SELAMATKAN GENERASI DENGAN MEMILIH SEKOLAH YANG BENAR

Di era digital sekarang di mana informasi sudah berada di genggaman. Dalam waktu sekian detik informasi dari tempat yang jaraknya puluhan kilometer dari posisi berdiri, kita sudah  dapat menerima informasi tersebut. Era di mana kecanggihan teknologi begitu memberi kemudahan kerja manusia.

Era digital ini membawa dampak positif sekaligus memberi dampak negatif. Dari sisi positif manusia lebih dimudahkan, lebih cepat, lebih akurat, lebih baik, dan lain sebagainya. Dari sisi negatif  informasi yang diterima kadang susah untuk difilter. Sehingga informasi apa saja bisa kita terima tanpa diketahui kebenarannnya. Jika manusia tak bijak menggunakannya maka bisa jadi dampak negatif ini sangat merusak.

Oleh karena itu, maka generasi sekarang perlu dibentengi dengan pemahaman agar mampu menyikapi kecanggihan teknologi era digital sekarang ini. Nah pertanyaannya adalah bagaimana agar generasi sekarang bisa diberi pemahaman tentang hal-hal positif dan negatif era digital ini? Apakah dengan memberi pengetahuan satu dua hari saja cukup?

Jawabannnya adalah tidak. Memberi pemahaman tidak hanya membutuhkan waktu satu atau dua hari saja. Tetapi perlu berkali-kali. Bahkan jika perlu generasi ini sudah dibentuk budaya akses era digital dengan bijak.

Bagaimana cara membentuk budaya dan menanamkan paradigma positif era digital?

Salah satu cara adalah dengan bijak memilih sekolah. Sekolah adalah rumah kedua bagi generasi kita. Di sekolah mereka mendapatkan banyak informasi, pengetahuan, pemahaman, pergaulan. Jika orang tua salah memilih rumah kedua bagi mereka, maka generasi muda bisa tidak terselamatkan.

Begitu banyak orang tua yang memasukkan anaknya di sekolah-sekolah favorit karena berharap anaknya menjadi unggul,  berprestasi, bisa lebih maju. Tetapi harapan mereka akhirnya kandas karena mendapati bahwa anak mereka masuk disitu tidak bisa mengikuti aturan sekolah dengan baik. Tidak bisa menfilter pergaulan dengan baik, sehingga ikut pada pergaulan bebas. Pihak sekolah sebagai rumah kedua dengan jumlah siswa yang banyak akhirnya tidak bisa mengkontrol secara utuh seluruh siswanya. Akhirnya akan ada siswa-siswa yang tidak mendapat perhatian dan terjebak pada putaran pergaulan yang tidak semestinya lalu terkontaminasi dengan miras, narkoba dan pornografi yang diakses  melalui HP canggih masing-masing.

Siswa-siswa yang kehilangan kontrol seperti ini adalah siswa yang kurang mendapat perhatian di rumah, semangat belajar juga kurang sehingga bisa jadi di sekolah dianggap sebagai siswa yang tidak bisa apa-apa. Kemudian bertemu teman sebaya yang juga merasakan hal yang sama. Anak-anak seperti ini akhirnya berpikir bahwa mereka punya kesamaan dan mencari pelarian pada narkoba, miras pornografi dan lain-lain sebagainya.

oleh karena itu untuk para orang tua harus bijak memilih sekolah untuk anaknya, sebelum memasukkan anak ke sekolah tersebut sebaiknya mencari info, kunjungi sekolah, dan lain-lain sehingga punya gambaran umum tentang sekolah tersebut. Memasukkan anak bukan karena sekolah tersebut unggulan, tetapi bagaimana sistem  yang terbangun di dalam sehingga semua anak potensinya bisa di asah. Sekolah mengajarkan dan membangun budaya menggunakan internet dengan cara yang sehat yaitu no game, no pornografi, no unduh MP3 dan lain-lain. Siswa dibantu  menggunakan internet untuk mengembangkan potensi mereka seperti membuat blog dan website yang positif. Sehingga Tidak ada anak yang kehilangan semangat belajar dan kehilangan perhatian. Tidak ada anak yang kelebihan waktu luang dan digunakan untuk hal-hal negatif seperti miras dan narkoba.

 

Jika ini terjadi maka anak-anak kita akan tersematkan. Mereka akan sibuk untuk mencari pengalaman postif dan mengembangkan diri. Mereka akan sibuk meraih prestasi yang baik. Mereka akan sibuk berlomba-lomba melakukan hal yang berguna. Mereka akan lebih siap menyikapi era digital sekarang.

 

Tags:
author

Author: 

One Response

  1. author

    Tiesna Sutisna1 year ago

    Tulisan yang cantik, cuma ada kesalahan ketik di judul. Kenapa harus ada huruf “B” ?

    Reply

Leave a Reply