RUMAH GADANG OLIVE

RUMAH GADANG OLIVE*)

Sudah berapa ribu peristiwa hadir di rumah gadang itu, baik  yang mengalirkan air mata maupun yang meledakkan tawa. Beberapa dari peristiwa itu adalah peristiwa penting keluarga Koto. Penting? Ya, entah itu yang pantas disebut-sebut – baralek gadang [1] –  maupun yang ingin dilupakan – pertengkaran, intrik, bahkan kematian. Sudah berapa generasi lahir di bilik-bilik rumah gadang itu, atau sudah berapa orang hadir ke bumi ini dengan predikat “Orang Koto dari rumah gadang di Hilir”. Atau berapa banyak orang yang terpaut dengan rumah gadang itu – para pekerja sawah dan kebun,  pembersih halaman, asisten rumah tangga, bahkan para petandang.  Kesimpulannya, tak terhitung. Karena peristiwa yang melekat pada rumah gadang itu, maka dia lebih dari sekedar silangan kayu yang dikuatkan paku.

Uning bukanlah perempuan Minang yang lahir di rumah gadang. Tidak pula dia menghabiskan hidupnya di ruang-ruangnya. Peristiwa-peristiwa yang diketahuinya, sebagian besar tak dilaluinya, melainkan diceritakan oleh generasi di atasnya. Setiap cerita memberikan rasa tertentu di hatinya. Hangat. Semua cerita itu memberikan kesimpulan di kepala Uning bahwa rumah gadang yang gagah nan indah tersebut adalah tempat dia disebutkan berasal,  sekaligus tempat  dia akan dibaringkan terakhir kali nanti, dan yang paling utama, tempat kekerabatan bermula. Demikianlah Uning mengartikannya. sehingga rumah gadang itu lekat di hati, juga kepalanya.

“O, itu rumah gadang Nenekku” kata Uning terharu sekaligus bangga, ketika seorang teman menanyakan latar belakang DP yang dipajangnya di WA-nya.

“Wah, boleh dong suatu hari aku menginap di sana?” tanya sang teman  curiously.

“In sya Allah”,  Uning menjawab lirih.

Pikirannya menerawang jauh ke sebuah kampung berudara sejuk di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dirinya tak yakin bahwa keinginan temannya itu akan terwujud. Umur tak bisa berdusta, tentang apakah akan masih ada sebutan orang kampung tentang “rumah gadang Koto”, atau “rumah gadang Datuk Sati” . Kesenangannya menulis telah menghasilkan beberapa cerita kecil dengan latar belakang rumah gadang.  Waktu juga yang akan menghukum, apakah dirinya masih akan bisa bercerita tentang rumah gadang itu, suatu hari nanti.

Rumah gadang Koto mewakili kegagahan sekaligus kecantikan. Dia tampak berdiri tinggi – sendiri – di antara rumah – rumah kecil di sekitarnya. Pekarangannya yang luas dengan pohon kelapa yang melambai, dan beberapa pohon lain semakin menjadikannya solitaire. Dua kolam ikan – satu di depan dan satu di belakang – menunjukkan bahwa rumah itu adalah rumah dengan fasilitas. Ukiran menyelimuti seluruh dinding dan jendela depan, serta di singkok[2]. Warna dominan ukirannya merah dengan paduan hujau, coklat, hitam, dan kuning. Itu dulu. Sekarang warna itu tak terdefinisikan karena termakan waktu.

Uning pernah melihat sebuah foto tua seperti foto sepia yang menunjukkan  rumah gadang dari kejauhan. Di depan rumah gadang tak ada rumah tetangga. Gantinya  adalah sepetak besar sawah milik keluarga rumah gadang dan undakan sawah milik keluarga-keluarga di sekitar rumah gadang. Lebih di kejauhan adalah sebuah bukit kecil dengan hutan serta ladang milik penduduk desa. Dari undakan sawah itulah foto itu diambil. Rumah gadang terlihat mandiri tanpa halangan dengan latar depan petak-petak sawah. Akankah suatu hari dia bisa membuat lagi foto seperti itu?

Tahun 2013, di suatu malam, satu helai atap di beranda rumah gadang diterbangkan angin. Kala itu, seisi rumah gadang – termasuk Uning – tak bisa tidur menunggu redanya angin. Suara gemuruh terdengar di luar rumah gadang dan suara derak kayu rumah gadang, memaksa para penghuni untuk berbaring sambil berdzikir.  Mereka juga merasakan rumah gadang berayun, sebagai pertanda bahwa pasak-pasak mulai longgar. Beberapa hari kemudian, dari singkok di mudik (selatan), masuklah tampias hujan sehingga kamar di bawahnya basah. Singkok di hilir (utara) sama lapuknya. Tetapi karena angin yang datang berasal dari Gunung Talang yang terletak di selatan rumah gadang, maka air hujan masuk dari singkok di mudik.

Beberapa kayu berukir di dinding depan, sudah tanggal. Uning sempat menyimpannya sekeping seukuran kertas A4[3]. Entahlah, ingin saja dia mengoleksi kayu berukir berwarna kusam itu. “Mungkin  tahun depan aku tak berkesempatan lagi merasakan memiliki rumah ini” batinnya. Umur rumah yang memang udah tua, cuaca yang keras dan ancaman gempa, adalah faktor logis yang bisa (baca: terpaksa) diterima Uning.

Uning adalah generasi keempat yang sempat “bertemu” dengan rumah gadang itu. Rumah itu dibangun pada masa Nenek dari Mama Uning. “Rumah ini dibangun setelah gampo gadang (gempa besar). Aku masih gadis ketika itu”. Suatu hari Nenek Laily bercerita. Beliau adalah ibunda kandung dari Mama Uning. Rumah lama, berupa rumah panggung biasa, terbuat dari kayu, rubuh karena gempa. “Ketika itu aku lari lintang pukang keluar rumah melihat tiang rumah bergerak rebah”. Uning mencoba search dan menemukan bahwa gempa itu terjadi tahun 1926. Umur rumah gadang sekitar 90 tahun sekarang.

Nenek Laily menghabiskan masa mudanya di rumah itu. Setelah menikah, beliau pindah dari rumah gadang, mengikuti suaminya. Kakak Nenek Laily, Nenek Tinan, menghabiskan sebagian besar hidupnya berumahtangga di rumah gadang itu. Ada masanya Uning – ketika liburan – menikmati rumah gadang dengan Nenek Tinan : memasang lampu teplok menjelang maghrib, memasak kelepon di tungku kayu, minum air hangat berbau asap, mandi dengan air dingin di pancuran di depan rumah, dan duduk di dekat jendela di ruang makan belakang. Dia ingat Nenek Tinan ketika itu memasak lepat. Dia duduk di dapur mengawasi Nenek Tinan membungkus lepat pisang. Setelah lepat itu masak, dia memakan lepat itu sambil duduk di kursi dekat jendela, sambil melihat orang-orang melintas pekarangan rumah gadang menuju pancuran. Semua peristiwa masa kecil itu  menjadi bahan justifikasi bagi Uning bahwa dirinya mempunyai sebuah asal usul. Dia memiliki sebuah tempat yang disebut kampung. Lebih khusus lagi dia berasal dari sebuah rumah gadang.

“Ah males. Mobil bisnya itu lho”  itu alasan Nurul, adik Uning pada suatu lebaran, ketika Uning mengajaknya pulang ke kampung. “Mau ketemu siapa di sana? Nggak nyambung aku kalau ngomong sama orang sana” alasannya di lain lebaran.  Sebaliknya, Uning selalu punya alasan untuk melihat kampungnya. Segala sesuatu yang melekat dengan rumah itu selalu membuatnya trenyuh. Termasuk semak belukar setinggi paha di sekeliling rumah gadang, yang dilihatnya ketika pulang terakhir.

Sekarang rumah gadang dihuni oleh adik Uning yang lain – Yanti – dan keluarganya. Olive dan Avi keponakannya adalah juga alasan lain – selain semak dan pohon-pohon di pekarangan rumah gadang – dia ingin mendatangi rumah gadang. Banyak peristiwa terjadi empat tahun terakhir, yang terlalu berat untuk diceritakan. Sehingga, sayang, Uning hanya bisa berdiri di pekarangan. “Sekedar melihat pun – dari luar – tak apalah” batin Uning. Kerinduannya pada ruang dan bilik rumah gadang juga pada keponakannya dipaksakan diredam. Tak terdengar suara jernih Olive, keponakan laki-lakinya. Tak juga lincahnya jalan Avi. Kemana mereka?

__________________

Uning menyobek sampul surat ukuran kecil yang biasa dipakai untuk mengamplopi uang untuk  kondangan. Warna putihnya , kata teman Uning “putih tua”; lusuh plus lecek. Tidak ada alamat di bagian belakang amplop. Dari siapa?  Selembar kertas ukuran buku tulis yang biasa dipakai anak SD dikeluarkannya dari amplop itu. Bekas sobekan dari buku menghiasi pinggir kertas. Di kertas itu terdapat tulisan agak besar- besar, dengan style keriting, ditulis oleh seseorang yang baru belajar menulis.  Uning tersenyum melihat tulisan yang harus dieja itu.

Uwo sayang.

Assalamualaikumwarahmatullahwabarakatu (kata ini disambung, sehingga menyita satu baris dari tepi kiri hingga tepi kanan kertas). Kapan Uwo pulang? Olive sudah kelas dua. Rumah gadang bocor dan lantai dapur berlubang.  Itu saja ya Uwo.  Olive minta tas  batman.

Olive (dianggap sebagai tanda tangan, berupa huruf dengan ukuran lebih besar).

Uning membaca surat itu sekali lagi. Olive, kalau dikatakan sebagai anaknya, siapa pun akan percaya. Keduanya mempunyai garis kesamaan di wajah. Rindu terasa mengiris dada Uning. Keponakannya yang satu ini, sudah bisa diajak berbicara layaknya teman. Uning teringat ketika keduanya berdiskusi tentang belalai eskavator pada gambar yang dibuat Uning.  Sekarang kerinduan itu diembeli pemahaman lain. Dirinya dan Olive juga Avi, berasal dari tempat yang sama yaitu Rumah Gadang Koto di Hilir. Avi, sebagai generasi perempuan ke lima, menjadi sebab bahwa rumah gadang itu masih ada karena orang rumah gadang Koto tidak disebut punah[4]. “Siapa yang akan  menghuni rumah gadang?“ tanya kami sesama orang rumah gadang Koto, ketika Yanti tidak juga beranak perempuan. Semuanya terjawab ketika Avi lahir.   “Apakah Olive dan Avi masih bisa melihat rumah gadang itu ketika sudah dewasa nanti?” Uning mengeluh.

Apakah Yanti yang mendiktekan surat yang ditulis Olive? Surat itu lengkap dengan titik, huruf besar dan huruf kecil yang teratur. Tambah lagi, apakah Olive mampu memahami masalah atap bocor, serta pintu, jendela, lantai dan dinding lapuk? Uning berharap bahwa kemarahan adiknya itu – Bunda Olive – kepada dirinya, tak berlarut-larut. Rumah gadang itu bisa mempertautkan kembali hati keduanya.

“Uning, rumah gadang kita semakin  lapuk. Singkok di hilir sudah diterbangkan angin pula. Lantai dapur sudah harus diganti. Dinding berukir, juga.” Suara di ujung telepong itu berhenti sejenak. Oom-nya yang disebut Datuk Sati, dan dirinya sedang berdiskusi tentang parahnya kondisi rumah gadang. “ Tampaknya biayanya sangat besar. Perbaikan kecil-kecil selama ini sudah dilakukan, tetapi yang mendesak saat ini justru perbaikan yang membutuhkan dana besar”.

Rumah gadang itu selalu lekat di hati juga kepalanya. Berkelebat beberapa lembaga – bahkan yang di luar negeri – yang mungkin bisa dihubungi. Mencari dana untuk perbaikan rumah gadang? Ingin rasanya Uning menjawab segera surat yang diantar Pak Pos barusan. Tetapi apa yang hendak dikatakannya. Segala soal bocor dan lapuk belum terjawab.

Bandung, 31 Juli 2016

Lisa Tinaria

[1] Kenduri besar

[2] Singkok adalah daerah seperti segitiga yang berada di bawah atap yang menjulang seperti tanduk.

[3] Ukiran rumah gadang dibuat pada kepingan papan, besar dan kecil. Papan tersebut kemudian disusun dan dipakukan pada rangka dinding.

[4] Suku Minangkabau menganut garis keturunan matrilineal. Property milik kaum/clan,  termasuk rumah gadang, diturunkan melalui garis anak perempuan.

*) Juara Cerpen PT Pos Indonesia (Persero) 2016 Tingkat Kantor Pusat.

Rate this article!
RUMAH GADANG OLIVE,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply