Saat Buah Hati Tak Kunjung Tiba

Saya tidak langsung mengandung setelah menikah. Ada jeda selama 3 tahun. Diawali dari ketidaksiapan untuk menerima titipan Alloh, berlanjut ke memasrahkan diri pada keputusanNya. Saya selalu mencoba untuk percaya bahwa indah bila waktunya tiba. Dan Alloh yang paling tahu apa yang terbaik untuk saya.

 

Saya ingin berbagi “ten must to do”, bagi pasangan yang belum dikaruniai anak, berdasarkan dari pengalaman saya sendiri, semoga bermanfaat.

 

  1. Percaya dan tingkatkan kedekatan kita pada Yang Maha Kuasa. Sebagai manusia beragama, tidak lepas dari aturan hidup. Dekatkan diri pada Illahi, rajin beribadah tanpa harus diingatkan. Sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing. Khususnya bagi muslim, kesempatan bagus untuk meningkatkan kualitas keimanan kita terutama di bulan Ramadhan ini. Bagus sekali memperbanyak tilawah, menargetkan khatam Quran. Menyalakan malam dengan shalat Tarawih dan juga Tahajud. Khusyuk mengharapkan keridhoanNya. Dengan sendiri akan meningkatkan keikhlasan kita untuk menerima apapun takdir-Nya.

 

  1. Jaga positive thinking. Selain menjaga positive thinking kita pada Alloh. Jagalah juga untuk selalu berpikiran positif terhadap sesama manusia. Sudah jadi hal yang lumrah, untuk pasangan yang sudah menikah, pasti akan menerima pertanyaan dari lingkungan sekitar : “Sudah punya anak belum?” Di Tahun pertama setelah menikah, mungkin pertanyaan itu masih bisa kita anggap biasa. Tapi bagaimana setelah tahun kedua, ketiga, bahkan ada yang sudah bertahun-tahun belum juga dikaruniai anak? Tentunya, hanya satu kalimat itu saja, sudah mampu mengiris hati. Apalagi bila diikuti nasehat dan ceramah panjang lebar setelahnya. Di situ kita anggap ujian ketegaran hati. Berpikiran positif, bahwa sebagian besar komentar, adalah hanya untuk mengetahui perkembangan keadaan kita. Misalnya karena sudah lama tidak bertemu. Dan beberapa memang murni peduli pada kita. Ingin berbagi pengalamannya masing-masing, misal punya kenalan dokter kandungan yang ahli sampai tukang urut. Berikan senyuman dan ucapkan terima kasih yang tulus. Bisa kita jadikan pertimbangan saran dari mereka.

 

  1. Tutup kuping untuk segala yang mengganggu. Mereka bukan pakar dalam hidup. Bagaimana dengan kata-kata yang sudah menyinggung hati? Yup. This is life! Sebaik apapun diri, pasti pernah meski sekali dalam hidup kita akan menemukan komentar miring yang tak enak didengar. Pertama, kita lihat dulu dari siapa komentar itu diberikan? Apakah dari orang terdekat kita sendiri, yang sudah mengenal kita lama? Apakah jika kita memberikan jawaban dapat membuat hati lega? Bila memang bukan dari orang yang dekat dengan kita, sudah, abaikan saja. Anggap angin lalu. Belum tentu esok, kita masih bertemu dengannya lagi. Tapi, bila memang kata-kata yang menyakitkan hati dari sahabat kita sendiri misalnya, siapapun berhak mengeluarkan pendapat. Begitu juga dengan diri kita, berhak untuk mengungkapkan perasaan kita. Bahwa kita tidak nyaman menerima komentar itu. Beranikan diri! Semua manusia itu sejajar. Tidak ada siapa yang lebih baik dari siapa.

 

  1. Saling menyemangati pasangan. Setelah menikah, bukan lagi aku atau kamu, melainkan kita. Ini sangat penting. Mengapa menikah dikatakan mencapai separuh dari agama. Karena perjuangan membangun cinta setelahnya bukanlah hal yang mudah. Terutama untuk pasangan yang belum dikaruniai keturunan. Perlu diingat-ingat kembali, alasan kita memilih pasangan. Terima apa adanya. Dan hal yang tak kalah pentingnya. Jangan menyalahkan pasangan. Bila hendak memeriksakan diri, periksa keduanya. Segala masalah yang ditempuh setelah menikah, adalah masalah bersama. Jadilah sahabat bagi pasangan masing-masing.

 

  1. Berpikiran terbuka saat terapi ke dokter kandungan Persiapkan diri sebelum bersama pasangan mendatangi dokter kandungan. Baik persiapan fisik maupun mental. Untuk persiapan fisik, bagi perempuan, akan sangat membantu dokter bila sudah mempunyai data diri, jadwal bulanannya. Karena biasanya itu yang ditanyakan saat akan terapi kesuburan. Biasakan melingkari tanda di kalender, setiap kali “datang bulan”. Untuk mengetahui siklus masing-masing. Dan untuk persiapan mental, kita harus siap apapun kemungkinan terburuk yang dikatakan dokter. Kita ikuti sebaik-baiknya langkah terapi yang ditawarkan. Tentunya dengan keputusan bersama. Keikhlasan diri juga pasangan.

 

  1. Tidak ada salahnya mencari second opinion. Sekiranya kita ingin mencari “second opinion”, tidak masalah. Ada banyak pilihan dokter. Kita cari rekomendasi yang tepat. Bagaimana jika kita ingin mencoba cara alternatif? Boleh-boleh saja. Setiap pasien kan mempunyai hak ingin memilih terapi yang bagaimana. Tentunya gali informasi dulu sebanyak-banyaknya. Terutama untuk jalur alternatif, apakah bisa dipercaya dan dijamin aman? Buka mata dan buka telinga.

 

  1. Nikmati hidupmu. Tetap jalani hari-harimu. Lakukan pekerjaanmu sebaik-baiknya. Sibukkan diri dengan berbagai aktivitas, asal ingat jangan sampai kelelahan. Yang terpenting juga, kenali diri sendiri. Cari tahu apa passionmu. Dan lakukanlah! Tentunya dengan persetujuan pasangan. Kita bisa ajak pasangan ikut serta, melakukan apa yang menjadi Passion-nya. Karena inilah yang akan membuat hidup jadi lebih hidup.

 

  1. Perbanyak sedekah. Anak adalah rezeki. Dan memperbanyak sedekah adalah jalan baik untuk membuka pintu rezeki. Lihat sekitar kita. Lihat ke bawah. Itu akan membuat kita jadi lebih mensyukuri hidup ini. Sisihkan apa yang kita miliki, sebagai bentuk rutinitas. Bisa mingguan, misalnya sedekah setiap Jumat. Atau bulanan, setiap habis gajian. Yang manapun asal konsisten, lebih baik daripada insidental. Dan jauh lebih baik daripada tidak pernah melakukan sama sekali.

 

  1. Berbuat baik pada orangtua, mertua, saudara kandung, keponakan, dan sesama manusia. Biasakan untuk selalu berbuat baik pada sesama. Tentukan nilai diri hingga mampu bermanfaat bagi orang lain. Orang yang paling merugi hidupnya, yang jika lingkungan lebih menyukai ketiadaannya daripada keberadaannya. Maka jadilah manusia yang kehadirannya senantiasa dirindukan sesama.  Lakukan kebaikan dengan ikhlas. Kita tak pernah tahu, kebaikan yang mana yang kemudian akan berbalik pada sendiri. Sama halnya, kita tak pernah tahu, doa siapa yang akan lebih cepat diijabah. Doa kita sendiri, atau mereka yang begitu berterimakasih pada kebaikan kita.

 

  1. Pepatah mengatakan “Rumput tetangga selalu lebih hijau”. Jangan membandingkan dirimu dengan orang lain. Ini penting! Setiap manusia mempunyai jalan hidupnya masing-masing. Mungkin dia yang kita anggap hidupnya sempurna, pasangan serasi, mudah dikaruniai anak, mempunyai ujiannya sendiri, yang bila masalah itu ditimpakan pada kita, belum tentu diri sanggup menjalani. Percayalah, Alloh Maha Adil. Semua sudah ada takarannya masing-masing. Fokus saja pada hidup kita sendiri. Usah membanding-bandingkan. Ingat juga, selalu ada langit di atas langit. Yang terpenting kita senantiasa berproses menjadi lebih baik setiap harinya, bandingkan dengan diri sendiri yang dulu.

 

“Alloh tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kemampuannya.“ (Q.S. Al-Baqarah : 286)

Rate this article!
author

Author: