SEGELAS AIR DINGIN

SEGELAS AIR DINGIN

Aku sengaja duduk di sudut restoran itu. Ada yang harus kusimak serius di poselku. Di sini agak tenang. Di sebelah kiriku membentang jendela kaca seluas dinding. Aku bisa melihat jalan raya di bawahku. Di sebelah kananku daerah dapur restoran sedangkan di depanku berjejer beberapa meja bundar dan banyak meja petak, dengan dua ukuran, kecil untuk dua orang dan besar untuk empat orang.

Dari tempat dudukku ini aku bisa melihat pengunjung keluar masuk. Umumnya adalah keluarga, bapak ibu dan anak. Ini Sabtu. Ada perempuan muda dengan teman sekantor mungkin. Teman perempuan. Ada sepasang muda mudi dewasa. Ada juga seorang solitaire, pemuda jangkung tampan, seumuran mahasiswa.

Di depanku, pada sebuah meja petak kecil untuk berdua, tiba tiba sudah duduk sepasang abege. Sang laki laki memunggungiku. Yang kutampak hanya wajah culun si remaja putri.

Aku kembali ke gadgetku. Sms iklan bertubi tubi. Aku selalu bersemangat untuk menghapusnya. Ting tong ting tong berbunyi, pertanda respon sibuk teman temanku dari beberapa grup WA.

“Mau pesan apa Mba?” tiba tiba seorang gadis muda bercelemek hijau sudah berdiri di dekat mejaku. Dia menyodorkan buku menu penuh warna. Aku selalu tertarik dengan warna hijau sayur. Kali ini pilihanku jatuh pada cah brokoli. Untuk lauk aku pesan cumi goreng. Cukup itu. Minum, nah, segelas air dingin. Waitress itu menuliskan permintaanku, mengulangi membaca tulisannya lalu berlalu dariku.

“Lisa lagi di mana?” tiba tiba pertanyaan seorang teman di telepon, begitu kujawab calling-nya.

“Biasa lah sedang menikmati weekend dengan brokoli. Ha ha ha…” aku tergelak.

“Apa kamu bilang!!!” tiba tiba aku mendengar remaja putri di depanku bersuara. Terdengar jelas olehku bahwa suara itu meninggi, menahan marah, walau di sekitarku agak ramai ditingkah bunyi wajan diketok ketok. Dia berusaha menundukkan wajahnya, melihat dekat ke wajah si laki laki, dengan gigi gemeretak. Tampaknya hanya aku yang merasa terusik dengan perbincangan pasangan itu. Ibu dengan balita di meja petak ukuran besar, dekat pasangan itu, sedang khusyuk menyuapi anaknya.

Si laki-laki tampak mengusap usap tangan si cewek. Bleh! Coba lihat apakah sang “permaisuri” bisa ditaklukkan. So far, wajah si wanita masih macam dompet ditekuk.

Datanglah waitress membawa pesanan mereka. Nasi goreng tampak masih memgepul. Lalu ada mangkuk berisi mie juga masih berasap. Teh botol dan terakhir segelas air dingin.

Baru saja waitress membalikkan badannya, tiba tiba wanita yang sedang naik darah itu menyiramkan air dingin di gelas ke wajah teman prianya. Spontan, terkena air dingin dia berdiri. Aku ikut ikutan berdiri. Kaget.

Orang orang di sekitar mereka menghentikan suapan, terpana. Dalam hitungan detik sang putri juga berdiri, menyapu segala yang dimeja. Prang!!! Lalu kabur. Mangkuk mie, piring nasi goreng, botol teh dan gelas air dingin, sendok garpu terbelah di lantai, bercampur dengan makanan yang berhamburan.

Sementara laki laki yang disiram air, masih butuh waktu beberapa detik untuk sadar, sampai akhirnya dia berjalan gontai sambil mengusap wajahnya yang basah. Dia masih sempat membayar di kasir.

Aku sudah kembali duduk. Untung yang disiramkan itu segelas air dingin. Coba kalau secangkir kopi atau teh panas mengepul.

Bandung, 6 Nov 2016
Lisa Tinaria

Rate this article!
SEGELAS AIR DINGIN,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: