PR Bagi Orangtua, Guru dan Pemerhati Pendidikan

TAK SEKEDAR CERDAS
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah Swt. yang paling sempurna di antara makhluk-Nya yang lain.
Karena manusia tak hanya berfisik, tapi juga berpsikis. Manusia memiliki raga dan ruh.
Manusia juga dikaruniai otak oleh-Nya untuk tak sekedar berakal tapi berakal budi (berbudi pekerti) yang mampu membedakan, mana yang baik dan harus dilakukan serta mana yang buruk dan jangan dilakukan.
Sejak lahir di dunia, sesungguhnya manusia adalah makhluk yang suci, sesuai dengan fitrah-Nya. Seiring dengan perkembangan fisiknya, tumbuhlah ia menjadi manusia dewasa.
Namun terkadang kedewasaan fisiknya itu tak diiringi dengan kedewasaan psikisnya. Sehingga emosinya belum stabil dan pengendalian dirinya masih kurang.
Banyak faktor yang menjadi penyebabnya. Seperti pola asuh yang salah dalam keluarga, pengaruh negatif dalam pergaulan di lingkungannya di dunia nyata maupun dunia maya. Minimnya motivasi dan kesadaran dalam dirinya juga ikut berpengaruh.
Padahal kini semakin banyak pemuda dan pemudi yang cerdas secara intelektual, namun sayang sebagian darinya tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritualnya.
Sehingga kecerdasannya itu malah disalahgunakan untuk melakukan tindakan sia-sia dan negatif yang tidak dibenarkan baik oleh agama maupun hukum pemerintah karena merugikan orang lain dan menimbulkan keresahan dalam masyarakat.
Hal itu terbukti dengan makin beragamnya trik-trik dan modus penipuan, pencurian, korupsi, penculikan, bahkan perkosaan dan pembunuhan sebagaimana yang sering kita dengar dan perhatikan di media massa.
Semua perbuatan nista itu terjadi karena ketidakmampuan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsu dan emosinya demi memenuhi kepuasan semu dirinya sehingga berakibat mengalahkan akal sehatnya.
Akal budi para pelaku tersebut yang sejatinya secara fitrah bermuatan nilai budi pekerti yang luhurpun menjadi tak peka lagi. Pola hidup dan pemikirannya yang salah selama bertahun-tahun membentuk karakternya yang buruk meskipun mempunyai kecerdasan intelektual.
Di situlah berbahayanya orang yang cerdas tapi tak beretika/bermoral dan tak beragama. Sehingga meski dia berakal tapi malah untuk ‘ngakalin’ orang lain..
Biasanya mereka cenderung bertabiat licik, pandai bersandiwara dan bermulut manis untuk menutupi akal bulusnya.
Dengan ‘otak cemerlangnya’ mereka juga tega memanfaatkan bahkan mengadu domba teman atau saudaranya sendiri demi kepentingan pribadinya.
Maka menjadi PR untuk kita sebagai orangtua, guru dan pemerhati pendidikan.. Mari kita bersama-sama tak hanya mempersiapkan anak yang cerdas secara intelektual dan akademis. Namun bantu juga mereka untuk mengasah sisi emosional dan spiritualnya.
Selain penanaman nilai-nilai dasar agama dan pembiasaan ibadah, biasakan juga anak-anak kita untuk memiliki etika dan sikap-sikap sebagai berikut:
  • 1. Jujur.
    2. Santun dalam sikap dan ucapan
    3. Bertanggungjawab.
    4. Mempunyai kepedulian sosial.
    5. Rajin belajar, bekerja dan beribadah.
    6. Menjaga kehormatan.
    7. Suka menolong.
    8. Takut kepada Allah Swt.
Setiap hari sisihkan waktu sejenak untuk dapat berkomunikasi dengan anak. Berikan pelukan hangat untuk mereka. Agar jiwa dan hati mereka tidak gersang dan haus akan kasih sayang. Dengarkan curhat dan harapan-harapannya.
Maka kita dapat menjadi orangtua, dan guru yang lebih memahami dunia mereka. Serta lebih bisa mengerti apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya di masanya.
Dengan demikian, tak hanya minat dan bakat mereka yang menjadi terdukung dan tersalurkan secara positif. Namun lebih dari itu.. Jiwa mereka tak lagi hampa akan perhatian keluarga dan para pendidiknya.
Kesemuanya itu akan membuat mereka menjadi lebih percaya diri dan dapat membekali mereka dengan pondasi karakter mulia yang kokoh untuk menghadapi apapun godaan dan pengaruh lingkungan sekitarnya.
Sehingga anak-anak kita akan memiliki kemampuan dalam memanfaatkan segenap kecerdasannya untuk kebaikan dirinya dan demi kemaslahatan umat pada jalur yang positif tuk raih kesuksesan masa depan dirinya dan bangsanya.

Tags:
author

Author: 

Leave a Reply