Sibling Rivalry Ada Manfaatnya?

Jika Anda telah membaca tiga artikel sebelumnya: Apa Itu Sibling Rivalry?, Penyebab Sibling Rivalry dan Meminimalkan Sibling Rivalry, mungkin Anda akan berkesimpulan bahwa sibling rivalry itu buruk dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Betulkah demikian?

Walau sudah diupayakan agar sibling rivalry minim terjadi, namun ia laksana bawang merah dan putih di masakan Ibu. Ia bisa hadir kapan saja mewarnai persaudaraan anak-anak. Namun, tidak selamanya sibling rivalry itu negatif lho, Bu. Dengan sedikit kesabaran, kita bisa mengakali persaingan ini menjadi positif. Apa iya sibling rivalry ada manfaatnya? Ada!

Tiga manfaat sibling rivalry:

1. Melatih anak untuk mengelola emosinya

Ketika kakak melihat Ibu punya banyak waktu untuk adik bayi, kakak berontak. Segala benda yang ada di dekatnya, kakak acak-acak. Tapi Ibu adalah orang tua yang bijak. Ibu tidak lantas membentak. Ibu mendekat dan bicara lembut padanya. Bahwa semua orang pada awalnya adalah bayi, termasuk kakak. Bayi belum bisa melakukan apa-apa sendiri. Beda dengan kakak yang sudah mahir banyak hal.

Saat anak mulai mencerna nasihat ibu, lalu ia meredakan tantrumnya, kemudian ia manjadi anak yang manis; ini adalah sebuah proses yang tidak mudah bagi anak lho, Bu. Berikan apresiasi jika anak berhasil melewatinya.

Anak yang terbisa mengelola emosinya sejak dini, ia akan memiliki kecerdasan emosional (EQ, Emotional Quotient) yang baik. Ketika anak ‘naik kelas’ bergaul dengan teman-temannya, ia akan menjadi pribadi yang disukai banyak teman.

2. Melatih anak agar belajar dari keberhasilan saudaranya

Anak harus tahu faktanya, bahwa kesuksesan tidaklah datang begitu saja. Keberhasilan ada karena usaha yang nyata.

Ketika kakak menggondol piala olimpiade matematika dan adik belum berhasil, kita bisa katakan pada adik bahwa kakak memang giat berusaha. Kakak menyisihkan waktu bermainnya untuk belajar sebelum olimpiade. Kakak sungguh- sungguh berlatih dan rajib berdoa.

Bagaimana dengan usaha adik? Latih anak untuk mengevaluasi usahanya sendiri.

3. Melatih anak untuk jujur dan berbesar hati mengakui kesalahan

Jika ujung-ujungnya terjadi perseteruan lalu keduanya mengatakan dua hal yang bertolak belakang, tentu salah satunya ada yang jujur dan yang lain berkata dusta. Momen ini bisa kita jadikan materi pembelajaran bagi anak-anak. Bahwa dusta hanya akan memberikan kesenangan sesaat. Suatu saat jujurlah yang akan menang.

Apresiasi lagi bila anak mengakui kesalahannya. Katakan bahwa Ibu bangga dengan kebesaran hatinya. Sungguh tidak semua orang berani mengakui perbuatannya yang salah.

Oleh karena itu, agar manfaat sibling rivalry ini bisa tercapai, orang tua harus menjadi fasilitator. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah :

1. Orang tua tidak perlu langsung bereaksi. Campur tangan dibutuhkan saat terdapat tanda-tanda akan terjadi kekerasan, baik fisik maupun verbal.
2. Contohkan pada anak bahwa emosi bukanlah cara yang tepat untuk mendapatkan kesepakatan. Marah dan memukul hanya memenangkan kelelahan.
3. Biasakan pada anak agar saling terbuka pada saudaranya, jujur dan tidak memendam sesuatu.
Jika tidak ada yang disukai dari saudaranya, lebih baik disampaikan dengan cara yang baik. Jangan diam saja, tahu-tahu balas dendam. “Wong Kakak juga begitu,” alasan adik. Padahal kakak tidak tahu kalau perbuatannya selama ini tidak disukai adiknya. Misalnya kakak suka buka-buka tas adik tanpa izin untuk meminjam penghapus.
4. Ibu bisa gali potensi anak melalui kegemarannya. Karena jika anak mahir di suatu bidang, otomatis rasa percaya dirinya akan muncul dan anak akan mampu bersaing dengan sehat, insya Allah.

Jadi, apakah sibling rivalry selalu buruk? Selama kita bisa cerdas mensiasati kondisi persaingan tersebut, sibling rivalry bukanlah masalah.

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply