Seni Berkomunikasi Dengan Anak

Setiap manusia adalah makhluk sosial yang menggunakan komunikasi sebagai sarana untuk saling berinteraksi. Baik komunikasi secara verbal maupun non verbal. Komunikasi inilah yang dapat mendekatkan suatu hubungan manusia atau sebaliknya.

Kenapa disebut seni berkomunikasi? Karena setiap individu berbeda cara komunikasinya. Begitu juga komunikasi ke anak yang satu, tentu berbeda dengan anak lainnya. Namun ada 5 hal yang dapat dilakukan untuk menjalin kelekatan komunikasi dengan anak.

Pertama, berikan perhatian sungguh-sungguh kepada anak. Saat anak pulang sekolah misalnya, tinggalkan pekerjaan rumah yang sedang dilakukan. Hampiri anak, lalu peluk dia. Tanyakan kegiatan di sekolahnya dengan susunan kalimat yang menyenangkan.

“Wah, bunda kangen banget sama kamu. Pasti kamu tadi bersenang-senang ya di sekolah. Main apa tadi nak?”

Kalimat di atas, dibarengi dengan gestur yang menunjukkan bahwa orangtua benar-benar tertarik. Bagaimana gesturnya? Usahakan mata bertemu dengan mata, jika diperlukan berlututlah sehingga mata bisa sejajar dengan mata anak.

Yang kedua adalah mendengarkan anak dengan sungguh-sungguh. Bukan hanya mendengar tapi otak kita sibuk dengan pikiran sendiri. Tapi hadir dan mendengarkan sungguh-sungguh ucapan anak. Letakkan gawai atau benda apapun yang dipegang. Lalu dengarkan anak dengan sungguh-sungguh.

Ketiga, berusahalah agar konsisten antara ucapan dan perbuatan. Komunikasi non verbal ini, sangat penting karena anak melihat orangtua sebagai panutan.

Misalnya, orangtua melarang anak untuk terus bermain gawai. Namun, tangan orangtua tidak pernah lepas dari gawai untuk bermain game online. Ketidaksinkronan ini akan menyebabkan anak merasa bahwa orangtua berbohong.

Keempat, perhatikan ekspresi. Sama seperti gestur tubuh, ekspresi adalah komunikasi non verbal. Akan sangat menyenangkan jika ucapan sebanding dengan ekspresi.

“Wah, Bunda kangen banget sama kamu.”

Kalimat diatas jika dibarengi dengan senyuman lebar dan pelukan, tentu akan sangat menyenangkan untuk anak dibandingkan jika kalimat diatas diucapkan dengan ekspresi datar.

Kelima, berikan kesempatan kepada anak untuk menyatakan pikirannya. Komunikasi timbal balik sangat diperlukan dalam pola asuh. Jadi orangtua tidak sekedar mendikte anak, melainkan juga mendengarkan apa pemikirannya.

Kelima hal diatas, dipadukan dengan kemampuan orangtua mengetahui karakter anak yang berbeda-beda akan memiliki dampak positif. Hubungan orangtua dan anak pun akan terasa hangat jika komunikasi berjalan dengan lancar.

(Ayas Ayuningtias)
#SahurKata #KMO16

Rate this article!
Tags: