SEMUA KARENA CINTA

Freedom writers. Sebuah film yang berkisah tentang perjuangan seorang guru yang mengajar anak-anak bermasalah disebuah kota yang diwarnai oleh perang antar-geng. Erin Gruwell, seorang wanita idealis berpendidikan tinggi yang datang ke Woodrow Wilson High School sebagai guru bahasa Inggris untuk kelas khusus anak-anak korban perkelahian antar-geng rasial.

Di hari pertama menjadi guru di sekolah itu, bu guru Erin merasakan pengalaman yang tidak menyenangkan. Seringkali terjadi kesalahpahaman kecil yang memicu perkelahian antara murid-muridnya yang berasal dari ras berbeda. Wajarlah jika guru yang berpengalaman pun enggan mengajar mereka.

Tapi bu guru Erin pantang menyerah. Ia pun memutar otak mencari cara untuk menaklukkan murid-muridnya. Pada suatu kesempatan, bu guru Erin meminta muridnya menulis di buku harian. Isinya boleh apa saja yang mereka inginkan, rasakan dan alami. Melalui buku harian ini, bu guru Erin jadi tahu tentang karakter masing-masing muridnya. Melalui cara mengajarnya yang unik dan kreatif, ia berusaha menyadarkan muridnya bahwa pendidikan itu penting. Melalui pendidikan mereka akan bisa mencapai kehidupan yang lebih baik.

Bu guru Erin rela mengorbankan waktu dan tenaganya untuk bekerja sambilan agar dapat membeli buku-buku bacaan yang bermanfaat untuk murid-muridnya. Meskipun hal ini tidak mendapat dukungan dari rekan-rekan kerjanya dan pihak sekolah. Bu guru Erin membuktikan, perjuangannya tidak sia-sia. Murid-muridnya mulai bersemangat belajar. Banyak muridnya yang kemudian berhasil melanjutkan pendidikannya pada jenjang yang lebih tinggi.

Kisah bu guru Erin ini adalah kisah nyata. Buku harian murid-muridnya diterbitkan menjadi sebuah buku berjudul The Freedom Writers Diary, yang dirilis menjadi sebuah film berjudul Freedom Writers pada tahun 2007. (Asrul Right, 2016)

Inspiratif. Bu guru Erin adalah contoh guru yang mengajar dengan hati. Bukan sekedar mengejar untuk menyelesaikan materi pelajaran, tapi lebih dari itu, ia sangat peduli dengan masa depan muridnya. Rela berkorban, pantang menyerah, serius mencari solusi untuk membantu muridnya mencapai kehidupan yang lebih baik. Semua itu dilakukannya karena cinta. Cinta kepada profesinya, cinta kepada murid-muridnya.

Berapa banyak guru yang menyerah dan meninggalkan sekolah disebabkan merasa tidak mampu, tidak cocok atau kurang bisa berkembang. Lagi-lagi masalah klasik. Merasa tidak cocok diamanahkan mengajar di kelas tertentu yang dianggap “trouble”. Merasa pengajarannya tidak bisa berkembang karena muridnya susah diatur. Merasa tidak mampu menangani murid yang “nakal”. Merasa pihak sekolah menempatkannya di kelas yang “salah”. Ffhhhh…

Hal ini pernah dirasakan oleh seorang reporter siaran TV yang merasa telah melakukan pekerjaannya dengan sangat baik. Ia terkejut ketika atasannya memindahkannya ke program acara lain yang tidak dikuasainya. Ia merasa marah, tidak dihargai dan frustasi. Ia merasa diperlakukan tidak adil. Hingga pada suatu kesempatan ia membaca sebuah buku yang membuatnya tertawa. Ya, Ia menertawakan dirinya sendiri karena sikapnya yang bodoh. Ia menyadari bahwa atasannya hanya “memindahkan cheese-nya”. Ia pun menyesuaikan diri  dan mulai belajar hal baru yang terkait dengan tugas barunya. Dan pada prosesnya ia merasa bahwa melakukan hal yang baru membuatnya awet muda. (Spencer Johnson, M.D)

Banyak hal dalam hidup ini yang seringkali tidak sejalan antara harapan dan kenyataan. Untuk itu kita harus belajar berbaik sangka terhadap karier kita. Berbaik sangka kepada Allah yang telah memberi kesempatan kepada kita untuk menjadi guru. Kesempatan untuk beramal jariah. Kesempatan untuk membangun peradaban. Bersyukurlah, karena tidak semua orang diberi kesempatan itu.

Jadilah guru yang mendidik dengan cinta. Cinta yang tidak perlu diungkapkan lewat kata-kata romantis. Lebih kepada pembuktian pada sikap dan kepedulian. Cinta akan melahirkan semangat dan kerja keras. Bukankah karena cinta seorang suami rela bekerja banting tulang untuk mencari nafkah? Tanpa cinta seorang istri tidak akan rela melayani suaminya. Tanpa cinta seorang mahasiswa akan berhenti kuliah. Kekuatan cinta pula yang membuat seorang hamba rela menghabiskan 1/3 malamnya untuk tahajud. Maka cinta pula yang akan membuat seorang guru betah mengajar muridnya yang bandel.

Jika masuk kelas, menyelesaikan administrasi pembelajaran, setiap pagi datang ke sekolah on time kita rasakan hanyalah sebagai kewajiban, itu berarti kita belum memiliki rasa cinta terhadap profesi. Berubahlah! Cintailah profesi anda, karena menjadi guru itu pekerjaan yang mulia dan memuliakan.

Rate this article!
SEMUA KARENA CINTA,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: 

Leave a Reply