PULANG

PULANG

Beberapa hari ini, topik “pulang” atau “ingin pulang” melingkungi hatiku. Bukan lantaran long weekend. Bukan itu. Bukan pula pulang dalam arti harafiah.

Di sebuah sudut Menteng, long weekend yang lalu. Aku memerhatikan sekelompok orang yang duduk di meja di dekat jendela, di restoran sea food ini. Tampaknya mereka sebuah keluarga. Anak kecil, bapak ibu pasangan muda dan seorang wanita paruh baya menjadi anggota acara makan bersama itu. Betapa itu gambaran kesempurnaan sebuah keluarga. Keluarga yang menjadi alasan untuk pulang ke rumah.

——–

“Papa ingin melihat Alif kuliah”, Oom berkata lirih pada sepupuku Allan yang sudah menyandang ransel. Sudah sehari semalam Allan berada di rumah sakit ini untuk menemani sang Papa. Saatnya untuk berganti shift malam ini. Kedua beranak itu saling bertatap. Suara Oom disertai getar ketika menyebut nama sang cucu.

“Ada koq kakek yang sampai melihat cucunya menikah”, Allan berusaha menenangkan hati Papanya. Tangan sang Papa, Oomku memegang pangkal lengan Allan, seolah olah tak membiarkan pemilik lengan itu pergi.

Bahwa keluarga adalah pengikat cinta sehingga pulang menjadi bermakna dapat kulihat pada pamitnya Allan. Dia sudah beberapa hari meninggalkan anak dan istrinya karena dinas ke luar kota. Dari luar kota dia langsung ke RS menunggui Papanya, dan tidak sempat pulang ke rumah. Pada sisi lain aku melihat bahwa keluarga juga yang memberi makna lebih kompleks pada “pulang” jenis lain.

“Pada akhirnya kita harus menerima ketetapan Allah” kudengar kalimat itu tadi dari mulut Oom. Suara itu tegas dan jelas, bahwa Oom sudah memperhitungkan sesuatu terkait sakit pinggang yang sangat dan BAB berdarah hitam yang menyebabkan beliau harus dirumahdirumahsakitkan oleh anak Beliau.

Hari Kamis di mushalla kantor.

“Bu Lisa, aku tinggal setahun lagi”. Bu Lis dan aku bertemu di mushalla saat dhuha.

Aku otomatis mencermati wajahnya.
“Wajah Ibu tidak menunjukkan kalau Ibu bakal pensiun” kataku jujur sambil tersenyum.

“Aku ingin semua ini cepat selesai”. Beliau yang terhitung seniorku, banyak berkutat di dunia keuangan dan terkenal dengan tingkat kedisiplinannya. Volume kerja dan perjuangan menegakkan SOP, bisa jadi menimbulkan kelelahan mental tersendiri. Itu aku alami juga.
“Aku ingin memulai kehidupan yang baru. Lebih banyak mengkaji agama. Lebih ingin mempersiapkan diri untuk kehidupan nanti”.

Aku diam sejenak. Betapa hari ini aku memperoleh pelajaran sangat berharga: persiapan pulang.

“Aku takut menghadapi itu. Bagaimana itu, kematian”. Kami berdua saling memandang

“Bu, kata ustadz Wawan, yang perlu kita takutkan adalah jika mati dalam.keadaan buruk”. Kalimat itu melucur begitu saja dari mulutku. Bukan karena aku ahli al Quran atau ahli hadist, namun lebih karena aku sendiri harus menguatkan diri sehubungan dengan “pulang” itu. Kalimat itu lebih tepat untuk diriku.

“Kita tidak tahu umur”. Itu kalimat pamungkas beliau sebagai penutup pembicaraan kami di mushalla yang berukuran dua meter kali dua setengah meter.

Aku memegang keningku yang agak hangat dan menimbulkan rasa berat ketika sujud tadi. Tidak, tidak hanya sujud hari ini! Sakit kepala ini sudah sejak kemarin. Dan aku tahu ini terjadi karena sesuatu yang aku harapanku tidak menjadi kenyataan. “Seharusnya aku berserah kepada Engkau ya Allah”. Aku merasa terpojok. Ingat dengan kata “persiapan” yang disampaikan bu Lis tadi. Bahwa persiapan harus sampai kepada hal-hal kecil – sikap kepasrahan setelah upaya – yang diterapkan sampai minute by minute. Kepalaku tambah sakit menyadari “minute by minute” itu. Ingin rasanya aku menangis.

Lain waktu, pembicaraan dengan rekan kerjaku.

“Gimana ya, saya ingin kalau pensiun tinggal di daerah yang tenang, jauh dari hiruk pikuk seperti Bandung”. Temanku berhenti sebentar, menerawang. “Semarang atau Yogya atau… cocok tampaknya. Jenuh rasanya dengan kehidupan sekarang”.

Pesan yang kutangkap tetaplah ingin berpindah dari suatu kehidupan ke kehidupan lain yang lebih tenang, “slow pace of life”, meninggalkan segala grusa grusu.

“Tetapi suami saya tidak setuju” jawabnya sendiri atas keinginannya. “Anak anak, katanya sekolah di Bandung”.

“Tampaknya tubuh kita otomatis menyukai pemandangan hijau pepohonan, hamparan sawah dan rerumputan, gemericik air mengalir di sungai yang bersih, birunya langit dan lautan. Buktinya banyak orang ingin berlibur untuk mencari suasana kembali ke alam”. Seorang teman lain bercerita tentang liburan ke sebuah desa.

Aku jadi berpikir tentang ungkapan dalam Al Quran yaitu “jannah” yang arti harafiahnya adalah kebun. Tentulah itu kebun yang sangat indah, yang salah satu keindahannya dipertegas dengan sungai yang mengalir. Jika tempat pulang sedemikian nyaman, setiap diri mestinya berorientasi untuk “pulang”.

Dalam perjalanan Bandung – Jakarta yang lancar.

“Saya berpikir, apa ya Bu, yang bisa saya jadikan tabungan, semacam persiapan, begitu, untuk nanti”. Kami sedang berdiskusi tentang amal sosial sebagai pengejawantahan amal pribadi. Bahasa lain, hablu minallah yang kemudian harus dibuktikan dengan hablu minannaas. Ada juga yang memberikan gambaran bahwa sholeh secara pribadi harus bisa dibuktikan dengan sholeh secara sosial.

Kami berdua akhirnya sepakat bahwa “persiapan” itu harus dipikirkan dan dilaksanakan. Yang lebih penting, persiapan untuk “pulang” tidaklah cukup dalam waktu setahun dua tahun. Dia adalah perjuangan sepanjang hayat dikandung badan.

Pemikiran tentang persiapan pulang, mudah mudahan timbul dari kecintaan kepada pulang itu sendiri. Kecintaan dalam arti kerinduan kepada Dzat yang ditemui di ketika pulang.

Sama maknanya dengan kejadian yang disampaikan temanku. “Aku sudah tidak pulang kampung karena sudah tidak ada yang dilihat. Kedua orang tuaku sudah meninggal”.

—–

Aku mengakhiri makan malam di restoran seafood ini. Kupandangi keluarga gembira yang mulai berjalan meninggalkan ruangan besar restoran. Keluarga itu mungkin merencanakan pulang ke rumah, beristirahat setelah berkegiatan di luar.

Aku memandang arlojiku. Hampir jam setengah sembilan malam. Aku sedang menunggu mobil travel yang akan membawaku pulang ke Bandung. Seharian ini aku pulang pergi Bandung-Jakarta untuk membezoek Oom. Sekarang aku sama dengan keluarga itu, dalam perjalanan pulang.

Apakah aku akan “pulang” dalam perjalanan ini? Ya Allah cicipi aku husnul khatimah itu.

Bandung, 31 Desember 2016
Sebuah kontemplasi – Lisa Tinaria

Rate this article!
PULANG,5 / 5 ( 1votes )
author

Author: