Proses Menulis dengan Bekal Berdaya

Menulis merupakan kegiatan kreatif positif yang bisa dilakukan oleh siapa saja tanpa batasan usia. Bagi seorang penulis, merangkai kata menjadi sebuah kalimat merupakan seni mengekspresikan diri untuk berbagi pengalaman atau pemikiran. Selain itu, menulis juga bermanfaat untuk terapi baik untuk memperbaiki kesehatan fisik maupun mental. Menulis tidak asal menulis. Seseorang yang memahami segala tindakan ada pertanggungjawabannya di hadapan Allah, ia tidak akan melakukan tindakan ceroboh dengan menulis sembarang, seperti: tulisan menyesatkan, tulisan sekedar duniawi, tulisan yang memuat pendapat sesuai pendapatan, dsb.

Menulis merupakan alternatif dalam proses ‘memberi atau berbagi’ manfaat kebaikan kepada orang lain. Untuk itu perlu memantaskan diri agar bisa menulis berdaya. Seorang penulis berdaya akan berproses mengaktualisasikan tulisannya sebagai bentuk ekspresi diri setelah memantaskan diri, agar sesuai dengan apa yang dituliskannya. Berbagi adalah hal sangat membahagiakan. Bisa memberi manfaat kebaikan untuk banyak orang adalah hal sangat membahagiakan. Dan menulis adalah bagian dari sangat membahagiakan saat tulisan itu inspiratif serta bisa memberi manfaat kebaikan bagi banyak orang. Dimotivasikan sebagai ladang amal—dakwah bil qolam dan jihadul kalimah—maka menulis itu sarana berbagi inspirasi mencerahkan bagi pembacanya.

Menurut Karen Baiki, seorang clinical psychologist dari University of New South Wales, menulis yang ekspresif akan meningkatkan kadar stress, suasana hati yang negatif, gejala-gejala fisik, serta penurunan suasana hati yang positif di tahap awal. Tapi banyak studi telah menemukan bukti berupa manfaat terapi menulis untuk kesehatan dalam jangka panjang. Dalam proses kreatif menulis, semua daya otak terasah sehingga otak kiri yang berkaitan dengan rasional dan analisis, serta otak kanan yang bebas berimajinasi dan mengintuisi, saling terstimulus dengan lebih baik.

Biasanya gairah menulis muncul karena ketertarikan pada suatu hal yang mengusik hati dan pikiran. Dibutuhkan wawasan memadai sebagai pengembangan imajinasi kita ketika sebuah tulisan ingin terlahir ‘tak biasa’. Wawasan penulis merupakan bahan dasar materi tulisan. Peta luas di dalam pikiran (mindmapping) juga didukung kemampuan menulis yang terasah dengan latihan berkesinambungan akan menentukan kualitas tulisan.

Sebagai permulaan, latihan menulis bisa dilakukan dengan mengamati gaya tulisan dari karya seorang penulis buku yang kita baca. Selanjutnya, biarkan tulisan mengalir kreatif sesuai acuan kaidah-kaidah tentang penulisan. Dalam tulisan fiksi (cerpen, novelet, novel, dst.) dibutuhkan pengetahuan tentang tema, amanat, alur, penokohan, latar, dan sudut pandang pengarang. Dalam tulisan non fiksi (artikel, essay, feature, berita, ringkasan, dst.) dibutuhkan pengetahuan tentang validasi data dengan 5W+1H (What, Who, When, Where, Why+How).

Telah ada metode standar pembelajaran menulis yang sangat penting untuk menjadi seorang penulis berdaya dan sudah diterapkan di sekolah-sekolah luar negeri, antara lain: 1. Prewriting (think and plan), 2. Drafting (write and draw), 3. Revising (make your writing better), 4. Editing (fix your mistakes), 5. Publishing (share your writing).

Betapa banyak teori-teori menulis dan hal-hal kepenulisan. Betapa banyak tantangan menulis yang menguji tekad lurus. Kita memilih dalam bagian dari penulis yang mampu menjawab berbagai penyimpangan di luar sana dengan karya tulisan positif, atau kita menulis suka-suka, atau kita cukup menjadi penonton, itu semua pilihan. Hanya nyali berdayalah yang akan mendorong lahirnya tulisan-tulisan berdaya, yaitu tulisan menarik yang terbagikan dan mampu memberi inspirasi kebaikan untuk pembacanya. Kita bisa karena kita memang berdaya.

 -Nashita Zayn-

Rate this article!
author

Author: