PINTU PERTAMA PEMBUKA TAKDIR

“…Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui.”

(QS.Al-Baqarah:216)

Apa yang ada di pikiran kita pertama kali saat kita dihadapkan pada kondisi yang ‘buruk’? Seringnya kita mengeluhkan keadaan itu kan? Menganggap bahwa kita sedang menerima ujian paling berat dalam hidup? Benarkah itu hal buruk? Sebaliknya, apa yang akan kita pikirkan jika dihadapkan pada kondisi ‘baik’? Senang dan menikmati kesenangan? Menganggap kalo itu hadiah terindah dariNya? Padahal, malah jadi melalaikan kita dari amalan? Benarkah itu hal baik? Coba dibaca lagi deh surah Al-Baqarah ayat 216 di atas, renungkan juga maknanya.

Iya, terkadang keburukan yang hadir dalam hidup kita, justru adalah tanda kasih sayangnya. Nabi-nabi terdahulupun telah diuji, bahkan dengan ujian berat yang belum kita rasakan. Masa Allah gak sayang sama Nabi? Masih belum percaya kalo keburukan bisa jadi tanda sayang dari Allah? Coba deh, ingat-ingat kondisi yang kita rasa paling buruk, apakah saat menghadapi masalah itu kita makin rajin shalat, ngaji, dan ibadah lainnya? Doanya makin khusyuk sampe pakai nangis-nangis? Nah, itu yang saya maksud dengan tanda sayang Allah, Dia mau kita makin dekat denganNya makanya dikasih kondisi buruk. Saya jadi ingat perkataan seorang ustadz “Boleh jadi Allah mengambil kesenangan dunia kita, untuk mengembalikan kemenangan akhirat kita”. MasyaAllah.

Sementara, kadang kebaikan yang kita terima dalam hidup ini adalah ujian darinya. Kalau para Nabi diuji dengan penderitaan dunia, Qarun diuji dengan kecerdasan dan kegelimangan harta. Segala kelebihan yang dimiliki Qarun justru membuatnya sombong dan melupakan Allah, serta merendahkan orang lain. Dia menganggap apa yang diperolehnya itu hasil kerja kerasanya. Ini membuktikan bahwa kesenangan yang diterima bisa jadi bukan karunia atau hadiah hebat melainkan ujian untuk mengetahu Apakah kita bersyukur? Ataukah membuat kita lalai?

Saya pernah mengikuti sebuah pelatihan mengelola hati, trainernya mengatakan bahwa “Prasangka negatif kita ke Allah lebih diijabah dari do’a kita.” Awalnya saya mikir, masa sih? Ternyata gak salah lho, misalnya nih kita berdo’a ingin berhasil dalam bisnis yang kita jalani, tapi ternyata kita terus berprasangka ‘aku tidak akan mampu’, ‘bisnis orang lain lebih sukses’, dan pikiran negatif lainnya, maka itu akan terkirim bersama do’a kita bahkan lebih duluan sampai, Allah sesuai prasangka hamabNya kan? Jadi sebenarnya cara pikir dan sikap yang kita pilih adalah pintu pertama pembuka takdir Allah. Sudah siap berprasangka baik pada Allah?

Apapun itu, kebaikan atau keburukan sesungguhnya adalah hal baik tergantung bagaimana kita melihatnya, kacamata apa yang kita pakai untuk melihatnya. Saya teringat sebuah quote “Kejadian baik adalah pengalaman yang baik, Kejadian buruk adalah pelajaran yang baik.” Jadi, teruslah berpikir yang baik terhadap apapun yang terjadi agar bisa menemukan berkah bahkan dalam bencana sekalipun. Wallahu ‘alam.

Rate this article!
Tags: