Sepotong Kisah tentang Etika (1)

“Laura.. ! Dari tadi di belakang tuh lagi ngapain aja sih?!” suara teguran Emak (neneknya) mengagetkannya.
“Sebentar Mak..,“ jawab Laura sambil menggeser sebuah ember yang berukuran hampir sebesar tubuhnya dengan tergopoh-gopoh.
Tangan mungilnya tampak kewalahan menahan beratnya ember saat membuang air kotor bercampur sabun itu ke lubang pembuangan air.
Lalu diisinya sekali lagi ember itu dengan air dari keran untuk membilas keset yang baru saja dicucinya itu. Belum sempat ia menjemur keset itu, tiba-tiba Emak datang menghampirinya dengan wajah yang kesal.
“Aduh Laura, ngapain sih kesetnya dicuci segala?!”
“Emm.., biar bersih Mak.. Kan nanti  Emak jadi nggak usah nyuci lagi. Biar Emak nggak cape,” jawab Laura terbata-bata karena takut dimarahi.
Tapi kemarahan Emak akhirnya tak jadi meledak karena melihat kesungguhan Laura dalam membantunya..
Sebetulnya sudah yang kesekian kalinya ini Laura diam-diam membantu pekerjaannya. Sudah beberapa kali juga Emak memarahi dan melarangnya.
Sebab menurutnya Laura masih terlalu kecil untuk melakukan pekerjaan semacam itu.
Usia Laura masih belum genap 8 tahun. Postur badannya juga imut, Sehingga Emak tidak tega bila Laura melakukan pekerjaan rumah tangga meskipun untuk membantunya.
Suatu hari, seperti biasanya Emak berjualan di Kiosnya yang terletak di bagian depan rumahnya. Karena merasa haus, ia masuk ke dalam rumah untuk mengambil gelas minumnya.
Tapi ada  sesuatu yang mengejutkannya di dapur.. Ia melihat piring-piring dan gelas-gelas  yang semula masih tergeletak kotor di wastafel, tiba-tiba sudah tampak bersih dan tersusun rapi dalam rak. Siapa lagi yang sudah melakukan ini semua kalau bukan Laura.
Karena penasaran, suatu kali Emak diam-diam mengamati Laura ketika sedang mencuci piring. Emak ingin tahu bagaimana cara Laura melakukan itu semua mengingat tubuhnya yang masih terlalu kecil.
Menurutnya Laura pasti merasa kesulitan ketika mencuci dan membilas piring maupun gelas yang kotor itu. Ternyata Laura cerdik. Ia mengambil kursi untuk naik ke atas meja dapur yang berada di dekat wastafel. Setelah itu ia duduk di situ sambil mencuci piring dan gelas kotor tadi.
Emak sampai menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum haru melihat kecerdikan dan kerajinan cucunya itu.
Setiap kali kalau ditanya, apa cita-citanya nanti? Laura selalu menjawab ingin menjadi dokter yang pintar memasak supaya bisa membantu Emak. Wow, itu cita-cita yang mulia.. (y) Maka Laura paling suka mengamati dan membantu Emak ketika sedang memasak di dapur.
Rupanya Laura sangat memahami akan kerepotan Emak setiap hari dalam mengurusi dirinya dan Kevin (saudara kembarnya) serta berbagai keperluan lain. Sementara di rumah sering tidak ada pembantu.
Sehingga rasa empatinya timbul dan mendorongnya untuk membantu Emak. Apalagi Emak kini  sudah memasuki usia 70 tahunan. Tentu fisiknya sudah lemah dan mudah capai.
Sedangkan Kevin, saudara kembarnya yang jago matematika itu meskipun masih kolokan, tapi mempunyai rasa tanggung jawab yang besar dan suka membantu Emak dengan menjadi kasir di Kiosnya.
Sementara Laura  biasanya yang membantu melayani pembeli. Dari membuat minuman yang diblender sampai menjual berbagai barang di Kios Emak…
Setiap pagi Kevin juga membantu membukakan pintu gerbang rumah Emak sebelum berangkat ke sekolah, sehingga Emak tidak usah repot-repot lagi. Kevin mempunyai cita-cita ingin menjadi insinyur.
Satu hal lain yang patut diacungi jempol dari karakter Kevin ialah tidak mau meninggalkan shalat Jum’at. Pernah suatu kali Kevin menangis karena hampir ketinggalan shalat Jum’atnya.
Kevin dan Laura juga selalu berebut ingin membantu dan menyenangkan Emak. Dari membantu menarikkan retsleting di bagian belakang baju Emak sampai menyiapkan sandal atau sepatu yang akan dipakai Emak ketika akan keluar rumah.
Meskipun Emak sering marah dan cukup keras dalam melatih kedisiplinan, namun mereka tetap sayang dan menghormati Emak. Kemanapun Emak pergi, mereka selalu ingin mendampingi dan menjaganya. Terutama ketika ayahnya sedang tidak berada di rumah karena harus bekerja di luar kota.
Bila Emak sedang bepergian ke luar rumah, mereka selalu menggandeng tangannya..
Seakan mereka ingin membalas budi karena Emak sudah merawat mereka sejak masih bayi. Semua ini bermula sejak kedua orangtuanya berpisah hingga mereka terpaksa  dititipkan pada bibi dan pamannya di kota Cirebon. Lalu beberapa bulan kemudian mereka diboyong ke rumah Emak dan Engkong di Magelang sampai sekarang.
Saat Engkong masih hidup, Laura menjadi teman mengobrolnya yang paling setia. Bila ada pelajaran sekolah yang kurang dipahaminya, Laura selalu bertanya pada Engkong, lalu dijelaskannya dengan senang hati.
Tapi sejak Engkong berpulang ke hadirat-Nya pada bulan Ramadhan tahun lalu, Laura kini harus berusaha untuk lebih mandiri dan berinisiatif dalam belajar. Saat Emak menangis karena sedang sedih teringat Engkong, mereka berdua selalu menghibur Emak.
Laura dan Kevin adalah sebah contoh sepasang anak kembar yang berhati emas. Sekalipun mereka kekurangan kasih sayang dan perhatian khususnya dari ibunya, namun mereka tetap mampu menebar kasih sayang dan mempunyai rasa empati kepada Emak yang telah mengasuh mereka..
Mereka terus bertumbuh dalam kemandirian mereka hingga kini sebentar lagi naik kelas 6 di SD Mutual Muhammadiyah Magelang.
Semoga Allah Swt. selalu menjaga, melindungi dan mengabulkan semua harapan/cita-cita mereka. Aamiin ya rabbal’aalamiin..
(Contoh Etika terhadap Keluarga)
[Sumber:https://irmafang11dotwordpressdotcom/2017/04/14/the-golden-twin/]
IMG-20120701-00011

Rate this article!
Tags:
author

Author: