Salahkah mengajari anak laki-laki memasak?

Memasak sangat identik sebagai pekerjaan perempuan, walaupun sebenarnya banyak sekali chef yang laki-laki, seperti yang sering kita lihat di tv itu. Dan, hebat-hebat pula mereka, masaknya jago-jago, bikin saya minder, hihihi. Tapi pada kebanyakan keluarga, tugas memasak memang masih dipegang oleh Ibu, bukan ayah. Ibulah yang menanak nasi, menyiapkan sarapan, memasak untuk makan siang, dan sebagainya. Kalaupun ada  waktunya  sang ayah ‘turun ke dapur’ mungkin hanya sesekali saja.

Alhamdulillah, bersyukur deh ibu-ibu yang memiliki suami yang rela turun ke dapur, karena banyak juga yang anti banget turun ke dapur karena menganggap dapur sebagai areanya wanita saja.

Padahal, memasak adalah salah satu life skill yang harus dimiliki oleh seseorang untuk sanggup hidup mandiri. Makanya, walaupun anak saya laki-laki, tetap saya libatkan dia untuk sekali-sekali ikut saya memasak.  Salah satu ‘iklan’ yang sering saya ulang adalah, “Rafa harus mau dan bisa memasak walaupun hanya yang simpel-simpel, karena mungkin qadarullah Bunda lagi sakit dan tidak kuat memasak, Rafa bisa bantu. Atau suatu saat Rafa mendapat kesempatan sekolah atau kuliah yang berjauhan dari Bunda dan harus tinggal sendiri, Rafa jadi mampu membuat makanan sendiri.”

Alhamdulillah, anaknya mau dan menganggapnya sebagai salah satu aktivitas yang menyenangkan. Dia pun tidak pernah merasa memasak sebagai kegiatan yang asing bagi laki-laki, karena ada contoh nyata yang dia lihat di rumah, yaitu ayahnya. Bisalah ayahnya untuk sekedar membuat makanan yang simpel-simpel seperti nasi goreng, atau waffle. Yaaah, walaupun penampakan dapur setelahnya jadi kacau balau, hihihi.

Aktivitas yang diijinkan dalam kegiatan memasak tentunya disesuaikan dengan tingkatan usia. Waktu masih kecil, bisa diajak untuk  suwir-suwir roti tawar, mengaduk dan membulatkan adonan sewaktu membuat bitterbalen, misalnya. Setelah lebih besar, sudah dibolehkan memotong-motong sayuran saat membuat salad dan mengocok adonan kue dengan mixer. Kalau sekarang sudah dibolehkan ‘berteman’ dengan wajan untuk menggoreng-goreng, dan mendapat porsi pekerjaan yang lebih banyak saat membuat kue yang simpel-simpel.

Ada kekhawatiran anak laki-laki akan berubah orientasi seksualnya kalau diajari memasak? InsyaaAllah tidak, jika sejak dini orangtua telah memberikan bimbingan yang jelas tentang perbedaan jenis kelamin dan peran masing-masing jenis kelamin kepada anak. Umumnya, sekitar usia 5 tahun seorang anak sudah dapat memahami jenis kelaminnya. Tentunya, sibukkan juga anak laki-laki untuk melakukan aktivitas-aktivitas khas gendernya, seperti bermain bola dan aktivitas fisik lainnya.

Selain sebagai salah satu life skill,  keterampilan hidup yang idealnya dimiliki oleh setiap orang, tidak hanya untuk gender tertentu, mengajak anak untuk melakukan kegiatan memasak juga memiliki beberapa manfaat lain sebagai berikut:

1. Sarana belajar Matematika

Kegiatan menakar ukuran, menambahkan atau mengalikan bahan-bahan yang diperlukan di dalam resep dapat menjadi sarana belajar matematika yang menyenangkan bagi anak.

2. Membantu anak untuk memahami tulisan dan suatu proses

Dengan belajar membaca resep dan langkah-langkah pembuatannya, anak sekaligus belajar memahami suatu tulisan sekaligus mengamati proses terciptanya suatu makanan.

3. Sarana belajar sains

Dari makanan yang keasinan karena terlalu banyak diberi garam, kemanisan karena terlalu banyak gula, menjadi gosong karena digoreng atau dipanggang terlalu lama, kita juga dapat menjadikan kegiatan memasak sebagai aktivitas belajar sains.

4. Meningkatkan ‘self esteem’ anak

Mempelajari suatu keterampilan seperti memasak dan membuat kue membantu meningkatkan rasa kepercayaan diri anak.

5. Membangun komunikasi orangtua dan anak

Suasana yang santai saat memasak, di saat orangtua dan anak saling membantu dalam menimbang bahan-bahan, mengaduk adonan, dan lain sebagainya, merupakan waktu ideal untuk saling berbagi dan bercerita.

6. Aktivitas yang menyenangkan

Memasak bersama adalah salah satu kegiatan menyenangkan dan kelak dapat menjadi salah satu kenangan positif yang layak untuk diingat.

Nah, dengan sekian banyak manfaat di atas, sangat sayang loh, kalau kita tidak mengenalkan aktivitas memasak kepada anak laki-laki kita.

author

Author: 

Leave a Reply