Special for Mom, Sebelum Memutuskan Resign

Banyak juga beberapa teman yang saya kenal, memutuskan untuk resign setelah menikah ataupun setelah mempunyai anak. Saya sangat mengacungi jempol! Dan saya kali ini akan mencoba untuk berbagi tips, terutamanya untuk para ibu yang akan memutuskan resign. Hasil dari perbincangan dengan teman-teman saya.

  1. Pastikan resign itu keputusanmu sendiri, bukan dari orang lain. Kadang memutuskan untuk resign karena saran dari orang lain. Sebaik-baiknya saran dari siapapun, ini hidup kita. Kita yang harus mengambil keputusan itu dan menanggung baik buruk akibatnya. Boleh saja mempertimbangkan saran dari orang lain, tapi pastikan bahwa pada akhirnya ini memang keputusan kita sendiri. Sebelum memutuskan, buat daftar positif dan negatifnya untuk kita. Dan setelah itu murni menjadi keputusan diri sendiri, bertanggungjawablah dalam menjalaninya.
  2. Manfaatkan ilmu kita untuk mendidik anak. Seorang ibu harus tetap mempunyai pendidikan tinggi, karena untuk mendidik anak-anaknya, generasi penerus bangsa. Maka, meski telah memutuskan untuk resign, jangan menjadi alasan berhenti belajar. Berhenti mengembangkan diri. Ilmu yang pernah kita dapatkan di bangku kuliah, suatu saat bisa kita aplikasikan dalam hidup. Meskipun bukan pada karier. Justru dengan menjadi ibu, harus mempunyai wawasan luas, tidak terpaku pada satu ilmu saja. Belajar adalah proses seumur hidup.
  3. Tutup kuping pada omongan orang yang menyampaikan “percuma jadi sarjana”. Ini salah satu efek samping setelah mengambil keputusan resign. Macam-macam pendapat orang lain akan kita dengar. Biarkan saja, karena semua orang berhak mempunyai opininya sendiri. Ingat, seperti yang tadi kita sampaikan, ilmu yang kita dapatkan, suatu saat pasti akan berguna. Karena orangtua adalah pendidik utama bagi anak-anaknya.
  4. Akan lebih baik, bila kita mempunyai usaha dari rumah. Bagusnya lagi bila usaha ini sudah kita mulai sebelum kita resign. Tinggal fokus ke pengembangannya. Banyak orang yang bisa membangun bisnisan, bermodal dari rumah saja. Dengan mengandalkan teknologi, jarak dan waktu bukan halangan untuk menjalankan suatu usaha. Usaha yang sebaiknya yang perlu kita jalani? Tentukan dulu, apa “passion” kita. Suka memasak? Mungkin bisa membuka menjual jajanan anak-anak atau katering. Suka dunia anak-anak? Bisa membuka titipan anak, akan sangat membantu bagi teman-teman yang masih bekerja di kantor. Suka menulis? Banyak jasa penulisan yang bisa kita lirik, dari menjual tulisan artikel, mencoba menerbitkan buku, atau menjadi ghost writer.
  5. Bisnis apapun meskipun dijalani dari rumah harus memiliki jam kerja. Hari-hari setelah resign, mungkin kita akan terkejut. Yang biasanya bangun pagi dan bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Mendadak berubah drastis. Pertahankan kebiasaan kita bangun pagi dan berpenampilan rapi, meskipun hanya di rumah saja. Bila biasa berdandan pagi-pagi, lanjutkan. Penampilan bisa mengubah mood kita seharian. Dan setelah menemukan ritme kerja antara mengasuh anak dan urusan domestik, kita pun harus menentukan jam kerja untuk bisnis yang kita jalani. Enaknya menjadi pemilik bisnis sendiri, kita yang menentukan jam kerja. Dan di sini juga tantangannya,kita yang harus mendisiplinkan diri sendiri untuk terus konsisten. Karena tidak adanya atasan. Resign, bukan menjadi alasan untuk berhenti berkarya, kan.

 

 

author

Author: