Rekening Koran

Sekian tahun berkenalan dengan segala macem pinjaman, baru sekarang saya paham apa itu pinjaman yang berupa rekening koran. Hehehe. Ndeso. Ngga papa ndeso yang penting rejeki kutho.

Menurut definisi mbah gugel Pinjaman Rekening Koran (PRK) adalah kredit modal kerja jangka pendek, dimana penarikannya dapat dilakukan setiap saat tanpa pemberitahuan terlebih dahulu kepada pihak bank dengan mempergunakan warkat (Cek/Bilyet Giro).

Secara singkat kredit rekening koran itu seperti ini. Pengusaha mengajukan pinjaman rekening koran misalnya sebesar Rp. 500.000.000,00 dengan jaminan berupa sertifikat atau BPKB dengan jangka waktu 2 tahun. Setelah permohonan disetujui, bank akan mentransfer uang sebesar pinjaman ke rekening nasabah.

Nasabah akan mengambil dana tersebut disaat membutuhan dengan menggunakan cek sesuai dengan nominal yang dibutuhkan, sisanya biarkan mengendap di rekening. Selama masa kontrak itu, nasabah hanya wajib membayar bunga sesuai dengan dana yang terpakai saja. Dana yang masih mengendap di rekening (yang belum terpakai) tak perlu dibayar bunganya.

Setiap bulan, nasabah membayar bunganya saja. Pokok pinjaman nanti dibayar saat kontrak habis. Kalau saat kontrak habis ternyata nasabah belum punya uang untuk melunasi bagaimana? Yaaa kontraknya diperpanjang lagi. Gampang to? Penak to? Jarene sopooo. Uang yang dibayar oleh nasabah setiap bulan itu tak mengurangi pokok hutang sesen pun. Karena yang dibayar itu cuma bunganya thok. Horoook….

Maka berceritalah para pengusaha yang kebetulan ada suatu urusan pekerjaan dengan saya. Masing-masing saya tanyain satu-satu.

“Hutangnya berapa, Pak?”

“Dua ratus juta, Bu.”

“Sebulan cicilannya berapa?”

“Lima Juta, Bu.”

“Berapa tahun gitu, Pak nyicilnya?”

“Kontraknya mah 2 tahun, Bu. Nanti diperpanjang lagi diperpanjang lagi kalau belum punya uang.”

“Jadi selama 2 tahun setiap bulan nyicil lima juta itu, total 120 juta. Nanti pas nglunasi jadi berapa harus bayarnya, Pak?“

“Yaaa tetep dua ratus juta, Bu. Kan yang setiap bulan saya bayar itu Cuma bunganya doang, Bu.”

“Haaaaa…lima juta itu bunganya doaaang?” *ternganga.

Di saat yang lain, saat berbincang dengan juragan beras, saya lebih mlongo lagi. Hutangnya satu M. Dan bunga yang dibayar setiap bulan 13 juta saja. Dan itu sudah berlangsung bertahun-tahun. Kontraknya diperpanjang lagi dan lagi dan lagi. Karena saat kontrak selesai, juragan beras itu tak punya uang untuk melunasi kontraknya.

Lha nanti kalau makin lama makin lama hutang tak terbayar bagaimana? Yaaa terpaksa asetnya disita oleh bank. Sudah ada yang disita? Banyaaaak. Silakan saja lihat website KPKNL. Banyak rumah dan aset lainnya yang disita oleh bank dan dilelang dengan harga murah karena tak sanggup membayar hutang.

Tapi kan, pengusaha tanpa modal itu seperti aku tanpamu? Tsaaaah gombal. Modal itu bukan segalanya. Jangan terlalu mengandalkan modal. Bisnis itu modalnya jujur dan dapat dipercaya. Hehehe. Sudah banyak pengusaha yang gugur karena mengandalkan modal dari hutang riba. Kita jangan sampai seperti itu.

Banyak orang yang bersedia menjadi angel investor. Apa itu angel investor? Tunggu dalam tulisan saya selanjutnya. Hag hag hag.

Rate this article!
Rekening Koran,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: