RUMUS MEMENANGKAN GAME KEHIDUPAN

“ Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaanNya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu.”

(QS. Al-Hadid: 20)

Pernah main game gak? Game apa aja, mau yang online ataupun offline, mau yang terupdate sampe terjadul, mau yang modern sampai tradisional, semua game memiliki level atau tingkatan.  Semakin tinggi levelnya biasanya akan semakin berat tantangan yang diberikan. Tetapi tenang saja, namanya juga game, akan ada kesempatan lain jika kita gagal dalam level itu, kita bisa mengulanginya tepat setelahnya, atau saat menemukan strategi baru.

Pahamilah bahwa hidup kita pun seperti itu, level ujian hidup akan bertambah seiring bertambahnya tingkat keimanan kita. Namun, jangan putus asa dan memilih menjadi orang biasa-biasa saja ya… Atau kita akan menyesal karena nantinya tidak pernah benar-benar menyelesaikan permainan dan mendapat bonus terbaik. SO, NEVER GIVE UP.

Berbicara tentang permainan, dalam permainan tradisional lompat karet misalnya, pemain awalnya berusaha menyeberangi karet yang rendah, lama kelamaan ketinggian karet yang harus diseberangi bertambah. Nah, setiap pertambahan level dari permainan karet itu membutuhkan usaha kita yang semakin besar juga. Kadang ada saatnya kita gagal menyeberangi karet, tapi nantinya kita akan diberikan kesempatan lagi untuk mencoba menyeberanginya. Atau kadang kita telah selesaikan tantangannya, tapi kita memainkannya disaat yang lain. TERUSLAH MENCARI ILMU agar semakin banyak strategi yang bisa kita ciptakan dalam menyelesaikan segala permasalahan hidup kita.

Untuk memenangkan game kehidupan ini, rumusnya adalah 5 langkah ini:

  1. Mengingat janji

Ingatlah bahwa di awal penciptaan kita Allah telah mengambil kesaksian terhadap kita. Mari kita cermati firman Allah pada surah Al-A’raf : 172. “Dan ingatlah ketika Rabb mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari subli mereka dan Allah mengambil kesaksian itu terhadap mereka (seraya berfirman) Bukankah Aku ini Tuhanmu ? Mereka menjawab, Betul (Engkau Tuhan kami) kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap (Keesaan Tuhan).”

Ingatlah perjanjian kita, ingat juga janji kita dalam setiap shalat “Hanya kepada Engkau kami menyembah dan hanya kepada Engkau kami memohon pertolongan.” (Al-Fatihah : 5)

Mengingat janji kita kepada Allah akan membuat kita berhati-hati dalam mengambil langkah, agar bekal yang terkumpul hanyalah yang baik.

  1. Bersungguh-sungguh

Kesungguhan merupakan kunci keberhasilan. Orang yang baik, tetapi kurang sungguh-sungguh dapat dikalahkan dengan orang yang biasa saja tapi terus berusaha dengan penuh kesungguhan. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS Al ‘Ankabuut : 69).

  1. Merasa was-was

“Sesungguhnya Dia mengetahui yang terang dan yang tersembunyi.” (QS Al A’la, 87:7). Ayat ini menyiratkan kepada kita bahwa setiap perbuatan kita ada yang mengawasi. Dengan merasa diawasi, apa yang kita lakukan lebih terkontrol.

  1. Introspeksi diri

Umar bin Khattab berkata “Hisablah dirimu sebelum dihisab, timbanglah diri kita sebelum ditimbang. Sesungguhnya berintropeksi diri bagi kalian pada hari ini lebih ringan daripada hisab dikemudian hari.”

Terkadang, dalam melakukan sesuatu kita melakukan berbagai kesalahan, baik yang sengaja maupun tidak. Introspeksi sangat berguna untuk membawa kebaikan bagi kita. Kalupun ada keburukan yang telah kita lakukan, ingatlah bahwa Allah Maha Pengampun.

  1. Menghakimi diri

Ketika bersalah, jangan ragu untuk melaksanakan sanksi terhadap diri kita. Sanksi itu sebisa mungkin tidak ringan tetapi juga tidak memberatkan. Tujuannya adalah membuat jera diri kita, agar tidak lagi tertarik untuk mengulangi kesalahan.

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang palsu. Kehidupan ini hanyalah permainan, dan tidak abadi, ada masanya kita akan kembali pulang ke kampung halaman kita di negeri akhirat. Kita harus menyiapkan diri agar bisa memenangkan kehidupan ini dan memperoleh bonus terbaik di akhirat. Selamat menerapkan langkah ini, dan semoga sukses memenangkan game kehidupan ini, agar kita dibanjiri bonus di dunia, apalagi di akhirat. Wallahu’alam.

Rate this article!
Tags:

Leave a Reply