Saat Allah Titipkan Amanah dalam Rahim Wanita

Memiliki anak yang menjadi amanah Allah, adalah sebuah kebanggaan yang menyempurnakan kodrat wanita sholihah dalam rumah tangganya. Namun bagaimana setelah amanah itu Allah berikan dalam rahimmu wahai wanita, apa yang harus engkau lakukan? Mampukah engkau menjaga dan bertanggung jawab setelah kelahirannya nanti?

Amanah adalah kata yang sering dikaitkan dengan kekuasaan dan materi. Namun sesungguhnya kata amanah tidak hanya terkait dengan urusan-urusan seperti itu. Secara syar’i, amanah bermakna.Amanah merupakan salah satu mandat atau tanggung jawab yang dititipkan kepada seseorang untuk menjalaninya dengan rasa tanggung jawab. amanah tidak melulu menyangkut urusan material dan hal-hal yang bersifat fisik. Kata-kata adalah amanah. Menunaikan hak Allah adalah amanah. Memperlakukan sesama insan secara baik adalah amanah. Apapun yang diberikan Allah Swt adalah amanah yang akan menjadi beban diakhirat nanti.

Anak dalam rahim seorang wanita itu adalah amanah, yang saat ini ingin saya bicarakan. Tak terbayangkan saat Allah menitipkan segumpal darah dalam rahimmu. Saat dokter pun membenarkan adanya kantung kehamilan dalam rahim. Dimulailah masa mendidik anak sejak anak masih berada dalam kandungan. Selain makanan yang dimakan sang ibu haruslah halal dan berkah, didikan secara fisik juga perlu dilakukan.

Kecerdasan seorang anak sudah bisa dirangsang ketika ia masih berada dalam kandungan ibunya. Secara umum, ada tiga aspek yang harus diperhatikan orang tua kepada sang anak ketika masih berada dalam kandungan. Yaitu, terpenuhinya kebutuhan kasih sayang, biomedis, dan rangsangan. Seorang ibu harus menerima kehamilannya dengan ikhlas dan tidak terpaksa. Sebab, jika kehamilannya terpaksa maka pertumbuhan bayi tidak akan optimal. Si ibu hamil harus siap dan dapat menerima risiko dari kehamilannya.

Menjaga kehamilanmu selama 9 bulan lebih. Menjadikan karunia amanah Allah sebagai rasa syukur yang akan berpengaruh pada kehamilan. Mengapa begitu? Dengan sikap syukur atas apa yang telah Allah berikan dalam rahim wanita, maka sang ibu dalam menghadapi kehamilannyapun akan lebih enjoy dan relaks. Seberat apapun keadaan masa kehamilannya. Semua bermuara dari rasa syukur.
Bayangkan, berapa banyak wanita yang ingin sekali hadirnya amanah itu dalam rahimnya, namun hingga belasan tahun belum juga kunjung diberi amanah.
Kalau sikap itu kita tumbuhkan, maka segala sikap negatif yang timbul dari kehamilan itu, tidak akan pernah ada. Berganti rasa sayang yang memang tumbuh seiring dengan membesarnya kehamilan. Menyiapkan segala apa yang akan dibutuhkan nanti saat sang bayi lahir nanti.

Melewati proses kehamilan dengan berdialog dengan sang bayi sebagai komunikasi awal ibu dan anak, mengajarkan pendidikan awal lewat perantara elusan tangan sang ibu dan suara terbaik yang jabang bayi dengarkan. Misalnya mendengarkan lantunan ayat suci, ucapan-ucapan yang baik dari ibu dan ayahnya untuk menjadi doa baginya.

Inshaallah hingga lahirnya nanti menjadi nutrisi yang baik dan bekal yang bayi kita terima secara alam bawah sadarnya. Apalagi dilanjutkan setelah bayi lahir, masa pendidikan terus berlanjut dengan baik. Saya yakin akan menjadi anak yang sholih atau sholihah kelak dia dewasa. Percayalah, saat Allah berikan amanah pada wanita sholihah dalam rahimnya, sesungguhnya Dia percaya kita mampu menjaga tanggung jawab amanah yang diberikanNya. Aamiin yra.

Tags:
author

Author: