Sepotong Kisah tentang Etika (5)

MENJAGA PINTU SURGA TERAKHIR

 

Sejak Papi berpulang ke hadiratNya pada pertengahan bulan Juni tahun yang lalu, kini Mami hanya tinggal bersama adik lelakiku dan kedua cucu kembarnya yang masih kelas 5 SD di Magelang.
Sekarang tak ada lagi teman ngobrol dan curhat yang selalu mendampinginya seperti dulu. Maka aku bisa memahami bila Mami sekarang sering merasa kesepian. Pada saat awal kepergian Papi, bahkan Mami pernah merasa kehilangan semangat hidupnya.
Apalagi saat adik lelakiku sedang bekerja ke luar kota/luar pulau dalam waktu sekitar 2 minggu hingga 1 bulan, Mami menjadi semakin kesepian. Yang kami khawatirkan adalah dengan kondisi fisik Mami di usianya yang sudah memasuki 75 tahun, tentu sudah tak seprima dulu.
Pernah kami dibuat cemas karena sejak malam hingga siang hari teleponnya tidak diangkat. Sementara sebelumnya Mami sempat mengeluh sedang tidak enak badan. Sampai aku menghubungi tetangga sebelah rumah Mami dan meminta tolong padanya untuk mengecek ke rumah Mami. Alhamdulillah Mami baik-baik saja. Ternyata HP-nya tertinggal di dalam kiosnya.
Sebetulnya aku dan kedua adikku sudah berulangkali menyarankan Mami agar pindah saja ke rumahku di Cirebon. Supaya Mami setiap saat bisa kutemani dan kujaga. Pertimbangan kami karena Cirebon adalah lokasi yang terdekat dengan kota Magelang dibandingkan kota Tanjung Karang (tempat tinggal adik perempuanku). Dan Papi juga dimakamkan di kota Cirebon.
Sehingga bila suatu saat Mami ingin pulang ke Magelang bisa lebih mudah dan cepat. Selain itu Mami bisa setiap saat berziarah ke makam Papi.
Tapi walau sudah dibujuk dengan berbagai cara, Mami tetap ingin tinggal di Magelang saja. Semula kami juga merasa heran, kenapa Mami kok masih belum mau pindah ke Cirebon juga? Bukankah lebih enak tinggal bersama anaknya?
Tapi akhirnya lama kelamaan kami bisa memahaminya. Ternyata Mami bukannya tidak mau, tapi Mami hanya tidak ingin merepotkan anak-anaknya di masa tuanya ini..
Padahal tidak menjadi masalah bagi kami. Karena justru inilah kesempatan bagi kami untuk membalas budi dengan menjaga dan merawat Mami sebagaimana yang dulu Mami pernah lakukan kepada kami saat masa kecil kami. Dan itupun masih belum berarti apa-apa.
Apalagi waktu itu salah seorang sahabat Papi saat masih menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Surakarta, bapak Taufik Kasturi (sekarang Wakil Rektor UMS), juga pernah menyampaikan bahwa birrul walidain (berbakti kepada kedua orangtua) adalah termasuk salah satu dari 8 pintu surga.
“Orang tua adalah pintu surga yang paling tengah. Engkau bisa sia-siakan pintu itu atau engkau bisa menjaganya.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Majah)
“Kalau ayah sudah meninggal,  berarti tinggal 1 pintu surga yang terbuka, yaitu ibu. Maka optimalkan segala perhatian kepada ibu,” begitu penjelasan pak Taufik.
Namun pada akhirnya kami harus mengalah terhadap keinginan Mami.. Ternyata berdasar cerita teman-teman,  kebanyakan orangtua mereka juga lebih menginginkan untuk menghabiskan masa tua di rumah mereka sendiri meski bagaimanapun kondisi rumahnya.
Setelah kurenungkan.., aku semakin mengerti bahwa bagi orangtua kita, rumah yang mereka tempati adalah bagian terbesar dari sejarah dan kenangan hidup mereka.. Mungkin saat nanti kita sudah tuapun akan berpikiran dan bersikap demikian..
Atas pilihannya untuk tetap tinggal di Magelang tersebut, Mami kembali menyibukkan dirinya dengan membuka kios di depan rumahnya. Suatu kesibukan yang sudah dilakukannya sejak menikah dan telah membantu menopang ekonomi keluarga saat itu hingga kami bertiga bisa menyelesaikan kuliah.
Hanya sekarang tak seserius dulu karena ssekedar sebagai pengisi waktu. Dengan kesibukannya itu, rasa sedih dan kesepiannya jadi lumayan bisa terobati.
Dan kini yang bisa kulakukan sebagai baktiku kepadanya, selain mendoakan,  juga dengan lebih sering meneleponnya. Kalau dulu saat masih ada Papi, aku menelepon seminggu hingga 2 minggu sekali. Tapi kini hampir setiap hari kuusahakan untuk meneleponnya. Harapanku dengan demikian Mami tidak terlalu merasa kesepian lagi.
Selain itu aku dan adik perempuanku yang tinggal di Lampung kini berusaha mengatur waktu semampu kami agar dapat bergantian pulang ke Magelang untuk menemani Mami di saat adik lelakiku sedang ke luar kota/luar pulau.
Seperti beberapa waktu yang lalu
selama seminggu aku pulang ke Magelang menemani Mami. Lalu minggu depan gantian adik perempuanku.
Terima kasih suamiku yang selalu mengizinkanku pulang ke Magelang untuk melanjutkan baktiku terhadap “pintu surga birrul walidain terakhirku”.  Insya Allah aku akan selalu menjaga diri selama dalam perjalanan.
Semoga Allah Swt.  juga senantiasa menjaga suami dan anakku di manapun berada, sehingga selalu sehat dan dimudahkan dalam setiap tugas dan kegiatannya.. Aamiin ya rabbal’aalamiin..
(Contoh Etika terhadap Orangtua)
[Sumber: https://irmafang11dotwordpressdotcom/2016/10/17/menjaga-pintu-surga-terakhir/]

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply