SHALAT, KUNCI UTAMA KELUAR DARI MASALAH

“Apabila Rasulullah menemui suatu kesulitan, maka beliau segera mengerjakan shalat.”

(H.R Abu Dawud)

Kehidupan ini selalu akan diiringi dengan berbagai masalah dan setiap masalah diharapkan akan selesai. Namun kadang, seseorang merasa sulit menemukan jalan keluar dari masalahnya. Jika perasaan tawakkal menjadi pintu pertama pembuka takdirnya, maka kunci pembukanya ada 2 hal seperti yang disebutkan dalam surah Al-Baqarah ayat 45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.” Kali ini fokus kita adalah permasalahan shalat.

Shalat adalah kunci pertama dan utama dalam menemukan jalan keluar. Dalam hadist yang saya tuliskan di awal, digambarkan bahwa betapa Rasulullah menjadikan shalat sebagai sarana utama dalam mencari jalan keluar masalahnya. Lalu, apa yang menghalangi kita untuk tidak mengikuti langkah beliau? Bagaimana cara shalat Rasulullah, sehingga setelah itu permasalahan beliau bisa selesai? Tapi di sini kita tak akan membahas masalah fiqih shalat, namun bagaimana hidup di bawah naungan shalat.

Rasulullah menjadikan hidupnya di bawah naungan shalat, tapi ini tidak berarti sluruh hidupnya hanya untuk shalat, melainkan hidupnya hati dan ruh saat shalat. Hidupnya hati menjadi pilar inti dari ibadah shalat karena hati adalah objek penilaian Allah terhadap shalat kita, sedangkan gerakan-gerakan shalat itu hanya gambaran lahir saja.

Berbicara tentang shalat juga berbicara tentang ibadah kepada Allah. Ibadah artinya tidak sempit, karena segala hal yang kita lakukan dengan niat yang benar sesuai tuntunan islam itulah ibadah. Semua orang bisa melakukan ibadah, tapi yang membedakan ibadah satu orang dengan yang lainnya adalah kualitasnya, dan kualitas terbaik dari sebuah ibadah adalah IHSAN (Taat pada Allah sebagaimana kamu melihatNya). Ketika pemahaman ibadah kepada Allah ini sudah baik maka insyaAllah semua tempat adalah tempat untuk beribadah (Rumah, kantor, sekolah,dll) dan semua profesi (guru, siswa, pegawai, penulis, dll) serta waktu (pagi, siang, sore, malam) juga bernilai ibadah.

Jadi inti dari ibadah, dalam hal ini shalat, ada pada kehadiran hati. Hati yang baik menghasilkan ibadah yang berkualitas. Shalat dalam arti lain berarti doa, dan kunci dari doa adalah rasa. Ketika rasa tak bisa kau hadirkan, maka apalah arti dari sebuah rangkaian kata doa? Wallahu’alam.

Tags:

Leave a Reply