RENDANG KAYU

RENDANG KAYU

Perdu itu, ruku ruku. Demikian orang Minang menamainya. Baunya mirip kemangi, hanya lebih tajam. Aku membungkuk mematahkan beberapa rantingnya. Itu adalah bumbu wajib untuk salah satu masakan leluhurku, rendang.

Mentari belum lama beranjak dari tengah hari. Beberapa laki laki baru saja lewat di depan rumahku, pulang dari sholat Jumat. Punggungku hangat diterpa sinar yang datang condong dari arah barat. Halaman rumahku tanpa pepohonan sehingga matahari Bandung leluasa menyinari sang ruku ruku, juga aku. Jika aku membalik punggungku dan mengarahkan mukaku ke barat maka aku harus mengernyit. Entah dari mana pikiran itu, tiba tiba terlintas sebuah pertanyaan, “Apa yang biasa kulakukan di bawah panas tengah hari itu?” Terasa bahwa itu adalah sesuatu yang tidak biasa di sebuah tempat yang jarang pula kusinggahi. Bukankah pada jam itu aku biasanya duduk di mejaku di kantor atau di kantin, menghadapi makan siangku? Perasaan itu tiba.

Di bawah matahari yang sama, nun jauh di sana sedang apakah orang-orang di rumah itu? Aku mencoba mengingat kembali beberapa kebiasaan di rumah Papa. Selesai solat dzuhur, sepulang dari masjid, Papa biasanya makan siang. Beliau suka sekali makan di depan televisi di kamar. Ibu biasanya akan mondar mandir mengambilkan air minum, lauk yang kurang, nasi yang minta ditambah atau permintaan lainnya. Aku biasa makan di meja makan di ruang tengah bersama Ibu. Meja itu menghadap pintu yang terbuka ke arah halaman belakang. Terik jam satu siang akan tampak jelas dari tempat duduk kami. Bagian belakang rumah menghadap ke timur. Garangnya panas di halaman belakang itu berlawanan dengan suasana sejuk di meja makan.

Selesai makan, kami biasanya tidur siang. Bagiku itu adalah sebuah kemewahan liburan. Panasnya udara di halaman belakang itu menggodaku untuk keluar sejenak. Halaman itu tak terlalu luas. Yang mendominasi pemandangan di situ adalah jemuran yang bergelantungan milik keluarga kami juga milik para pengontrak rumah petak di halaman samping rumah Papa. Beberapa tanaman bumbu ada di tengah halaman belakang. Di tengah hari tanaman itu tampak lemas karena menantang matahari. Halaman belakang sebagian ditutupi batu kali kecil kecil. Jika aku akan mengambil jemuran maka aku akan melewati gemeretak batu itu karena kuinjak. Ya, mengangkat pakaian yang sudah kering, di rumah Papa, itulah yang kuingat ketika mengambil ruku ruku tadi.

Ruku ruku itu kucium. Aku memotong daun serai, dan membauinya. Kedua aroma itu mengingatkan kepada sesuatu yang lebih dalam. Lengkap sudah bumbu di tanganku, daun kunyit, kunyit, jahe, lengkuas dan daun jeruk purut. Aku tinggalkan halaman depan rumahku tempat aku berkebun ala kadarnya. Kumasuki rumahku, meninggalkan terik di halaman depan kemudian berpindah ingin merasakan terik yang lain seperti di halaman belakang rumah Papa, tetapi ini di rumahku sendiri. Aku ke belakang, ke lantai dua, tempat jemuran. Aku rasakan bau pakaian yang sama dengan bau yang kukenang di rumah Papa. Bau sengatan matahari yang segar.

Kembali kuhadapi bumbuku. Perasaan itu semakin menguat. Seharusnya bau itu menyiratkan keceriaan karena berkumpul, kemeriahan karena perayaan, dan kesibukan karena ritual memasak yang diada-adakan. Lebaran! Tampaknya itulah spesialisasiku, membuat rendang, jika pulang lebaran ke rumah Papa. Pernah suatu ketika, turun dari pesawat maka yang kutuju pertama adalah Pasar Simpang Haru, pasar tradisional di dekat rumah Papa. Barang bawaanku, dibawa pulang oleh Papa bersama taksi yang kami tumpangi dari bandara.

Namun tak ada segala hiruk pikuk itu, saat ini. Hanya aku di dapurku. Tak ada suara pengontrak rumah, seperti di Padang. Tak ada pula suara orang bergitar seperti biasa terdengar dari warung Aci di seberang rumah Papa. Sepi.

Memasak rendang itu muncul di kepalaku kemarin sore ketika masih di kantor. “Besok dimulai long weekend. Daging kurban pembagian dari masjid dekat rumah, sudah empat bulan lamanya mendekam di freezer. Dan, pertengahan minggu depan Tek Nur akan ke Bandung dan menginap di rumahku.” Paduan alasan yang serasi.

Aku melanjutkan menghitung bawang merah dan bawang putih untuk kira-kira sekilo lebih daging. Hanya ada bunyi gemerisik kulit bawang. O, ada suaranya orang lewat di depan rumahku, yang bisa kulihat dari dapurku. Selebihnya sunyi.

Seandainya Imon datang, dapurku mungkin agak lebih meriah. Beberapa minggu lalu dia berencana akan weekend di rumahku. “Mungkin akhir Januari, ” message-nya di WA. Tiga minggu berlalu, no news. Ini long weekend. Aku tak berani menanyakan hal itu. Mungkin dia sedang bersama teman backpacker-nya. Mungkin juga sedang terbang dengan teman sekantornya. For the sake of travelling photos, Imon adalah perencana liburan yang sejati. Dia sudah mempersiapkan setiap long weekend dengan well booked hotel and ticket. Seandainya dia ada di dapurku. Kelenjar air mataku mulai bereaksi, bukan karena bawang merah yang kukupas.

Santan sudah kujerangkan di atas kompor sejak tadi sebelum sholat dzuhur. Santan itu harus ‘tanak’ dan memakan waktu cukup lama. Kubiarkan santan menggelegak selama aku sholat. Kumasukkan pertama daun-daun. Wangi mulai menyeruak dari santan yang mendidih. Aku selalu hapal bau itu. Bau sebuah keluarga, bau kekerabatan.

Rendang juga yang meninggalkan memori yang kadang ingin kutepis.

“Ita, buatkan Uum rendang kayu,” adikku Uum sayang suatu hari meminta kepadaku. Sudah sejak balita bahkan sejak pandai bicara dia meminta makanan ini itu kepadaku untuk dibuatkan. Aku sudah berumur sebelas tahun ketika dia lahir. Memiliki adik baru, otomatis menjadikan aku pengasuh yang pencinta.

Ketika sudah dewasa pun Uum masih sering memintaku memasak makanan yang dia suka. Memasak untuknya menjadi momen yang super spesial bagiku ketika Uum sakit sangat berat. Kanker kolon beserta rentetan kemoterapi hampir menghabiskan keinginannya terhadap makanan. Satu satunya makanan favorit nya adalah sirup perasan jeruk nipis yang diberi gula dan es batu, dan diminum di tengah hari yang menyengat. Makanan lainnya, dengan sangat hati hati kutawarkan. Sering terjadi makanan yang kubawa ke hadapan hidungnya ditanggapi dengan melengos. Sampailah akhirnya permintaan rendang itu.

Rendang kayu adalah penamaan oleh Uum untuk rendang yang dimasak di tunggu kayu. Bau asap bakaran kayu memberikan wangi tersendiri pada rendang.

“Biar Uum yang bikin tungkunya di halaman belakang.” Uum dengan gerakan yang hati hati karena selesai menjalani operasi besar kolonostomi*), mencari potongan kayu di halaman depan rumah Papa. Aku membiarkan saja antusiasmenya itu. Kapan lagi dia akan merasakan indahnya kekerabatan di dunia dapur? Uum kemudian menyusun tiga buah batu kali cukup besar, di halaman belakang rumah.

Aku mempersiapkan segala bumbu, santan dan daging. Akhirnya bertengger juga sebuah wajan besi di atas tungku yang menyala. Isinya tak sampai setengah kilo daging. Hanya Uum yang berminat makanan itu, sehingga kumasak hanya untuknya. Itupun dengan catatan dia tidak bosan. Uum ikut mengipas bara api. Sesekali dia mengaduk isi kuali besi. Aku dan dia duduk di dingklik, berdekatan, berasap asap, di depan tungku rendang. Rendang yang mendekatkan. “Ritual” itu berlangsung cukup lama, sampai akhirnya tengah hari menjelang. Rendang itu selesai bersamaan dengan semakin garangnya panas di halaman belakang.

Semua bumbu sekarang sudah kumasukkan. Santan yang pekat menggelegak, yang berwarna kuning oranye, menyebarkan bau yang sempurna, yang semakin mengingatkanku kepada rumah di Padang. Semerbaknya me-recall beberapa memori, yang sebagian indah untuk dikenang, namun beberapa di antaranya masih kuupayakan untuk menolaknya.

Rendang di dapurku bukanlah rendang kayu sebagaimana yang disukai Uum sayang. Rendang di rumahku adalah rendang yang dibuat hanya dengan ditemani suara kulit bawang dikupas. Tak ada celoteh saling perintah di antara kami kakak beradik, ketika berlima sibuk berurusan dengan dapur. Namun aku sudah punya sebuah pola di sel abu-abuku, bahwa rendang artinya rumah yang nun di sana, lengkap dengan orang-orangnya.

Antapani Bandung, 16 02 2018
Lisa Tinaria

*) kolonostomi = operasi pengangkatan sebagian usus besar

Rate this article!
RENDANG KAYU,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: