RUMAH

RUMAH

Aku duduk di atas kasur yang dipajang di toko perabot itu. Tanganku menekan- nekan kasur untuk menilai kelembutan atau malah tingkat kekerasannya. Temanku yang menemani ikut duduk di sampingku sambil senyam senyum.

“Saya suka kasur yang keras”, kataku kepada Mba pramuniaga yang ramah.

Dia berusaha melayaniku sebaik mungkin. Beberapa brosur ditunjukkannya kepadaku.

“Ini diskon 40%”, dia menunjuk sebuah gambar tempat tidur pada brosur sebuah merek kelas atas. Walau sudah didiskon aku tetap tak sanggup membelinya.

“Ini diskon juga. Hhmm…45%”. Dia memainkan kalkulatornya lalu menyebut sebuah angka. Aku mesam mesem mendengarnya, alias takut mendengarnya.

Eh, koq didiskon semua ya. Malah diskonnya besar. Kapan tidak diskon? Aku mulai berpikir nakal.

“Mba, maaf, saya belum jadi beli”, kataku akhirnya di sela-sela penawaran si Mba pramuniaga yang semakin gencar. Membeli kasur berbeda dengan membeli tempe. Aku putuskan untuk mencari harga bandingan, dengan satu merek di kepala.

“Eh, kita sambil melihat gorden yuk”, kataku pada Fitri.

Kami berdua sedang hunting barang-barang keperluan rumah tangga. Alhamdulillah kami berdua akan pindah dari tempat kos kami, ke rumah masing-masing dalam waktu dekat. Kami berdua saling berbagi info tentang diskon, tempat belanja yang menguntungkan, termasuk daftar prioritas. Kasur dan gorden adalah dua prioritas utama.

Senang dan stress bercampur dalam kehidupanku seminggu terakhir setelah akad kredit. MasyaAllah aku akhirnya punya rumah sendiri. Aku bisa menyebutkannya ke teman-teman akrabku “rumahku”. Aku sudah memperkenalkan seperti ini “Datang ya ke rumahku di jalan… Nanti kubuatkan rendang”. Kepada sohibku di luar kota aku sampaikan “Kapan menginap di rumahku?” MasyaAllah. Di sela-sela excited mencari barang-barang kebutuhan rumah tangga, angka di rekeningku membayangiku. Harga ini ditambah harga itu, lalu…? Aku cukup garuk-garuk kepala menyadari bahwa skala prioritas adalah jawaban dari episode belanja ini.

Aku juga tipikal perencana dalam hal waktu.

“Bibik, minggu depan saya akan pindah ke rumah sendiri”. Bibik yang akan menjemur pakaian ke lantai tiga, kuberhentikan sebentar.

Seperti biasa Bibik selalu tersenyum di setiap ucapannya. “Bibik bisa bantu saya pindahan? Hari Sabtu atau hari Minggu?”

“Waduh, Bibik jadi kehilangan teman”, wajahnya tampak agak bengong.

Deal terjadi, weekend ini, Bibik akan membantuku pindah sekaligus membersihkan rumah “baruku” yang sudah dipakai 27 tahun oleh pemilik sebelumnya.

Sehari sejak hari akad minggu lalu, aku sudah menyusun rencana. Penjual rumah minta waktu satu minggu untuk membersihkan rumah dan melakukan perbaikan kecil. Aku setuju. Selama seminggu ini kerjaku membuat list belanja dan browsing harga, Dan, ini yang tak disangka-sangka “Ada rencana nggak kalau sebagian rumah Lisa disewakan?”. Maka sibuklah aku memikirkan lay out dan perbaikan yang harus dilakukan jika paviliun rumahku akan disewakan. Bahkan menjelang tidur malam pun, kepalaku tetap bekerja menghitung meter persegi ruang ini dan ruang itu.

Aku ingat sebuah artikel kesehatan bahwa pindah rumah adalah salah satu pemicu stress. Yang lebih menarik, stress tidak selalu identik dengan kesedihan. Rasa gembira pun bisa menimbulkan stress!

Hari Sabtu, bersama Fitri, aku sudah mendapat gambaran tentang perkiraan harga untuk gorden jendela depan di rumahku. Harga itu kami dapat di sebuah toko perabot besar. Beragam kualitas gorden tersedia dengan beragam harga. Namun Fitri dan aku berpikir untuk membandingkan harga gorden tersebut di toko lain.

Hunting gorden kurencanakan esoknya, hari Minggu. Namun itu harus ditunda karena hari sudah terlalu sore ketika temanku dan aku mengakhiri pembicaraan kami di sebuah tempat makan.

Dalam perjalanan pulang, aku melewati pameran wedding di Pusdai. “Jangan-jangan ada penjual gorden”, batinku. Gorden adalah juga kebutuhan pasangan baru, karena umumnya mereka mencari tempat tinggal baru.

Aku berkeliling santai di area pameran. Stand studio foto dan penjahit baju pengantin, mendominasi peserta pameran. Menyusul adalah pencetak kartu undangan, penjual cincin pernikahan dan penyedia catering. Para caterer itu menyediakan tester gratis untuk pengunjung stand mereka. Aku sempat mengintip beberapa menu yang disajikan di dua stand, tetapi kemudian berlalu mengarahkan kaki ke lorong lain.

Sampailah akhirnya aku terjungkal dan terduduk di lantai papan beralas karpet hitam. Kedua tungkaiku sakit. Napasku sesak menyadari bahwa “Aku terjatuh”. Di sekelilingku ada beberapa orang.

“Ibu bisa berdiri?”

“Sakit di bagian mana Bu?”

“Waduh, ini gimana panitia! Ini sudah korban yang ke sekian!”

Beberapa celoteh di sekitarku.

Aku berusaha menggerakkan kakiku. Tampaknya otak dan kakiku, tidak.connect. Aku mulai bingung.

“Bu tolong buka sepatu saya”. Logikaku, sepatu tali model santai itu menjadi penyebab kakiku tak bisa digerakkan. Seorang Ibu yang ikut mengerumuniku membantu melepas sepatuku.

Seorang laki laki muda berbadan tegap tiba-tiba bertindak.

“Ibu, maaf, saya gendong ya. Duduk di kursi”.

Tanpa menunggu jawabanku dia sudah mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di stand terdekat.

“Teh, ada minyak pijat nggak?” Handy talkynya yang sesekali berbunyi tak dihiraukannya. Dia mendapatkan minyak kayu putih dari seseorang.

“Bu maaf, atas kejadian ini. Kami panitia minta maaf. Beda lantai, yang sebenarnya tidak tinggi ini, ternyata sudah memakan korban beberapa orang”. Dia membuka botol minyak kayu putih.

“Boleh saya balur kaki Ibu dengan minyak kayu putih ini?”. Aku mengangguk saja tak bisa berpikir banyak. Aku duduk berselonjor dengan tungkai kaki ditaruh di kursi di depanku.

“Minum, minum, tolong carikan!”. Seorang Ibu berinisiatif dan akhirnya menyodorkan sebotol air kemasan kepadaku. Air itu kuhabiskan dalam sekejap. Tampaknya aku shock berat.

“Ibu masih pucat”, kata Ibu yang memberiku minum.

Selesai dibaluri minyak kayu putih aku ingin mencoba peruntunganku. Ya Allah, mudahkan. Alhamdulillah aku bisa berdiri. Aku mematut-matut kemampuanku dengan bergerak selangkah. Alhamdulillah, tetapi nyeri menyeruak dari daerah sekitar mata kaki kiriku mengarah ke betis, ketika aku menjejakkan kaki.

“Sudah bisa berjalan. Terima kasih ya”, kataku lirih.

Penolongku memandang khawatir ke kakiku. “Ibu yakin bisa berjalan?”

“In sya Allah bisa”. Aku bertekad pulang berjalan. Rumah kosku tidak jauh dari tempat ini. Kupikir berjalan pulang merupakan bagian dari latihan untuk kakiku.

“Hati-hati Bu”.

“Terima kasih”.

Aku berjalan tertatih. Di setiap langkah aku berpikir. Rasanya berat sekali menyelesaikan jarak sekitar tiga ratus meter ke rumah. Oh, ada trotoar yang berbeda ketinggian dengan tempatku berdiri. Aku mengurungkan niat menaikinya. Hari semakin gelap, menjelang magrib. Aku mencoba bergegas menyeberang jalan, tetapi hanya bisa memakai kata “mencoba”. Aku angkat tangan kananku tinggi, untuk memberi tanda pada kendaraan yang lewat.

Sebuah tantangan baru muncul ketika aku harus naik ke lantai dua rumah kos. Tangganya cukup curam dengan lebar tangga hanya cukup untuk satu orang. Tetapi railing tangga yang bisa kujangkau dengan tangan kiri dan kanan, cukup membantuku. Aku lebih bertumpu pada kedua tanganku. Satu, dua, lima, …akhirnya aku sampai di puncak tangga dengan selamat.

Aku duduk di tempat tidurku dengan merenung. Apa yang baru terjadi and what`s next? Sholat maghrib, aku teringat. Ya, sholat. Dengan kondisi kaki seperti ini aku putuskan untuk sholat duduk. Aku bertayamum karena aku takut ke kamar mandi, membayangkan kesulitan harus berjalan di lantai yang basah.

Selesai sholat pikiranku mulai agak terang. Terpikirlah untuk membersihkan diri karena aku cukup berkeringat gara-gara kesakitan. Aku coba berjalan ke kamar mandi. Intinya urusan kamar mandi selesai, termasuk urusan “ke belakang”.

Sebuah pikiran kemudian muncul: merendam kaki dengan air hangat dicampur garam. Dengan langkah satu-satu dan super hati-hati, aku berhasil menjerangkan air di kompor sampai menyajikan setengah ember air hangat di depan kursi di dekat dapur. Aku cemplungkan kakiku ke dalamnya. Alhamdulillah, terasa nyaman. Aku merendam kakiku sampai air terasa agak dingin.

Setelah itu aku sholat isya, lagi-lagi dengan duduk. Selesai sholat, aku mulai mengantuk. Posisi kaki yang sakit ketika berbaring, sempat pula menjadi pemikiran selama setengah jam pertama. Miring ke kiri, ke kanan, kaki ditaruh di atas bantal, tak ada yang nyaman. Ya Allah, mudahkan aku untuk tidur. Akhirnya aku terlelap setelah pasrah.

——

Aku memandangi kakiku tercinta. Bentuknya sekarang seperti guling yang dipaksa masuk ke dalam sepatu taliku. Gesper sepatu sudah aku setel maksimal tetapi dia tetap saja tampak terjepit. “Guling” itu terbungkus kaos kaki hitam yang aku pasang sambil meringis. Kalau kaos kaki itu dibuka, maka yang muncul seperti roti buaya baru keluar dari oven : mengilat, berwarna agak gelap – kehijauan – dengan jari-jari montok.

Aku memandang TV di ruangan tunggu dokter umum di klinik itu. Suara TV gaduh, dengan gambar menunjukkan beberapa pemuda berjikrak liar di panggung, meniru habis-habisan boy band dari Korea. Kaki mereka sangat lincah bermanuver ke kiri, ke kanan memutar, ke belakang, ditingkah gerakan tangan yang juga luar biasa cepat. Pokoknya kaki itu dipakai seoptimal-optimalnya demi mendapatkan nilai tinggi dari beberapa juri di depan panggung.

Aku melengos dari kotak bergambar itu dan memandang kakiku yang terjepit gesper sepatu. Terbersit rasa iri di hatiku terhadap anak muda gagah boy band itu. “Belum tahu dia kalau sudah seperti aku ini”.

Akhirnya setelah empat jam menunggu aku berhadapan dengan Pak Dokter.

“Ibu saya rujuk ke RS ya”. Itulah kesimpulan beliau setelah melihat “roti buaya”ku. Aku sempat menyampaikan kekhawatiranku sebelum Pak Dokter mengambil keputusan.

“Ya Dok. Ini sudah hari ketiga setelah kejadian dan bengkaknya tidak berkurang”.

Singkat cerita aku sampai di RS terdekat. Aku tertatih memasuki lobby RS. Dengan tergopoh-gopoh, seorang satpam mencarikan kursi roda untukku. Aku didorongnya ke depan loket BPJS.

“Ibu maaf, loket BPJS sudah tutup. Ibu bisa ke sini lagi besok. Jam 7.30 sudah buka”.

Apa boleh buat aku harus pulang. Kursi rodaku didorong kembali ke daerah drop off di depan lobby RS. Aku menunggu taksi di situ.

Tak lama kemudian, datanglah seorang perempuan muda mendorong stroller. Di atasnya duduk seorang anak laki-laki kecil. Wajahnya terkulai layu ke kanan. Tak tampak keceriaan di wajahnya yang tampan. Tak hanya itu. Kakinya juga aneh. Entah, apakah ini juga layu atau malah tegang. Kaki berbungkus celana panjang itu tampak lebih kecil dari yang biasa kulihat. Telapak kaki yang tertutup kaos kaki merah, menggantung dengan ujung jari meruncing ke bawah seperti jari kaki penari balet. Sang perempuan muda sibuk menelepon.

Tiba-tiba taksi yang kupesan sudah mendekat. Aku bangkit dari kursi rodaku menuju pintu taksi yang dibuka sang sopir dengan takzim.

Sambil berjalan lambat di depan sang Adek kecil aku berkata “Adek kecil sakit apa?”

Mata sang perempuan muda melihat tajam kepadaku tanpa menjawab. Aku sadar, pertanyaanku tak pantas.

Menjelang pintu kututup aku masih ingin menumpahkan perasaanku tentang “sesuatu”.

“Semoga Adek kecil, cepat sehat ya”, kataku dengan suara parau. Kali ini perempuan muda di belakang stroller menjawab “Terima kasih”, dengan senyum.

Aku masih ingin berceloteh tentang “sesuatu” kali ini kepada Pak Sopir taksi.

“Sesakit-sakitnya saya, lebih sakit Adek kecil itu”.

“Ya Bu”. Pak Sopir menjawab lirih, ditingkah suara ceramah agama di radio mobil.

Aku mengambil tisu kemudian mengusap air mataku yang tumpah.

Hari ini pelajaran untukku telak sekali. Lebih tepatnya teguran. Sebuah perasaan yang buruk – iri – langsung terbayar tunai. Aku sempat mempertanyakan kaki si boy band yang dipakai untuk kegiatan yang entahlah …Namun jawaban yang kudapat “Jalani saja. Bagaimana pun kondisi kakimu jauh lebih baik daripada keadaan kaki Adek kecil tadi”.

Pikiranku kembali ke soal rumah. Selama tiga hari sakit kaki, aku sempat khawatir tentang pindah rumah. Bagaimana cara berkemas di tempat kos dan membuka barang di rumahku? Ini belum dibeli, itu belum ada. Lagi-lagi terbayang gorden cantik yang sudah kutaksir.

Dengan air mata masih menetes aku menyimpulkan bahwa seharusnya aku tidak perlu khawatir tentang pindah rumah, seperti apa pun kondisi kakiku. Akan selalu ada pertolongan jika aku berpasrah kepada Sang Pemilik kakiku ini.

Bandung, 25 01 2017
Lisa Tinaria

Rate this article!
RUMAH,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: 

Leave a Reply