Raja dan Dua Dunia

Oleh: Zul Fitrah Ramadhan

Pagi yang indah, suasana yang menampakkan gunung-gunung serta burung-burung Camar yang terbang dengan pola yang indah. Suasana yang sangat indah bahkan dapat menenangkan tubuh karena kesejukannya. Kerajaan dengan rakyatnya yang damai seolah-olah menyatu dengan ketenangan alam. Tapi tidak bagi Raja. Dia adalah raja yang paling kejam dari semua kerajaan. Tak ada yang berani menyapanya walaupun rakyatnya suka berdamai. Suatu hari, Raja membuat kebijakan baru yaitu pungutan pajak oleh siapapun tanpa terkecuali. Rakyat banyak yang protes. Tapi entah mengapa mereka seakan kaku ketika berhadapan dengan Raja. Semua mulutnya seolah-olah terkunci tak tahu apa yang akan dikatakan. Akhirnya rakyat pun mau tidak mau harus menuruti kebijakan Raja tersebut.

Matahari meninggi tanda siang sudah muncul. Raja beserta para pengawalnya hendak menagih pajak dengan rakyatnya. Tidak ada angin tidak ada hujan. Rakyatnya terasa tersambar petir saat Raja hendak datang. Banyak yang disiksa karena pajak tidak dibayar. Panas matahari yang menyengat seakan bersatu dengan suasana pada saat itu.

Rembulan telah menyambut langit. Raja ingin melihat-lihat sekitar istananya sambil mencari udara segar. Raja akhirnya sudah lelah hingga akhirnya berniat ingin tidur. Tapi belum selesai membalikkan badannya, Raja melihat melihat sebersik cahaya tepat di pojok istananya. Raja pun memutuskan untuk kesana. Sesampai Raja di cahaya itu, tubuhnya tertarik oleh cahaya itu. Raja akhirnya lenyap bersama cahaya itu.

***

“Ini di mana?” Raja membuka matanya setelah tidur semalaman di suatu kota. Tempat itu dipenuhi mobil-mobil yang berlalu-lalang serta bangunan tinggi yang entah Raja itu menyebutnya apa. Raja baru menyadari bahwa tempat ini bukanlah tempat kerajaannya.

Raja akhirnya memutuskan untuk mencari tempat beristirahat setelah berjam-jam berkeliling tempat yang menurutnya aneh ini. Hingga Raja menemukan sebuah tempat (baca: Restoran) dan Raja pun menuju ke sana. Raja duduk di salah satu kursi di pojok restoran tersebut. Kemudian datang pelayan hendak menunjukkan menu makanan di restoran— pastinya pelayan tersebut cengar-cengir melihat pakaian yang dikenakan Raja.

“Bapak mau pesan apa?” Pelayan menunjukkan menu kepada Raja.

“Apa-apaan ini? Saya bukan bapakmu, tapi saya ini raja!” Teriakan Raja sampai-sampai membuat pengunjung lain tertawa.

“Saya Cuma bertanya, Pak Raja. Mau pesan apa?” Balas pelayan yang mulai kebingungan.

Raja akhirnya memustuskan untuk melihat gambar-gambar yang ada di daftar menu itu. Raja bingung harus dia apakan gambar-gambar itu?. Raja menunjuk salah satu gambar di menu itu. Makanan pun segera datang menjemput Raja.  Raja merasakan sesuatu yang berbeda ketika hendak memakan makanan tersebut.

“Ini daging apa? Kok keras sekali?” Raja kebingungan sampai-sampai dia menarik-narik daging tersebut dengan gigi dan tangannya. Sebagian pengunjung memperhatikan lamat-lamat tingkah Raja yang sudah dibilang gila ini.

Selepas makan makanan yang menurut Raja ini tidak jelas, pelayan datang dengan membawa tagihan di loyannya.

“Ini Pak, Raja…tagihannya.” Pelayan menunjukkan bukti tagihan.

“APA-APAAN INI? SAYA RAJA… KENAPA KAMU MINTA UPETI SAMA SAYA?” Teriakan Raja sekali lagi membuat pengunjung lain tertawa.

“Ini bukan upeti, Pak..Bapak…eh…Raja…kan sudah makan di sini. Jadi harus bayar!” pelayan mulai menegur orang itu.

“SAYA TIDAK MAU!” Raja mulai menunjukkan wajah merah padamnya.

“SATPAM! ADA PENCURI!” Teriak pelayan hingga datang dua orang satpam di restoran itu.

Raja diseret oleh dua orang Satpam bertubuh tinggi besar ke luar restoran dan membuangnya begitu saja.

“KAMU BENAR-BENAR KURANG AJAR. PNGAWAL!            “ Teriak Raja memanggil pengawal – yang sebenarnya tidak ada di dunia ini.

Salah satu Satpam mengejek Raja dan tertawa terbahak-bahak.

Akhirnya Raja memutuskan untuk pergi dari tempat menyebalkan itu walaupun dengan tangan dan betis yang tergores – bekas seretan kedua Satpam tadi. Setelah Raja berkeliling mencari tempat peristirahatan, Raja melihat kumpulan pekerja buruh yang bekerja di salah satu bangunan yang masih belum utuh. Raja memutuskan menuju ke tempat itu. Dengan geram — Raja membentak pekerja itu.

“Mana upetimu?” Raja marah.

“Upeti apa?” Pekerja mulai bingung mendengar teguran Raja.

“Upeti untuk kerajaan ini, budak!” Raja meremas tangan.

Para pekerja sontak sebal mendengar ocehan Raja – mana ada pajak kerajaan? Yang ada pajak pembanguan, PPN, dan lainnya. Pekerja lantas menyeret Raja dengan kejam. Raja merasakan kesakitan bahkan dua kali sejak peristiwa tadi.

Raja meronta-ronta kesakitan, ditambah dengan kelelahan yang membuat Raja lemas. Raja memutuskan berkeliling sekaligus merasakan sedih karena baru kali ini dia diperlakukan seperti itu – lebih kejam mala dari Raja sendiri.

***

Siang berganti malam. Bulan menyambut langit dengan memancarkan sinar rembulan. Kesakitan yang dialami Raja akhirnya membuatnya tertidur di emperan depan sebuah ruko yang baru saja ditutup oleh pemiliknya. Hingga beberapa saat sebuah mobil mewah berwarna merah dengan model yang elegan tiba di depan ruko tersebut. Seseorang yang tampak dari jendela mobil itu menatap orang yang tidur di emperan itu. Keluarlah orang berbaju kameja berwarna putih dengan motif garis-garis vertikal dengan gaya rambut yang sederhana dan membangunkan orang yang tidur tadi. Seketika Raja langsung membuka matanya dan melihat lamat-lamat orang yang berada dihadapannya. Raja pun bangun dan duduk sambil melihat orang tadi.

“Saya Hasan. Kamu, kok, ada di sini?” Orang yang berbaju kameja putih garis-garis yang ternyata namanya Hasan itu melipat dahinya melihat Raja berada di tempat itu.

“Mari saya antar ke rumahku sekalian kita ngobrol di sana. Kan tidak enak kalau kita ngobrol di sini.” Hasan tertawa pelan mengulurkan tangannya kepada Raja dan menyilakan Raja masuk ke mobil tersebut.

***

Mobil mewah bermodel elegan tiba di depan rumah megah bertingkat – entah tingkat berapa yang pastinya rumah itu megah terlihat. Hasan mengajak Raja masuk ke rumahnya. Sebelum obrolan itu dimulai, Hasan menyuruh Raja untuk membersihkan badannya dan mengganti pakainnya – Hasan tidak memperhatikan pakaian yang dikenakan Raja.

Raja yang akhirnya selesai mandi dan mengganti pakaiannya beranjak duduk di sofa empuk bermotif bunga mawar sambil menatap sekitar ruangan ini. Baru pertama kali ia melihat ruangan seperti ini. Berbeda dengan kerajaannya yang memiliki nuansa klasik (sebenarnya di kerajaan itu memang belum modern). Hasan memulai obrolannya.

“eee, kamu siapa? Dan kenapa kamu berada di tempat itu?” Tanya Hasan sembari mengambil sepotong kue di dalam toples di atas meja.

“Saya … eee… “ Raja bingung harus bilang apa. Kan namanya saja tidak tahu, Cuma dipanggil Raja.

“Siapa?” Hasan mengernyitkan dahinya.

“Saya sebenarnya adalah Raja. Raja dari kerajaan. Mungkin letaknya jauh dari sini.” Ungkap Raja sambil bergetar.

“Raja? Mana ada kerajaan di negara ini? Saya kira kerajaan sudah runtuh beberapa abad yang lalu. Dan mengapa kamu berada di tempat itu?” Hasan menatap Raja serius.

“Sebenarnya saya tidak berada di dunia ini. Bahkan jauh sekali masanya dengan dunia ini. Setelah saya melihat cahaya yang berpilin di istana saya, saya mendekatinya lalu tubuh saya seolah-olah ada yang menarik. Sampailah saya di tempat ini.” Raja menundukkan pandangan seraya malu.

“Sudah kuduga…” Ungkap Hasan dalam hati. Sebenarnya Hasan lah yang membuat alat yang dapat memindahkan benda bahkan manusia ke dunia yang lai. Dengan dimensi yang berbeda malah. Alat itu bernama pintu penyebrangan. Ini tidak seperti terlihat seperti pintu biasa. Bentuknya.. entah bentuknya seperti apa karena wujudnya hanya berupa ‘cahaya’ saja. Bentuknya persis yang dikatakan oleh Raja. Berpilin. Menarik tubuhnya hingga sampai ke dunia (dimensi) ini. Dengan rasa menyesal, Hasan akhirnya menawarkan Raja untuk kembali pulang ke dunia – entah apa namanya, dunia atau dimensi, tapi sama saja lah. Raja akhirnya menuju ke ruangan tempat alat itu berada dan berhasil memindahkan Raja kembali ke asalnya.

***

Matahari kian meninggi. Persis menghadap ke wajah Raja yang tidur telentang di sawah. Raja mengusap-usap wajahnya dan menatap lamat-lamat keadaan sekitar. Kiranya Raja telah kembali ke kerajaannya. Raja melihat petani yang menanamkan benih padinya. Raja memutuskan menuju ke sana. Petani melihat Raja sambil gemetar memegang benih di tangannya. Semua malah menganga melihat Raja berada di hadapannya.

“Tolong jangan ganggu kami!.” Salah satu petani takut.

“Mari saya bantu.” Raja dengan senyuman ramah akhirnya membantu petani menanam benih di sawah. Petani bingung melihat Raja yang begitu riang hari ini. Bukankah kemarin dia sering marah-marah meminta upeti kepada rakyatnya.

Akhirnya semua riang menyambut Raja kembali ke istananya. Tanpa rasa takut dan canggung. Raja berubah seratus delapan puluh derajat. Berubah jadi ramah dan riang. Hingga seterusnya. Hingga kerajaan itu lenyap, digantikan oleh zaman.

***

Rate this article!
Raja dan Dua Dunia,5 / 5 ( 1votes )
Tags:
author

Author: