Sejatinya, Kita Semua adalah Penulis.

Sejatinya, Kita Semua adalah Penulis.

Oleh

Fajrina Humayra

 

Ada yang masih ingat kapan kali pertama kita mulai menulis? Tentu mayoritas diantara kita akan menjawabnya dimulai dari balita atau bahkan saat kita mulai sanggup menggenggam pena meski masih tergagap dalam genggaman. Sedari bayi mau tidak mau, suka atau tidak suka, kita sudah mulai terbiasa dicekokin calistung alias baca, tulis, dan menghitung.

Hebat sekali bukan? masa kanak kanak kita dimulai dari dunia literasi. Apa jadinya kita tanpa mengenal deretan huruf yang indah itu? Percayalah, dunia kita akan terasa sempit. Bahkan ayat Qur’an pertama sekali yang turun adalah perintah membaca. Bacalah, bacalah, bacalah. Bagaimana mungkin kita akan bisa menulis jika tidak didahului dengan membaca. Maka sejatinya, menulis adalah titah Tuhan yang tersembunyi dalam perintah membaca yang disuratkan dalam Qur’an tersebut.

Zaman yang semakin canggih, perkara menulis bukanlah hal yang sulit dan hanya membutuhkan kemauan untuk memulianya. Berbekal sebuah gadget, dimanapun dan kapanpun kita bisa menulis, menulis apa yang dirasakan dan apa yang diketahui. Seseorang yang memiliki ruang dan waktu untuk menulis juga disebutkan oleh Ahli Psikolog, James Pennebaker, dapat membantu mereka menuangkan perasaan dan pikirannya sehingga tidak terpendam dalam hati. Sesuatu yang semakin banyak terpendam dalam hati akan menjadi beban bagi tubuh dan berdampak tidak baik bagi kesehatan dan kejiwaan seseorang.

Jika suara kita tak terjangkau untuk didengar, tapi tulisan kita akan dibaca. Kata yang terucap bisa lenyap, tapi tidak berlaku pada tulisan. Kata yang tercatat akan selalu diingat karena dia meninggalkan jejak berupa karya. Karya itu bisa menjadi senjata, menancap ke seluruh hati jutaan orang. Penulis boleh mati tetapi tidak untuk karyanya. Dia akan menjadi sejarah yang dibaca anak cucu nanti.

Coba bayangkan di era yang semakin tak tentu arah poros ini, berseliweran karya karya yang tak bertanggung jawab terhadap moral anak bangsa. Begitu banyak tulisan tidak bermoral, penuh kekerasan, pornografi dan semacamnya. Apa jadinya nasib anak bangsa ini ke depan, sanggupkah kita meninggalkan mereka dalam kondisi moral yang terdekadensi? Tentu tidak kan.

Mengutip dari pernyataan Sahabat Nabi, Ali bin Abi Thalib, tulislah sesuatu yang membahagiakan dirimu di akhirat nanti.

Menulis sesuatu yang baik adalah tugas kita semua. Tulisan yang berisi pesan kebaikan yang memberikan kebermanfaatan bagi orang banyak. Menulislah, karena di tangan kita ada nasib peradaban dunia. Kita harus membius jutaan orang dengan kebaikan dan perubahan melalui tulisan. Menulis itu tidak butuh bakat dan teknik, tapi konsistensi. Sama halnya dengan perihal menjahit, menulis adalah keterampilan. Semakin sering konsisten dengan berlatih maka akan semakin rapi. Menulislah mulai sekarang atau tidak sama sekali!

Rate this article!
Tags:
author

Author: 

One Response

  1. author

    Meilany Putri2 years ago

    Kerennya kak???
    Dududu?????

    Reply

Leave a Reply