Sepotong Kisah tentang Etika (7)

MENULIS ITU MENYAMBUNG SILATURAHIM
Salah satu hal yang menyenangkan setelah terbitnya buku solo pertamaku yang berjudul “Santriwati Baru” adalah tersambungnya kembali tali silaturahim dengan teman-temanku dari pesantren Al Mukmin Ngruki, Solo.
Komunikasi di antara kami yang sempat terputus selama kira-kira 30 tahun yang lalu itu dengan cepat menjadi terhubung kembali..
Sebagian dari teman sekelas, adik kelas maupun kakak kelasku selama di pesantren Ngruki kini mulai menyapaku kembali melalui media sosial atau bertemu langsung setelah memesan bukuku.
Seolah bukuku itu menjadi perantara reunian kami.. Karena setelah teman-temanku menemukan jejakku dari buku itu,  dalam waktu singkat aku sudah dimasukkan dalam grup alumni Ngruki di WA. Alhamdulillah.. 🙂
Seperti beberapa waktu yang lalu, aku berkesempatan mengantar bukuku ini ke rumah Nur Laeliyah (Elly) yang tinggal di kabupaten Cirebon. Elly adalah salah seorang sahabatku sekaligus ‘rival’ sekelasku saat kami masih ‘nyantri’ di Ngruki 😀
Sebab kami sering bersaing dalam hal yang positif. Sehingga kamipun secara bergantian selalu masuk posisi 3 besar/rangking di kelas.. 😀
Sejak dulu aku kagum dengannya. Karena tak hanya cerdas dalam memahami pelajaran di pesantren, Elly juga tegas dan istiqamah dalam hal pengamalan ajaran agama Islam.. (y)
Saat kutemui di rumahnya, tak banyak yang berubah dari dirinya. Hanya sekarang tampak lebih berisi, sebagaimana diriku.. 😀 Maklum kami sama-sama sudah menjadi seorang ibu.. 🙂
Bedanya, Elly mempunyai 2 orang putra dan 3 orang putri. Sedangkan aku hanya mempunyai seorang putri semata wayang.. Alhamdulillah.. 🙂
Sekarang Elly memakai cadar. Begitu juga 2 orang putrinya yang sudah remaja. Walau aku masih belum sanggup seperti dirinya, namun aku menghormati prinsipnya yang teguh itu dalam menjaga dirinya dan putri-putrinya sebagai wanita muslimah.
Senang sekali rasanya saat kami bisa mengobrol kembali, bernostalgia.. Mengenang masa-masa saat kami masih menjadi santriwati di Ngruki.
Foto-foto kenangan masa lalu yang masih tersimpan rapi di album foto Elly seakan menjadi saksi perjumpaan kami kembali.
Kini banyak alumnus Ngruki yang sudah menjadi orang-orang sukses di bidangnya masing-masing. Ada yang menjadi pengusaha, pedagang, penulis dan lain-lain.
Sebagian dari mereka ada juga yang lebih suka mengajarkan ilmu yang telah mereka peroleh selama di Ngruki dengan menjadi guru.
Ada yang mengabdikan diri dengan menjadi ustaz dan ustazah di Ngruki. Dan ada juga yang mengajar di sekolah di kota tempat tinggal mereka masing-masing.
Elly termasuk salah seorang di antaranya. Dia mengajar pelajaran Tahfiz Al Qur’an dan Bahasa Arab di MI Al Falah di Cirebon.
Di sela waktunya Elly juga menerima pesanan baju atau kerudung yang dijahitnya sendiri di rumah. Semoga makin sukses dan diberkahi Allah SWT ya Elly.. Aamiin ya rabbal’aalamiin…
Kami sempat melaksanakan shalat Zuhur berjamaah bersama di rumahnya. Seusai shalat akupun berpamitan pulang..
Dalam perjalanan pulang ke rumah, aku semakin merasa yakin..
Bahwa menulis itu ternyata tak hanya merapikan kenangan..
Namun lebih dari itu..
Menulis juga menyambung tali silaturahim.. 🙂
(Contoh Etika terhadap Sahabat dan Teman)
[Sumber: https://irmafang11dotwordpressdotcom/2016/08/25/menulis-itu-menyambung-tali-silaturahim/]

Rate this article!
Tags:
author

Author: