Sepotong Kisah tentang Etika (2)

Semburat cahaya kekuningan di langit sore itu perlahan memudar. Berganti dengan warna kelabu yang makin menghitam. Suasana sekolah sudah makin sepi.
Berulangkali kutengok ke arah pintu gerbang sekolah. Tapi ayah belum juga datang menjemputku. Karena hari makin gelap, aku menumpang becak untuk pulang ke toko tempat ayah dan ibu berjualan.
Sudah yang kesekian kalinya ini ayah lupa menjemputku. Tapi aku bisa memahaminya. Mungkin ayah dan ibu sedang sibuk berjualan di toko sehingga lupa menjemputku. Sejak awal pernikahan, mereka harus bekerja keras dari pagi sampai malam dengan membuka toko di daerah Pecinan demi mencukupi keuangan keluarga.
Aku dan kedua adikku bersekolah di SD Tarakanita. Setiap hari sepulang sekolah, kami lebih sering berada di toko daripada pulang ke rumah. Di toko kami bertiga ikut membantu ayah dan ibu semampu kami. Karena jadwal sekolahnya berbeda-beda kami bisa bergantian dalam membantu orangtua. Saat ini aku mendapat jadwal masuk sekolah siang hari. Sehingga aku membantu di toko dari pagi hingga siang hari.
Kami, tiga bersaudara ini masing-masing mempunyai minat dan bakat yang berbeda-beda. Adik perempuanku mempunyai minat dalam berdagang. Sehingga ia paling bersemangat dalam membantu di toko. Selain itu ia juga cukup cerdas dalam memahami semua pelajaran di sekolah, terutama pelajaran Matematika. Adik laki-lakiku lebih suka pelajaran Sejarah. Maka ia senang sekali kalau diajak mengobrol tentang sejarah/politik oleh ayahku.
Sedangkan aku, cenderung pendiam dan introvert. Sehingga lebih suka menulis cerita ringan di sisa bungkus kado dari toko atau mencatat aktifitas harian/uneg-uneg perasaanku di buku harian.
Secara keseluruhan, hanya aku yang sering mengalami kesulitan dalam memahami pelajaran di sekolah. Aku juga tak tahu, mengapa aku tak sepandai kedua adikku? Sehingga kondisi ini sering membuatku merasa minder.
Aku sangat kagum terhadap teman-teman sekelasku yang cerdas dan supel. Aku melihat mereka itu begitu sempurna. Cantik, kaya, cerdas dan pandai bergaul. Tapi hal ini kadang malah membuatku semakin minder. Karena aku merasa mempunyai begitu banyak kekurangan. Meskipun begitu, aku tak tahu apa yang harus kulakukan untuk mengatasi semua kekuranganku ini.
Saat itu jujur saja, aku memang tak mempunyai target apapun dalam bersekolah. Kegiatan berangkat ke sekolah dan belajar di kelas setiap harinya itu kuanggap hanya sebuah rutinitas yang harus kujalani sebagai seorang pelajar. Sehingga yang kuusahakan saat itu hanyalah bagaimana caranya agar nilai pelajaranku tidak di bawah 60. Padahal ketika mulai naik ke kelas 4, pelajaran semakin sulit kukuasai.. 🙁
PR yang diberikan oleh guru juga kukerjakan semampuku saja. Karena bila menemui kesulitan, aku tak tahu harus bertanya ke siapa? Aku tak ingin merepotkan ayah dan ibuku. Sedangkan untuk bertanya ke guru, aku tidak berani.
Sebetulnya saat menerima rapor di Catur Wulan pertama, wali kelas sempat mengingatkanku melalui sebuah pesan yang ditulisnya di rapor. “Sebaiknya belajar lebih giat”
Hal itu dikarenakan ada empat pelajaran dengan nilai 5 dan ditulis dengan tinta merah di rapor. Yaitu pelajaran Matematika, IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan Olahraga/Kesehatan.
Ketika itu, baik ayah maupun ibuku tidak memberikan respon apapun terhadap nilaiku di rapor tersebut. Mungkin mereka terlalu sibuk dengan pekerjaannya.
Begitupun ketika rapor Catur Wulan kedua dibagikan. Kali ini ada tiga pelajaran yang nilainya bertinta merah. Yaitu pelajaran Bahasa Daerah (nilai 5), IPS (nilai 5) dan Matematika (nilai 4). Aduh..nilai Matematikaku makin jatuh saja.. :'(
Melihat nilai-nilai di raporku yang semakin parah itu, aku menjadi panik. Aku mulai belajar sekuat tenaga. Tapi tentu saja aku tak bisa mengejar waktu yang hanya tersisa 4 bulan untuk mencapai Catur Wulan ketiga, sebagai Catur Wulan terakhirku di kelas 4.
Sehingga ketika pembagian rapor kenaikan kelas, aku hanya bisa pasrah dengan hasilnya.
Di saat teman-teman sekelasku bersorak gembira sesudah menerima rapornya, aku hanya bisa duduk menyendiri, terdiam dengan perasaan yang tak menentu. Aku masih tak percaya ketika membaca sebuah tulisan pada bagian bawah raporku yang ditulis dengan tinta merah: “Tidak naik kelas.”
Masih saja ada beberapa angka yang ditulis dengan tinta merah ‘menghiasi’ raporku. Pelajaran yang mendapat nilai merah tidak jauh berbeda dengan yang sebelumnya, malah semakin parah. Yaitu pelajaran Matematika (nilai 4), IPS (nilai 4) dan PMP (nilai 5). Ketiga pelajaran itu selalu menghantuiku di kelas 4 ini.
Semula aku tak menyangka bila jatuhnya nilaiku pada ketiga pelajaran tersebut akan berpengaruh begitu besar dalam penentuan kenaikan kelasku. Tapi kenyataan pahit ini sudah terjadi dan mau tak mau harus kuhadapi.
Betapa malu dan sedih hatiku saat itu. Seumur-umur baru kali ini aku tidak naik kelas.. :'( Aku berusaha menahan tangisku. Tapi yang sedang berkecamuk dalam pikiran dan membuatku bingung adalah bagaimana harus kusampaikan hal yang sangat memalukan ini pada kedua orangtuaku? Mereka pasti sedih dan kecewa..
Beberapa teman yang mengetahui permasalahanku mulai datang menghibur.
“Sudah.., nggak apa-apa Ir.. Umurmu juga masih muda kok..”
“Jangan sedih Ir.. Nanti pasti bisa lebih baik..”
Tapi semua ucapan temanku itu tak dapat menghilangkan perasaanku yang kian tak menentu. Dalam perjalanan pulang saat ayah menjemputku, aku masih belum berani bercerita apapun. Namun ketika sampai di rumah, aku harus menyampaikan hal ini pada kedua orangtuaku.
Dengan kepala yang menunduk, kuserahkan raporku pada mereka. Aku tak berani menatap wajah mereka karena takut melihat ekspresi kekecewaan mereka.
Di luar dugaan, ternyata ayah dan ibuku tidak marah. Malah mereka merasa bersalah karena selama ini terlalu sibuk dengan pekerjaan hingga kurang memperhatikan kekurangan dan kesulitanku dalam memahami pelajaran di sekolah.
Malam itu mereka menghibur dan menyemangatiku. Ada beberapa kalimat motivasi dari ayahku yang sampai sekarang masih kuingat.
“Nggeguyu? Tak oyak..!” (Menertawakan/meremehkan? Aku kejar..!)
“Jangan menangis bila dihina. Cepat bangun bila jatuh”
Sejak itu ayah membelikan buku-buku yang bisa menunjang beberapa pelajaran yang tak kukuasai. Kadang-kadang ayah juga menjelaskan pelajaran yang belum kupahami. Karena mendapat dukungan penuh dari kedua orangtuaku, semangat belajarku mulai menyala.
Aku berusaha dengan berbagai cara agar dapat menguasai tiga pelajaran yang sulit tadi. Untuk membantu dalam memahami pelajaran Matematika, aku membuat buku khusus catatan rumus Matematika.
Sedangkan untuk pelajaran IPS dan PMP yang banyak hafalannya, aku mencatat nama-nama lembaga pemerintah dan tugasnya serta nama-nama lain yang selama ini sulit kuhafalkan.
Buku-buku catatan hasil rangkumanku itu selalu kubawa kemana-mana. Setiap saat kuluangkan waktuku untuk membaca, menghafal  dan mempelajari semua materi yang sudah kutulis di dalamnya. Baik ketika jam istirahat di sekolah, sambil menunggu toko, seusai mengerjakan PR di rumah, atau saat malam hari menjelang tidur.
Tentu saja aku tetap mempelajari pelajaran lain di sela waktuku agar semua pelajaran dapat kukuasai.
Perlahan tapi pasti aku mulai menguasai pelajaran-pelajaran tersebut.
Dari hasil ulangan tampak jelas ada perbaikan nilai dari waktu ke waktu. Hingga saat menerima rapor kenaikan kelas, aku sudah bisa tersenyum lega. Alhamdulillah tidak ada lagi tinta merah di raporku. Beberapa nilai pelajaranku yang lain juga menunjukkan banyak peningkatan. Dan kini aku bisa naik ke kelas 5.. ! 🙂 Kedua orangtuaku sangat gembira melihat kemajuanku.
“Selamat ya Fang.., Akhirnya Awang (nama panggilanku di rumah) berhasil membuktikan bahwa Awang juga bisa sepandai teman-teman yang lain,” kedua orangtuaku mengucapkan selamat dan menyalamiku sambil tersenyum.
“Terima kasih Papi atas bimbingan dan motivasinya. Terima kasih Mami atas doa dan dukungannya,” aku menyambut ucapan selamat mereka dengan mata berkaca-kaca karena terharu.
Setelah itu aku menjadi makin bersemangat dalam belajar, hingga pelajaran menjadi tak sesulit sebelumnya. Karena setiap kali kutemui kesulitan, aku tak ragu lagi bertanya pada ayahku. Ketika sampai di penghujung kelas 6 pada Catur Wulan terakhir, aku memperoleh nilai 7 pada pelajaran Matematika dan 8 pada pelajaran IPS dan PMP. Dan di bagian akhir raporku jelas tertulis: Lulus. Alhamdulillah 🙂
Semangat, kegigihan dan ketekunanku dalam belajar membawa hasil yang positif karena tak hanya berhasil membawaku lulus SD dengan nilai yang cukup memuaskan. Aku juga berhasil diterima di SMPN 2 Magelang (salah satu SMP favorit di kota Magelang) setelah mengikuti tes masuknya.
Kesuksesan demi kesuksesan dalam menempuh pendidikan di jenjang selanjutnyapun mulai datang menghampiriku. Seolah menebus kegagalanku dulu saat di kelas 4 SD. Ini semua tak lain adalah berkat doa dan dukungan kedua orangtuaku, serta usaha kerasku dalam menaklukkan pelajaran yang sebelumnya tak kupahami.
                              ******
Setelah kurenungkan pengalaman hidupku ini, sesungguhnya ada beberapa hikmah dan pelajaran berharga yang tersimpan di dalamnya.
Membaiknya perjalanan hidupku ini ternyata justru bermula dari kegagalanku. Karena titik balik perubahan nasibku ini terjadi saat tinta merah mewarnai raporku.
Kini kupahami bahwa  sebuah kegagalan dapat menjadi cambuk tuk raih keberhasilan. Bahwa di balik sebuah kejadian yang pahit itu kadang tersimpan rahasia dan kejutan manis dari Allah Swt.
Karena sejak raporku dipenuhi dengan tinta merah hingga tak naik kelas itulah kedua orangtuaku menjadi tersadarkan untuk lebih memperhatikan kekurangan dan kesulitanku dalam belajar.
Sehingga mereka berusaha membantuku untuk mengatasi permasalahan yang sedang kuhadapi. Baik dengan cara mendoakan, memberi dukungan secara nyata maupun dalam bentuk motivasi sehingga berujung dengan kesuksesanku.
Munif Chatib, seorang permerhati pendidikan menyebutkan, sudut pandang psikologis menyatakan bahwa anak yang menerima cinta dan kasih sayang besar dari orangtua selama masa pertumbuhannya, ternyata lebih cerdas dan lebih sehat daripada anak usia dini yang tumbuh di sebuah asrama (panti) dan terpisah dari orangtuanya. 1)
Jika orangtua menyalakan tombol “on” dalam benak mereka bahwa anak adalah bintang, maka anak akan menjadi bintang. 2)
Hal tersebut menunjukkan bahwa perhatian orangtua terbukti mempunyai pengaruh yang besar terhadap kecerdasan dan kesuksesan  anaknya.
Selain itu kita tidak boleh berputus asa tatkala menghadapi kesulitan dan kegagalan dalam proses belajar kita. Karena sesulit apapun pelajaran, bila tekun dan bersungguh-sungguh dalam belajar, pasti keberhasilanlah yang akan kita raih nantinya.
Ada pepatah dari bahasa Arab di pelajaran Mahfudlat yang kuperoleh saat belajar di pesantren sebagai berikut:
“Man Jadda Wajada”
Artinya, “Barangsiapa yang bersungguh-sungguh, pasti ia akan berhasil.”
Seorang ulama salaf yang mempunyai nama asli Ahmad bin Ali bin Muhammad bin Muhammad bin Ali bin Mahmud bin Ahmad bin Hajar Al-Kannani Al-Qabilah dan berasal dari Al-Asqalan juga dikenal dengan kisah motivasi belajarnya. Beliau mendapat julukan Ibn Hajar Al Asqalani karena mendapat inspirasi dan motivasi belajar setelah mengamati sebuah batu.
Kisah itu berawal saat beliau masih belajar di sebuah madrasah. Sebetulnya beliau terkenal sebagai murid yang rajin, namun selalu tertinggal jauh dari teman-temannya. Bahkan karena sering lupa dengan pelajaran-pelajaran yang telah di ajarkan oleh gurunya di sekolah membuatnya patah semangat.
Sehingga beliau minta izin kepada gurunya untuk meninggalkan madrasah.
Di tengah kegundahan hatinya, tiba-tiba hujan lebat turun. Sehingga beliau berteduh di dalam sebuah gua. Saat itu pandangannya tertuju pada sebuah tetesan air yang sedikit demi sedikit jatuh menetes hingga melubangi sebuah batu.. Beliau takjub saat menyaksikannya.
Ya Allah, ternyata tetesan air yang kecil itu karena menetes terus menerus sanggup melubangi sebuah batu yang besar dan keras.
Peristiwa tersebut menyadarkannya bahwa betapapun kerasnya sebuah batu,  jika diasah secara terus menerus maka ia akan dapat menjadi lunak bahkan berlubang..
Begitupun otak manusia, seberat apapun dalam mempelajari suatu ilmu, bila diasah secara rutin, secara berproses, tentu akan menjadi lebih mudah dalam memahami ilmu tersebut.
Lalu Ibnu Hajar kembali ke madrasahnya dan menemui sang guru. Beliau menceritakan peristiwa yang telah disaksikannya itu. Melihat semangat belajarnya kembali menggebu, beliau diperkenankan lagi untuk belajar di madrasahnya.
Karena semakin tekun dalam belajar, beliau berhasil menjadi ulama yang telah menghasilkan beberapa kitab yang terkenal.
(Sumber: http://dunia-sangmusafirdotblogspotdotcodotid/2010/09/ibnu-hajar-dan-batu-kisah-teladan-dan)
Dan yang terakhir, perlu diingat bahwa pencapaian angka/nilai yang kita peroleh selama proses belajar janganlah kita jadikan sebagai tujuan utama. Namun jadikanlah angka/nilai tersebut hanya sebagai pemacu semangat dalam belajar.
Karena tolok ukur kesuksesan dalam belajar adalah keberhasilan kita dalam mengaplikasikan ilmu yang telah kita peroleh sehingga dapat bermanfaat bagi sesama manusia. Dan itulah sebaik-baik manusia menurut Allah Swt.
Sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut ini:
عن جابر قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « المؤمن يألف ويؤلف ، ولا خير فيمن لا يألف ، ولا يؤلف، وخير
الناس أنفعهم للناس »
Diriwayatkan dari Jabir berkata,”Rasulullah saw bersabda,’Orang beriman itu bersikap ramah dan tidak ada kebaikan bagi seorang yang tidak bersikap ramah. Dan sebaik-baik manusia adalah orang yang paling bermanfaat bagi manusia.”
(HR. Thabrani dan Daruquthni)
Hadits ini dishahihkan oleh al Albani didalam “ash Shahihah” nya.
(Sumber: https://mdoteramuslimdotcom/ustadz-menjawab/hadits-manusia-paling-bermanfaat)
———————————–
* Referensi:
Buku “Orangtuanya Manusia – Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak”, penulis: Munif Chatib, penerbit: Mizan – Kaifa:
1) halaman 34
2) halaman 58

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply