.

“Kaca depan mobil besar, kaca spion kecil itu ada maknanya.” lanjut Pak Sopir.

“Besar berarti kita harus memberi perhatian yang lebih ke depan, jika kita hubungkan dengan kehidupan kita, itulah masa depan.”

“Sedangkan kaca spion ukurannya lebih kecil agar kita selalu ingat, jangan selalu mengingat masa yang sudah kita lewati. Terlampau sering kita melihat masa lalu kita, bisa-bisa kita lengah terhadap masa depan.”

“Tapi…”

“Tapi apa pak?” Tarmin penasaran, rupanya dia pun menyimak apa yang dikatakan Pak Sopir.

“Tapi kita juga perlu sesekali melihat kaca spion yang kecil itu. Maknanya, kita sesekali melihat masa silam agar kita bisa menarik pelajaran dari pengalaman” Pak Sopir pun tersenyum.

“mmm…benar juga ya Pak” Tarmin manggut-manggut.

“Dahulu sukses dan berjaya, kini terjerat kesulitan misalnya. Tak perlu kita mengingat-ngingat kembali masa kita berjaya. Sakit yang ada nantinya” Pak Sopir menambahkan.

Ada pelajaran penting dari perjalanan kami pagi itu.

Kini kita merasakan susah dan perihnya kehidupan, tidak berarti masa lalu kita jauh lebih baik, tidak berarti pula masa depan kita suram nantinya.
Tidak perlu kita terlena dengan masa-masa bahagia dahulu,meski sesekali kita melihat masa silam, fokus pada masa depan itu lebih penting, kita tidak pernah tahu apa yang akan dialami di depan.

Tatap masa depan, jadikan masa lalu sebagai energi untuk kita senantiasa bersyukur kepada-Nya.

Rate this article!
Spion dan Masa Depan,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: