“Siap Menikah, Siap Dinikahi”

“Siap Menikah, Siap Dinikahi”

Santai saja. Saya ingin Anda mengingat zaman kita bersekolah. Memakai baju seragam putih biru, berlari saat mendengar bunyi bel sekolah. Hawa pagi hari yang sejuk sangat terasa saat itu. Ingat saat kita bercengkrama waktu kita bercerita dengan teman sebaya. Mengungkapkan rasa yang ada di benak. Termasuk menceritakan impian kita untuk menikah. Pertanyaan yang paling sering terlontar adalah “Apa kriteria suami-mu saat besar nanti?”
Pertanyaan tersebut pastilah membuat orang berpikir, saya suka suami yang seperti apa? Jawabanpun terlontar, yang baik pastinya, memiliki tanggung jawab, mapan, cocok kalau diajak ngobrol, kuat imannya, dan setia. Kalau fisik ya pasti harus keren, donk!
Teman, secara tidak sadar kita memang memiliki impian sosok pasangan idaman kita. Kita cenderung memilih pasangan dari sudut pandang yang kita miliki. Apakah kita sadar, pasangan kita pun memiliki sudut pandang tertentu tentang kriteria pasangan yang ia inginkan? Ini yang sering kali dilupakan bagi orang yang berjalan di dunia pernikahan. Dengan demikian, sebaiknya kita membuka hati dan pikiran untuk mengetahui apa saja kebutuhan pasangan kita.
Salah satu cara untuk mengetahui kebutuhan pasangan yang pertama adalah NGOBROL. “Ah sudah biasa, pasti semua pasangan suami istri seperti itu!” Apakah Anda yakin?
Ngobrol atau berkomunikasi itu untuk suami istri sebaiknya terjadi dua arah. Suami memiliki hak berbicara, istri pun juga berhak berbicara. Dengan syarat pembicaraan tidak menyinggung satu sama lain, tetap pada poin yang dibahas. “Kok kaku banget sih, ini kan ngobrol dengan istri sendiri, boleh donk ngobrol apa saja?”. Benar berkomunikasi dengan istri atau suami tidak menuntut pembicaraan formal, tapi memang sebaiknya tetap dijaga tentang topik pembahasannya. Jangan sampai topik melenceng ke topik yang tidak mengenakkan hati. Tujuan komunikasi adalah untuk mempererat, jangan sampai tujuan tersebut menjadi merenggangkan alias pertengkaran.
Siap menikah, siap dinikahi! Komunikasikanlah tentang peraturan pernikahan, pembagian tugas, pengalokasian keuangan, dan urusan suami istri. Kita memilih pasangan kita dengan kriteria yang sudah kita tentukan, kita patut bahagia. Apakah kita sudah sesuai dengan kriteria yang pasangan kita tentukan? Cari tahu, apakah suami suka saya berkegiatan? Apakah suami suka diperhatikan? Saat apa suami sangat menyukai kita? Bertanyalah! Jikta tidak bertanya, kita wajib melakukan survey kecil. Ya, meskipun untuk pasangan sendiri. Saya sering kali survey, apa kesukaan suami saya. Misal secara tidak langsung dia menyukai saya menutup aurat. Dia tertarik saat saya pulang berkegiatan. Dia membutuhkan waktu untuk didengarkan. Dia tidak menyukai saya jika saya menjadi pemberontak. Hasil survey tersebut menjadi patokan saya untuk bersikap kepada suami. Itu dari sisi saya sebagai seorang istri. Bagaimana dari sisi seorang suami?
Misal, Suami memilih kriteria utama adalah kesetiaan. Dari awal pernikahan mengetahui istrinya tidak bisa memasak, jadi dia tidak menuntut itu. Hal=hal yang menjadi kelebihan dan kekurangan suami istri harus diperhatikan lebih seksama. Kita tidak perlu menuntut seseorang untuk berubah, perubahan sikap terjadi saat orang tersebut sadar. Yang perlu disentuh disini adalah kesadaran. Bila sudah sadar akan “tugas”nya bagaimana kita harus bersikap, perubahan sikap akan terjadi dengan sendirinya. Misal, yang istrinya tidak bisa memasak, karena merasa harus memenuhi tanggung jawab, ia akan belajar dengan sendirinya tanpa dituntut.
Dari sekian kata-kata yang terlontar, hanya kebahagiaan yang terpenting. Kebahagiaan diri kita sendiri. Tetap senyum, semangat menjalani hidup.

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply